SENYUM BANG ZAID [Tugas Menulis Cerpen Kelas 2 SMU]

“Jadi namamu Dian?”

“Dian Mulia.”

“Terima kasih telah menolong saya. Itu sangat membantu .Benar-benar membantu. Kalau tidak ada kamu pasti tas saya dan dokumen-dokumen penting ini hilang.”

Aku tersenyum kecil. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Terus terang aku membantunya tanpa sengaja. Awalnya malah tak berniat. Badanku luka – luka, memar pula. Mengejar pencopet bukan hobiku. Lagian, aku mengejar pencopet itu hanya karena ia tanpa sengaja melanggar sepeda bututku hingga masuk ke selokan.

“Ya.”

Akhirnya hanya kata itu yang dapat ku keluarkan.

“Sekarang kau mau kemana? Apa kau sedang ada urusan?”

“Tidak.” Aku menjawab singkat.

*****

 

Malam semakin memastikan kegelapannya di tengah hujan yang semakin menjadi. Angin berhembus mendirikan bulu kuduk orang – orang yang tinggal di perumahan “elit” ala tepian Sungai Indragiri. Membuat mereka semakin erat menarik selimut ke tubuh. Hingga akhirnya hanya dengkur lelah yang berjuang  menyaingi suara hujan.

Di sebuah rumah kayu yang berada di perumahan itu terlihat seorang wanita paruh baya mondar mandir mengelilingi rumahnya yang hanya sepetak, kecil. Wajah tuanya menyiratkan kegelisahan. Sesaat ia duduk di kursi kayu yang tak kalah usangnya dengan semua perabotan yang ada di ruangan itu.

Di sudut ruangan terbaring seorang laki – laki yang bertelanjang dada, hanya memakai celana jins yang sudah tinggal separohnya saja. Entah modelnya atau memang sengaja dipotong. Matanya terpejam.

Kamana adingmu Toh? Jam saini balum jua bulik.

Yang ditanya hanya diam. Merasa tak perlu memberi jawaban.

Inya kada’ suah bajalan salawas ini Toh ai. Cube pang di carii kaluluar satumat.Bilang kada nyaman banar hatiku mangganang.

“Dia sudah besar Mak. Bisa pulang sendiri.”

Tagengini sudah malam bener.

Laki-laki yang ternyata anak wanita paruh baya itu diam. Suasana kembali hening. Hujan semakin deras. Menampar keras dinding rumah yang terbuat dari kayu itu. Wanita paruh baya yang ada di rumah itu berdiri melihat laki – laki yang tadi diajaknya bicara tak bergeming. Bergerak ke arah kamar yang tak kalah kecil, mengambil payung. Lalu berjalan hendak membuka pintu yang hanya terkunci dengan palang kayu yang sudah mulai berlubang dimakan usia.

“Mamak mau kemana?”

Seakan merasa marah, wanita itu tak menjawab. Hanya diam sejenak, lalu melanjutkan langkahnya. Menghela nafas, laki – laki di sudut ruangan itu akhirnya membuka matanya. Berdiri dan berjalan ke arah wanita yang di panggilnya ‘Mamak’ itu.

“Aku yang pergi.”

Tanpa meminta persetujuan, laki – laki itu langsung mendahului membuka pintu hendak keluar. Di depan pintu ia berhenti. Sejenak tertegun. Lalu berbalik lagi tanpa berbicara sepatah kata pun. Wanita tua yang berada di dalam rumah itu pun melongo’kan wajahnya keluar pintu.

“Dian!!!”

*****

“Abang….”

Aku menarik tangan abangku. Muhammad Zaid. Ia masih meringkuk di balik selimut. Aku tahu ia marah padaku karena persoalan tadi malam. Aku memberanikan diri  mengajaknya bicara saat Mamak sudah tak ada di rumah. Mamakku bekerja di sebuah warung kopi di tepi pelabuhan Sungai Indragiri, tak begitu jauh dari rumahku. Ia berangkat pagi sekali, setelah shalat subuh.

“Abang, Dian tau Dian yang salah. Dian tak pulang tepat waktu. Tapi itu karena hujan. “

Ku tarik nafasku panjang. Aku percaya usahaku akan sia – sia saja. Abangku bukan seorang pemarah, tapi ia juga bukan orang yang bisa dengan mudah menerima sesuatu, termasuk kesalahanku ini. Aku yakin ia tak semarah ini padaku. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tak mau bicara padaku. Akhirnya ku putuskan untuk pergi saja. Mungkin nanti ia akan segera berubah.

Aku berdiri dan berbalik. Lalu masuk ke kamarku yang berada di sebelah ruangan tadi. Abangku tetap diam.

*****

“Sudahlah Dian, Aid pasti cuma menggertakmu”, Tias duduk di sebelahku sambil melipat sebelah kakinya. Khas gaya duduk orang-orang santai. “Aku tahu dia memang bukan orang yang bisa diajak bercanda,” Sambungnya sambil menyisir rambutnya yang meriap-riap tertiup angin pelabuhan. Ia teman abangku sejak masih SD dulu.

“Tapi aku memang tidak sedang bercanda. Aku pulang kemalaman. Hampir jam dua pagi tadi.”

Tias menatapku dengan bibir sebelah atas terangkat, wajahnya mengisyaratkan bahwa aku memang salah.

“Waw. Jam dua? Kau kemana?”, matanya berbinar menatapku.

Sekarang giliranku yang menarik bibir. Jelas sudah, aku salah mencari solusi. Tias memang tak berbakat membantu berpikir. Bagaimana tidak. Pulang jam dua dini hari bagi seorang gadis di tanggapinya dengan tatapan kagum. Aku yakin otaknya memang tak beres.

“Aku pulang.”

“Kenapa?”

“Aku tak mau tertular penyakitmu.”

Aku melangkah pergi. Tias menatapku bingung. “Aku sakit apa?”

*****

 

Kamu boleh sering – sering kesini. Saya akan senang dikunjungi teman sepertimu. Kamu tahu, tak banyak orang yang memiliki hati sebaik yang kamu miliki. Kamu hadir dengan hati yang tulus, menolong tanpa pamrih. Saya kagum.

Lucianna Gabriel.

Unik. Begitulah kesimpulanku terhadap wanita yang kemarin sore ku tolong. Ia asli Kota Tembilahan, Indragiri Hilir. Tapi namanya agak aneh. Setidaknya bagiku.  Ia wanita berumur 22 tahun, lima tahun lebih tua dariku.

“Jl. Swarna Bumi No. 27”, aku menatap sobekan kecil kertas yang kupegang dengan bingung. Itu adalah alamat Anna, orang yang ku tolong kemaren sore. Dia pesan supaya aku jangan sampai tak datang ke rumahnya, ia sampai menuliskan alamatnya segala, padahal aku sudah tahu alamatnya. Biar tidak lupa.Begitu katanya. Menurutku ia agak memaksa. Tapi tak apalah. Sepertinya ia tak bermaksud buruk. Dan aku yakin dia bukan orang jahat yang berniat menculikku. Menjadikanku tkw illegal, atau wanita…, uuppss…aku menghayal terlalu berlebihan. Mungkin dia memang senang mempunyai teman baru. Apalagi orang sepertiku. Yang imut dan… olala…, sifat narsisku jadi muncul.

Adzan Dzuhur berkumandang dari surau dekat rumahku. Sangat syahdu.  Di pelabuhan tempatku tinggal memang  ada sebuah surau kecil hasil swadaya masyarakat sini. Aku menghela nafas, berjalan pulang ke rumah. Ku putuskan nanti sore aku pergi ke rumah Anna. “Ia pasti senang”.

*****

“Kau bisakan ucapkan salam kalau masuk rumah?”

Sapaan kasar Bang Zaid menyambutku. Sepertinya aku masuk rumah dengan sangat tergesa-gesa. Sampai lupa mengucapkan salam.

“Ma’af…”

Ia berlalu dari hadapanku masuk ke kamar. Ku teguk air ludahku yang terasa tersekat di tenggorokan. Wajahku terasa memanas.

“Abang masih marah karena masalah malam semalam? Dian kan sudah minta ma’af. Mamak juga bilang tak apa-apa,” aku bicara dari tempatku berdiri ke arah kamar abangku. Emosiku jadi memuncak. Sikap abangku tadi membuatku yakin bahwa ia memang masih menyimpan kemarahan tentang peristiwa kemaren malam.

“Abang kenapa diam? Abang sebenarnya tak punya alasan buat menyalahkan Dian terus-terusan kan?” aku meringis menahan sesak di dadaku. Aku benar-benar ingin menangis. Aku merasa benar-benar sakit hati dengan sikap bang Zaid yang tak pernah mau terbuka. Aku tahu ia tak bermaksud jelek, aku tahu ia berniat mendidikku. Tapi ia mendidikku dengan gayanya yang keras. Aku tak pernah bisa terima itu. Setidaknya sampai almarhum ayahku meninggal dunia.

Ku dengar pintu kamarnya berdenyit. Ia keluar. Langsung menuju ke jalan. Ia tak mempedulikanku yang masih berdiri menatapnya. Dari sudut mataku aku melihat ia mengambil kail yang terselip di dinding depan. Ia pasti mau memancing ke sungai. Ke pelabuhan. Lagi-lagi aku mendengus kesal. Ku hela nafas dan segera mengambil wudhu. Aku hampir lupa kalau aku belum shalat Dzuhur.

*****

Aku hampir mengetuk pintu rumah mewah itu sampai aku menyadari bahwa ada bel yang terpasang di pintu depan tersebut. Ku tekan belnya. Sudah tiga kali. Aku sudah berpikir jika dua kali lagi aku menekan bel itu dan tak ada yang keluar, aku akan pulang.

“Hei…, Dian,” wajah Anna muncul dari balik pintu besar rumahnya. Ia tersenyum manis.

Aku tersenyum membalas senyumnya.

“Saya senang kamu menepati janjimu untuk datang lagi ke sini menemui saya. Terima kasih…”

Aku merasa sikap Anna agak berlebihan. Ia tak seperti orang kebanyakan. Ia terlalu sering mengucapkan terima kasih. Aku agak jengah.

“Tak mengapa. Aku senang bertemu denganmu, Anna,” aku memaksakan tersenyum sambil berusaha mengimbangi sikap sempurnanya.

“Kamu seperti adik saya.”

Aku tertegun. Mata itu. Mata yang hampa.

“Saya memiliki seorang adik seusia kamu. Namanya Rana. Rana Auridia. Ia cantik sekali sama sepertimu.” Mata Anna tak lepas menatapku. “Rambutnya hitam, kulitnya putih. Ia sangat cantik,” Suara Anna terdengar bergetar, ia tak lagi menatapku.

“Dia…,” aku tak melanjutkan ucapanku. Ya Allah, Anna menangis. Aku bingung. Kenapa dia menangis.

“Rana meninggal dua bulan yang lalu.” Aku tertegun. “Dia kecelakaan. Tertabrak truk saat mengendarai sepeda di depan rumah kami,” Anna berusaha menghapus air matanya. “Kamu tahu Dian, dia memacu sepedanya dengan sangat kencang karena dia melihat saya pulang. Dia menunggu saya pulang malam itu karena saya berjanji memberinya sebuah kotak pensil berwarna sebagai hadiah ulang tahunnya. Dia menunggu saya. Sendiri. Di Tepi jalan.” Anna diam sesaat. “Kamu tahu dari jam berapa? Dari jam 1 siang. Sampai malam itu pukul 10, bayangkan sampai jam 10. Dia tak mau beranjak dari tempatnya duduk hanya untuk menunggu saya pulang. “

Aku terenyuh mendengar cerita Anna. Pantas ia seperti orang yang menyimpan kesedihan.

“Saya benar-benar merasa bersalah karena semua itu. Rana meninggal karena saya. Sejak kecil dia memang selalu bersikap manja. Sejak mama meninggal dunia, Rana tak pernah bisa bersikap mandiri. Ia terlalu lemah. Saya benar-benar tak kuat lagi, Dian. Sejak kecil kedua orang tua saya bercerai. Papa memutuskan pergi, tapi kami tak pernah diberi tahu kemana ia pergi. Saat Rana berusia 3 tahun, mama sakit dan meninggal di depan wajah kami berdua. Saya benar-benar terpukul. Saya merasa bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi pada Rana.”

Aku diam. Aku tak tahu harus berkata apa.

“Saat melihat kamu  kemaren sore, saya benar-benar seperti melihat Rana. Kamu benar-benar seperti Rana.” Anna berhenti bicara. Aku pun tetap diam. Wajahku memanas.

“Dian…, boleh saya memeluk kamu?”

Aku tertegun. Ya Allah…, aku benar-benar tak menyangka dengan semua kejadian ini. Sekarang Anna, gadis kaya raya yang baru saja ku kenal sedang memelukku dengan erat dan menangis terisak-isak di pundakku. Ku biarkan ia. Biarlah, ia pasti sangat sedih.

“Dian…” Anna melepaskan pelukannya. “Apa saya boleh memangilmu, Adik?”

Aku tersenyum mengangguk. Anna tersenyum lebar sambil terus mengucurkan air matanya. “Terima kasih…”

*****

Hari hampir pukul 18.00 wib. Aku tak sadar telah kelamaan di rumah Anna. Saat ku pulang tadi ia sudah agak tenang dan sudah tersenyum kembali dengan gaya anehnya. Hari ini aku benar-benar memperoleh pelajaran baru. Anna memang kakak yang baik. Rana pasti bersyukur memiliki kakak sebaik Anna. Aku pun agak menyesal tak sempat bertemu dan kenal dengan Rana. Ia pun pasti memiliki hati sebaik kakaknya. Kakak beradik yang saling menyayangi.

Tapi tunggu dulu,,,,,Kakak beradik yang saling menyayangi.  Rasanya aku merasakan sesuatu dengan kalimat itu. Astaghfirullahal’adzim, Ya Allah, aku lupa. Kemaren aku janji mau pergi membantu Bang Zaid  mengajar di SLB tempat Bang Zaid mengajar. Dan ini janjiku dua hari yang  lalu. Ya ampun, aku baru sadar apa kesalahanku sampai Bang Zaid tak mau bicara padaku. Ia pasti kecewa.

Angin sore menembus baju kaos usangku. Tanpa sadar aku memacu sepedaku dengan sangat kencang.Abang<em “mso-bidi-font-style:=”” normal”=””>, maafkan Dian…” Aku menangis sejadi-jadinya di jalan sore itu. Aku benar-benar takut. Aku takut untuk menjadi seperti Anna yang harus tenggelam dalam penyesalan.

Brukk. Aku meletakkan sepedaku dengan sembarangan di depan rumahku. Aku langsung berlari ke dalam rumah dan berteriak mencari abangku, Bang Zaid tanpa peduli dengan nafasku yang ngos-ngosan. “Abang…, abang…”

Bang Zaid keluar dari kamarnya sambil menatap kebingungan melihatku.

“Kau kena…”

Belum selesai ia bicara, aku langsung menubruk dan memeluknya erat-erat, seakan tak mau melepasnya lagi. “Abang, ma’afin Dian karena sudah lupa dengan janji Dian kemaren. Abang jangan marah lagi dengan Dian ya… Abang tak akan pergi meninggalkan Dian kan? Abang tetap di sini dengan Dian kan? Dian janji tak akan ingkar janji lagi dan membuat abang marah…”

Bang Zaid terlihat tak mengerti. Ia menatapku masih dengan wajah dinginnya.

“Abang tak pernah marah.” Akhirnya ia bersuara. Aku tersenyum lega. Air mataku masih berlinangan. Ia bersuara.

“Dian…”

Aku menatap wajah abangku. Tanganku masih memeluk tubuhnya.

“Kau…bau.”

Aku meringis malu. Sambil menghapus air mata dan ingusku yang hampir meleleh, aku menatap Bang Zaid. Bang Zaid tersenyum. Senyum yang sangat indah. Abangku tersenyum. Ia tersenyum. Bang Zaid tersenyum.

Kalian maapan intang sini? Kada da nang sumbahyangnya kah? Wajah mamakku muncul dari bilik kamar. Ia terlihat habis mengambil wudhu.

Malam itu di balik purnama, aku tersenyum. Bang Zaid tersenyum. Anna pasti juga tersenyum. Dan aku ingin kelak semua orang tersenyum. Aku ingin semua orang tersenyum. Seindah senyum Bang Zaid hari ini.

Catatan :

Kamana adingmu Toh? Jam saini balum jua bulik  :  Ke mana adikmu, jam segini belum juga pulang?
Inya kada’ suah bajalan salawas ini Toh ai : Dia tidak pernah pergi selama ini
Cube pang di carii kaluluar satumat : Coba cari keluar sebentar
Bilang kada nyaman banar hatiku mangganang : Benar-benar tak tenang hati ibu mengingatnya
Tage’ ngini sudah malam bener : Tapi saat ini benar-benar sudah larut malam
Kalian maapan intang sini? : Kalian sedang apa di sini?
Kada da nang sumbahyangnya kah? : Tak ada yang sholatkah?