proteksi tanaman

Aku seorang mahasiswa.
Yah, sekarang memasuki tingkat akhir (arghh, ternyata aku sudah tua).
Institut Pertanian Bogor. Itu adalah universitas tempat ku menimba ilmu.

Saat kelas 3 SMU, aku hanya membuat dua pilihan. IPB atau UNRI (Universitas Riau). Alasannya sama: mau IPB atau UNRI, ada kakak dan abangku. Ha.

Di Bogor, telah ada seorang pendahuluku. Dialah Kakakku Aldina.
Di Pekan Baru, pun ada pendahuluku. Dialah Abangku, Aulia.

So, semua ku serahkan pada Allah.

dan tereng-tereng…

IPB.
Aku diterima di IPB.
Maka jadilah aku sekarang penghuni Bogor.
Penghuni kota yang dipenuhi angkot.
Penghuni kota yang kalau hujan, petir nya luar biasa.

Oke, kembali ke IPB.
Aku mengambil jurusan Proteksi Tanaman. Kalau dulu namanya Hama dan Penyakit Tanaman.
Meski pun memilih jurusan ini dengan tanpa pikir panjang alias “ambil jurusan apa ya? Hem, yang ini namanya bagus”, jadilah aku sekarang bergumul dengan serangga-serangga dan tanaman sakit.

Terlepas dari itu semua, aku bahagia. Bahagia berada di dunia pertanian. Khususnya proteksi tanaman.
Mengenal hal-hal baru begitu menyenangkan.

So, I’m a doctor of plant now 🙂

“A”

Huruf ‘A’ mengawali namaku, nama kakak abangku, dan adikku. 

Kakakku yang pertama bernama Aldina Safitri.

Abangku yang pertama (hanya ada satu kakak laki-laki) namanya Aulia Rahman.

Aku sendiri anak ke tiga, namaku Arini.

Dan adikku satu-satunya Ainul Hikmah.

Yup, seluruh nama kami diawali dengan huruf A. Kata Abah (panggilan untuk Ayah dalam bahasa Banjar, oh iya aku keturunan asli Kalimantan Selatan. Meski sejak lahir hidup di dunia Melayu) huruf A melambangkan pertama.

Abah berdoa agar kami selalu menjadi yang pertama. Menjadi terdepan. Berjiwa pemimpin. Bukan menjadi pengikut. Yang berada di belakang. Menjadi nomor satu dalam berbuat kebaikan. Itulah harapan Abah.

Nah, sesuatu yang buruk adalah HANYA NAMAKU yang satu suku kata. Abah…, ini tidak adil :O

Katanya, dulu namaku pun dua suku kata Arini Azzaharah. Tapi karena kesalahan di tempat, tempat apa ya namanya, jadilah namaku cuma ditulis ARINI. #malangnya.

Tapi doa dan harapan tidak dibatasi singkatnya nama. Namaku Arini, di dalam bahasa Arab termasuk fiil (kata kerja). Di dalam Al Quran, kata ‘arini’ beberapa kali disebutkan dalam pembicaraan antara Nabi Ibrahim dan Allah SWT. Arini sendiri berarti “perlihatkan/tunjukkan padaku”

So, aku akan melengkapi sendiri arti namaku 😀

Tapi, jujur nama yang singkat memudahkan ku saat UN. Haha. #Menyenangkan diri sendiri

inkonsisten

Menjadi konsisten, itu tak mudah. Istiqomah nyatanya butuh dorongan besar yang tak semata coba-coba.

Ku akui, aku bukan orang yang konsisten. Tentunya untuk hal-hal tertentu. Kalau kemaren kau membuka blog ini, kau pasti tau maksudku.

Aku tipe pembosan. Mudah sekali berhenti menyukai, apa yang sudah kusukai. Mudah menyukai, apa yang tadi tak kusukai.

Yah, tapi sekali lagi ini tak terjadi untuk semua hal. Aku serius mendalami dunia pertanian. Membuka mata tentang tanaman, justru dari hari ke hari membuatku tertantang.

Aku menyukai menulis, dan rasanya belum merasa bosan :).

Aku memilih jalan untuk memperjuangkan Islam. Berjuang untuk tegaknya Khilafah_negara Islam global.

Aku tak bermimpi untuk tak konsisten untuk yang satu ini.

 

 

kesekian tentang dia


Aku ingin mengepalkan tinjuku tinggi ke udara dan meneriakkan,

 “Mana pemuda yang katanya tulang punggung negeri ini?”

Aku ingin naik ke gunung yang tertinggi dan memperlihatkan kakiku tak renta,

 “Tapi dimana pemuda yang katanya punya kaki kokoh memapah negeri ini?”

Aku mampu menghempaskan berat yang tak ringan layaknya kuli panggul,

 “Tapi tak juga aku lihat keringat peluh dari dahi seorang pemuda,

keringat yang akan membanjiri negeri ini dengan sejati-jatinya mulia?”

Aku si tua renta.

Berharap pemuda masih punya telinga, jika hatinya pun tiada.

[kakek tua yang pernah muda]

Miwa Dheira (jejak SMU)

*****

Hari ini hari Minggu. Hari yang tentu saja paling ditunggu oleh kebanyakan anak-anak di sekolahku, tapi tentu saja aku tak termasuk kebanyakan itu. Mungkin agak aneh buat orang lain. Tapi aku benci Minggu. Minggu berarti aku harus bertemu dengan ‘dia’, Miwa Agharni Putria. Kembaranku.

“Jam berapa kau pulang?”aku bicara tanpa melihat wajah sok polosnya. Mungkin dengan begini ia akan merasa tak nyaman dan ingin cepat-cepat enyah dari rumahku, walau sebenarnya rumahnya juga karena ini rumah mama. Mamaku dan Miwa.

“Kau menyuruhku pulang?”

“Kau pikir apa?”

“Aku pulang sore nanti. Kau tak senang?”

            Aku mendengus kesal. Miwa memang selalu punya hak melebihiku. Ia punya hak untuk bilang ‘iya’ atau ‘tidak’. Seperti barusan. Apa yang ia bilang akan menjadi dasar pikiran semua orang di rumah. Entahlah. Beda sekali dengan ku. Meskipun aku dan Miwa adalah anak kembar, tapi kami sangat berbeda. Sangat-sangat berbeda.

“Tadi mama memanggilmu”, Miwa bicara sambil berlalu di hadapanku. Aku tak peduli. Toh paling-paling mama hanya mau memberiku kuliah bebas tentang nilaiku yang anjlok, atau karena laporan tetangga sebelah yang pot bunganya pecah akibat ulahku, atau karena aduan musuhku, Syana yang ku tonjok kemaren sore. Yang tentu saja berbeda dengan Miwa, kembaranku yang sangat pintar, baik hati, lemah lembut, dan rajin menabung. Erghh…

“Mama memanggilmu”, Suara Miwa terdengar lagi, lebih tegas. Ia kembali berdiri di hadapanku. Tapi sekarang tak berjalan seperti tadi. Mungkin dia muak dengan sikapku yang tak memperdulikannya. Siapa peduli. Aku diam saja. Aku bisa menemui mama nanti, nanti. Lagian sekarang aku sedang sibuk. Sibuk membungkus baju-baju bekas yang mau ku sumbangkan ke panti asuhan.

“Kau tak dengar?”

“Kau pikir aku tuli?”

“Kau pikir kau tidak tuli?”

“Kau pikir iya?”

“Kau pikir tidak?”

            Dan aku hanya akan menghabiskan waktuku dengannya. Ia pasti masih sanggup meneruskan kata-katanya jika saat ini gilirannya bicara. Oh iya, aku lupa mengatakan satu hal. Miwa gemar berdebat. Sangat-sangat gemar. Aku yakin ia punya kamus yang penuh dengan kosakata yang bertentangan denganku di dalam mulutnya. Ia pasti menelan kamus itu utuh. Aku berdiri. Biarlah ku temui mama sekarang. Kau pasti tak membayangkan harus beradu urat leher dengan orang yang wajahnya sama denganmu.

“Dei…”, Miwa memanggilku dengan panggilan itu. Panggilan kecilku yang sekarang begitu ku benci. Sangat ku benci. Aku diam. Dari punggungku ku lihat Miwa bicara dengan nada yang aneh.

“Aku tak pernah tahu apa alasanmu begitu membenciku. Bahkan sampai sekarang. Terserahlah, Dei. Itu hakmu. Tapi satu hal yang perlu kau tahu dan aku harap kau mengerti, aku tak pernah membencimu. Sedikitpun. Dan… tolong jangan bersikap begitu pada mama. Kasihan mama.”

Aku tak tahu apa ia berharap aku menjawab ucapannya. Yang jelas ku lihat Miwa berbalik. Mungkin ia mau pulang. Baguslah.

*****

“Dera…, Dera…!!!”

            Ku lihat Ogi berlari ke arahku. Ogi adalah temanku sejak kecil. Teman Miwa juga. Lebih jelasnya, temanku dan Miwa.  Ia mengacung-acungkan sesuatu. Sepertinya sebuah kertas. Aku memang belum bertemu dengannya hari ini. Hari Sabtu begini jadwalku dan Ogi berbeda. Di sekolahku SMU Bina Perkasa ada program ‘Hari Bebas’, dimana hari itu kami boleh melakukan aktivitas apapun selama masih dalam koridor sekolah dan masih termasuk ke dalam jenis belajar. Aku mengambil Sastra, tentu saja karena aku senang menulis dan bukan karena aku punya kesempatan untuk tidur waktu jamnya Bu Retha, guru Sastraku. Ogi mengambil Olahraga. Ia maniak Sepak Bola.

“Bau,” aku menatap jijik ke arah Ogi. Tubuhnya penuh dengan peluh yang masih meleleh. Ia menatapku tak peduli. Dan sekarang malah sekarang mengangkat sebelah tangannya_tepatnya ketiaknya_ke arahku. Aku menarik sebelah bibirku.  “Apa?” Ku terima selembar amplop kecil warna hijau yang disodorkan Ogi melalui  tangannya yang lain.

“Dari Miwa,” Ogi melangkah mendahului. Aku membuntutinya sambil mengamati surat itu. Kalau begini biasanya kami akan segera istirahat di taman sekolah, di sudut sana.

“Miwa? Dia kemari?”

“Nggak. Kemaren sore ketemu di toko obat. Dia nitip itu buat kamu. Katanya kelupaan ngasih ke kamunya waktu dia pulang ke rumah,” Ogi mengambil sebotol air mineral yang selalu disiapkan ibunya di rumah dari dalam ransel butut kesayangannya.  “Emang dia ada pulang ya, Ra? Kok kamu nggak ada cerita?”

“Toko obat? Beli obat apa?”

“Maag gue kambuh. Loe tahu kan , semalam gue telat makan gara-gara nemenin loe ngobrak abrik toko bu…,” Ogi menghentikan ucapannya saat melihat raut wajah Dheira yang berubah, yang seakan mengatakan SIAPA YANG NANYA LOE. MAKSUD GUE MIWA NYA BELI OBAT APA???  “Gue nggak tahu dia beli obat apa. Eh loe belum jawab pertanyaan gue. Miwa ada pulang? Kapan?” Ogi berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Ngapain nanyain dia. Kayak nggak ada kerjaan aja,” Aku melangkah pergi. Ku masukkan surat dari Miwa ke ranselku.

“Nggak dibaca dulu, Ra. Siapa tahu penting.”

            Aku melangkah pergi mendahului langkah Ogi. Tak ku pedulikan kata-kata Ogi. Apa sih yang penting kalau berhubungan dengan Miwa?

 

*****

            Aku bangun tidur kira-kira lima belas menit yang lalu. Selesai Shalat Subuh aku langsung ke dapur. Berharap menemukan sesuatu yang dapat mengganjal perutku yang sudah tak mau kompromi, meski hari masih terlalu pagi untuk sarapan. Aku lupa, malam tadi sudah makan atau belum, yang jelas perutku keroncongan. Dan aku beruntung kerena menemukan makanan plus sebuah memo. Pasti dari mama, makanan juga memonya.

            Aku hampir membaca memo dari mama jika Hpku tak berbunyi. Ku bawa memonya ke kamarku. SMS dari Ogi. Sambil menguap kubuka SMSnya, mengingatkanku untuk tak melupakan jadwal tandingnya hari ini. Tindakan Ogi mengingatkanku benar. Aku hampir saja lupa. Ku lihat lagi memo dari mama.

Dei, kamu sarapan sendiri ya, nasi gorengnya udah mama masakin.

Susunya bisa buat sendirikan? Mama mau ke tempat kakakmu, Miwa.

Malam tadi mama mimpi aneh tentang Miwa. Perasaan mama nggak enak. Ma’afin mama yah…

Mama belum tahu bisa pulang jam berapa. Hati-hati ya, Dei…

Mama

“Miwa…, apa dia sakit?”

*****

 “Kamu boleh pergi. Asal jangan bawa anak-anak. Dheira dan Miwa ikut saya,”mama berteriak sengit.

“Kamu bisanya apa? Kamu tidak pernah punya waktu untuk mereka. Saya tidak mau anak-anak saya menjadi seperti kamu. Mengerti…!!!” papa berteriak tak kalah sengitnya. Aku dan Miwa duduk terisak-isak di balik lemari kecil kami. Tangan Miwa terasa erat menggenggam tanganku. Plak!!! Aku merasakan Miwa di sampingku terhenyak. Dia pasti terkejut. Papa menampar mama. Untuk yang kesekian kalinya dalam pertengkaran mereka. Dan kami harus sembunyi lagi di balik lemari untuk yang kesekian kalinya juga.

“Miwa, Dheira, kemari,”mama berteriak. Aku benar-benar takut pada mama dan papa. Mereka seakan seperti monster yang memamerkan taringnya padaku dan Miwa. Aku merasakan tubuhku bergetar hebat sebelum ku rasakan Miwa, kakak ku yang hanya lebih tua limamenit memelukku.

“Kemari kalian.” Aku dan Miwa kontan serempak terhenyak. Papa menarik tanganku dan Miwa. “Kalian berdua ikut papa. Mama kalian bukan orang yang baik.” Aku dan Miwa ditarik paksa oleh papa. “Siapa yang bilang begitu, huh…” mama tak mau kalah. Ia menarik tangan sebelah kami. Aku menangis sekeras-kerasnya. Ku lihat Miwa di sampingku yang juga tertarik sana sini diam. Ia tak menangis. Tapi matanya terlihat seperti orang mati. Ia tak berekspresi. Aku takut melihat Miwa. Bruk!!!

            Aku terlepas dari papa. Miwa masih dalam dekapan papa. Mama terduduk di belakangku sambil cepat-cepat memelukku. Sepersekian detik kemudian aku melihat Miwa ditarik papa ke mobil.

“Miwa…” aku berteriak memanggil Miwa. Mama menangis sejadi-jadinya. Miwa tak menatapku.

“ Miwa…!!!”

 

Bruk!!! Sebuah novel butut milikku jatuh tersenggol kaki. Aku terengah-engah. Mimpi. Mimpi buruk. Mimpi itu lagi. Mimpi saat aku berpisah dengan Miwa. Mimpi yang sangat menyiksaku. Pukul 14.05 WIB. Aku ketiduran. Aku ingat belum Shalat Dzuhur. Aku bangkit dari sofa, tempatku ketiduran. Kulihat sebentar TV yang masih menyala, ulangan konser Sheila On 7. Mama belum pulang. Rumah masih sunyi. Selesai shalat ku sempatkan meneruskan membaca novelku yang baru separoh jalan. Masih ada 45 menit lagi sebelum pertandingan Ogi. Aku masih bisa santai.     

 

*****

“Uuh…, dimana sih suratnya…” aku mulai kesal. Surat dari Miwa yang tempo hari diberikan Ogi entah terselip dimana. Padahal seingatku aku memasukkannya ke ranselku. Dan ranselnya sudah ku bongkar habis tapi tetap saja aku tak menemukan surat itu. Perasaanku sedikit kacau karenanya. Maksudku tentu saja bukan karena itu surat dari Miwa. Tapi mungkin karena aku muak harus mencari sesuatu dari seseorang yang… Okey…, aku akui aku memang agak kacau karena ini. Aku belum sempat baca apa isi suratnya. Tak mungkin aku menemui Miwa dan bilang, “Aduh,, sori yah. Surat kemaren hilang. Aku belum sempat baca.Emang isinya apaan?”. Itu tidak mungkin. Aku akan melihat wajah sok tersiksa dari Miwa. Dia akan merasa aku menyakitinya. Dan itu tidak boleh.  Atau aku tanya Ogi, “Gi, kemaren kamu ada ngintip nggak isi surat dari Miwa. Suratnya hilang…”. Dan ini lebih tidak mungkin lagi. Ogi akan membunuhku. Dan satu-satunya solusi adalah…

“Surat warna hijau? Mama nggak ada bersihin kamar kamu, Dei. Mungkin kamunya aja yang kelupaan,” mama tersenyum seakan menyuruhku untuk mencari ide lain. Tapi sekarang aku sudah kehilangan semua ide. Hhh…, mau gimana lagi. Bukan salah ku dong. Suratnya yang hilang sendiri. Lagian, kenapa pula aku harus pusing-pusing mikirin surat dari Miwa. Kalau memang ada yang penting, dia kan bisa bicara. Aku tersenyum berusaha melegakan pikiranku. “Tenang dong Dheira, kamu ingatkan dengan kata-kata ‘Apa sih yang penting kalau berhubungan dengan Miwa?’. Okey…, sekarang tenang…!!! Everything is fine. Cool down…!!!

*****

 

Aku duduk di depan Bu Retha Sudjatmo _guruku_ seperti seorang terdakwa. Yang menunggu putusan pengadilan. Tentu saja aku berkhayal aku adalah orang yang difitnah, yang disakiti, yang teraniaya, yang ingin dihancurkan oleh musuh-musuhnya. Haha.

“Dheira Aghata Putria.” Aku tersentak. Bu Retha memutuskan lamunanku. “Itu nama saya.” Aku berusaha tenang. Bu Retha menatapku muak. Mungkin ia merasa kesombongannya tersaingi olehku.

“Saya tahu kamu punya kemampuan untuk menjadi seorang penulis berbakat. Kamu punya daya khayal yang baik. Kamu punya wawasan yang, yah…bisa dibilang cukup luas. Saya suka tokoh wanita penggoda yang kamu ceritakan. Tapi mungkin kamu bisa berpikir untuk mencari nama lain buat tokoh yang kamu ciptakan itu?”

Aku mendengar cekikikan di kursi belakang. Pasti ada yang sedang menertawakan kekonyolanku. Tentu saja aku tak akan mengakui ini sebuah kekonyolan. Dan aku harap ini tidak benar. Tapi tentu saja ini benar. Semua orang di kelas ini sedang menertawakan ku karena novelku yang berjudul “Reitha Sang Primadona”. Dan sekarang aku sedang menghadapi pengadilan dari Bu Retha. Dia tersinggung. Menurutnya aku telah menyinggungnya. Menurutnya aku menyontek namanya. Tapi tentu saja tidak. Aku…, hanya sedikit ingin melucu. Okey…

“Namanya Reitha. Bukan Bu Retha. Dia menggunakan ‘i’, nama ibu tidak. Dia juga bukan guru. Rambutnya berwarna coklat bukan hitam. Dia suka Mie, tidak suka pink, dan agak sedikit pemarah. Mungkin cuma itu. Ehm…, dia juga punya nama panjang. Reitha Sudjatmiko.” Aku semakin jelas mendengar cekikikan yang seharusnya bisa dikatakan gelak tawa dari teman-temanku. Aku melihat wajah Bu Retha memerah.

“Ya. Dan kamu juga memasukkan tokoh lain yang juga mirip dengan semua orang di sekolah ini. Dheira jadi Dhira, Ogghi yang saya yakin itu Ogi teman kamu, Merry, Agustine, Syannaz, dan juga Reitha yang pasti kamu comot dari nama saya,” teriakan Bu Retha meledak. Aku mendengar kelas semakin riuh. Aku yakin nyawaku semakin terancam. Biarlah. Toh ini menyenangkan.

“Jangan tersenyum.” Aku sontak menarik kembali bibirku yang hampir membentuk senyuman. “Temui saya jam pulang nanti. Langsung ke WC belakang. Jangan terlambat.”

*****

Aku harus tabah mendengar gelak tawa yang tak kunjung henti dari Ogi. Ia pasti bangga karena bisa puas menertawakan kesialanku. Aku menyeruput Jus Sirsakku dengan kesal, rasa lelah setelah membersihkan WC _kutegaskan WC SEKOLAH_ semakin bertambah mendengar ejekan Ogi. Ditambah lagi sekarang aku sedang tak punya bahan untuk balas menertawai Ogi. Tentu saja kekalahan telak tim Sepak Bolanya tak bisa dijadikan bahan lelucon karena jika itu terjadi berarti aku turut menertawai teman Ogi yang menjadi idolaku selama ini. Jadi sekarang kesimpulannya aku harus sabar. Ogi pasti memanfaatkan situasi ini.

“Siang ini bisa ikutan kan, Ra?” Aku ingat. Hari ini Ogi mengajakku ke pesta ulang tahun teman kelasnya, kelas Olah Raganya. “Sori, nggak bisa.” Aku memang tak punya rencana apa-apa. Tapi entah mengapa aku tak berminat ada di sebuah pesta yang penuh dengan maniak olahraga seperti teman-teman Ogi. Aku membayangkan acaranya, pasti berbau olahraga. Bisa saja kue nya nanti berbentuk bola atau yang datang harus mengenakan kaos sepak bola. Aku takkan sanggup. Ogi tampak mengerti alasanku meski aku belum mengutarakannya. Terbukti ia tak memaksaku seperti biasanya. Hanya menghela nafas pelan. Dan akhirnya mengangkat alis. “Terserah loe…” Aku tersenyum.

Jam antik yang ada di ruang tamu terdengar berdentang dua kali saat aku membuka pintu. Mama pasti belum pulang. Tadi kunci rumah dititipkan dengan Bu Desi, tetangga depan. Mungkin mama sedang ada lembur. Karena biasanya mama hanya bekerja sampai tengah hari, biasanya pulang pukul 12.30 wib. Dan mama bisa menanti aku setiap pulang sekolah.

Aku jadi kepikiran mama. Sejak mama berpisah dengan papa, aku tak pernah melihat mama santai seperti dahulu. Mama sekarang tak pernah lagi memperhatikan dirinya. Mama seperti kehilangan semangat untuk bersenang-senang. Setiap hari mama hanya mengisi waktunya dengan bekerja. Hanya mencari uang. Pagi hari mama bekerja di sebuah perusahaan tekstil sebagai penanggung jawab produksi. Kadang-kadang mama juga mengambil job dengan menjadi penulis di sebuah majalah. Mama sangat sibuk. Aku tahu dan yakin semua itu mama lakukan hanya karena mama ingin membuatku bahagia. Aku sadar itu.

Mama ku adalah wanita yang pintar. Ia juga sebenarnya adalah wanita yang baik. Setelah menikah dengan papa, mama rela meninggalkan karir berbisnisnya demi menghargai papa yang ingin menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga dalam mencari rezeki. Mama mengikhlaskan diri menjadi ibu rumah tangga yang diam di rumah mengurusi segala urusan di rumah. Mama menenggelamkan semua ijazah keserjanaannya dalam hatinya.

Sekarang setelah semua berubah. Mama harus menata kembali keping-keping puzzle kejayaan yang dulu pernah ia korbankan demi laki-laki yang ku panggil papa. Mama kini harus mulai dari awal. Mama benar-benar wanita yang kuat.

“Dei, kok di kamar mama? Ada yang dicari?”. Aku tersentak. Mama berdiri di sampingku tersenyum. Senyum mama sangat manis. Aku ingat, sudah lama aku tak pernah sedekat ini dengan mama. Aku terlalu egois untuk dekat dengan mama. “Dei…” mama menatapku heran karena aku masih belum bersuara. Aku tergagap.

“Ng-nggak kok Ma…. Dera cuma kepikiran mama…”

*****

Hari ini berbeda. Cerita hidupku biasa-biasa saja sebelumnya. Namun hari ini mulai menunjukkan sebuah perbedaan. Karena ini hari ke-9 Miwa hilang. Maksudku ‘hilang’ tentu saja karena ia tak pernah sekalipun lagi berkunjung ke rumahku dan mama. Dan tentu saja hal ini membuat mama panik. Aku yang tak pernah sekalipun menunjukkan rasa peduliku akhirnya panik juga. Meski diam-diam. Sungguh, aku benar-benar panik. Aku merasa memiliki andil dengan hilangnya Miwa, termasuk hilangnya surat itu. Yang…mungkin penting.

“Ya Allah, tolong lindungi Miwa.” Aku mengakhiri shalat Asharku setelah berdo’a untuk Miwa. Terus terang saja, mungkin ini adalah do’aku yang pertama setelah aku berpisah dengannya.

Semalam aku melihat mama menangis. Aku tahu tak ada wanita setegar mama. Setelah sekian lama belajar hidup sendiri dan menghadapi segala kesulitan tanpa papa, mama akhirnya jatuh. Aku benar-benar merasa hancur. Mama menangis di shalat malamnya yang panjang. Tak pernah aku melihat mama seperti itu, bahkan saat berpisah dengan papa. Mama wanita yang perkasa. Dan tentu saja semua keperkasaan mama menurun kepadaku dan Miwa. Aku mewarisi sikap keras kepala dan Miwa tentu saja kedewasaan yang tak terhingga. Aku merasa tak akan pernah sanggup benar-benar memikirkannya, dulu. Kini, melihat mama, aku merasa berdosa. Aku benar-benar egois.

*****

Mama mengambil dan meletakkan gagang telpon berkali-kali. Hingga akhirnya menekan tuts telpon setelah menghela napas panjang. Aku melihat iba. Mama pasti menelpon…

“Miwa hilang…” Suara mama tercekat. Sesaat kupikir telpon itu diangkat, mama langsung bicara.

30 menit sudah sejak papa datang. Aku mematung di kursi. Mama terlihat masih terisak-isak. Papa terlihat menyimpan kegalauan yang amat sangat.

“Dia sudah tak pernah sekolah semenjak seminggu yang lalu dan sering tidak masuk sekolah semenjak dua bulan yang  lalu,” Papa bicara sembari menundukkan kepalanya. “Aku minta ma’af. Semua ini salahku. Jika saja ku tak berbuat salah dulu itu, pasti keadaan seperti ini tak pernah terjadi.”

Aku menghambur lari ke kamarku. Sekarang seluruh air mata kesedihan yang aku pendam akhirnya tumpah. Aku benar-benar tak kuat. Miwa, tolong pulanglah. Kini aku menangis sejadi-jadinya. Seandainya aku tak pernah memusuhinya, seandainya aku langsung membaca suratnya, seandainya aku tak pernah menolaknya untuk tinggal disini bersama mama, seandainya aku tak pernah membencinya, seandainya aku tak pernah kasar padanya, seandainya aku…”

“Dheira…” mama membuka pintu kamarku. Mata mama terlihat memerah.  “Miwa…sudah ditemukan.”

*****

27 November

 

Aku kerapkali bermimpi yang aneh akhir-akhir ini. Melihatmu, berjalan bersamamu, tertawa dan melakukan apa-apa yang biasa kita lakukan bersama, dulu. Kau tau, Dei, aku seperti hampir gila setelah tau bahwa hidupku tinggal beberapa bulan lagi. Hhh…, ternyata darah kanker yang dulu merenggut kakek, ada di dalam diriku.

 

15 Desember

 

Aku g sengaja ketemu teman Miwa di apotek. Semoga dia g tau aku beli apa.

 

28 Desember

 

Aku rindu. Dei, kenapa g datang?

 

*****