Mahasiswa Pertanian Abad 21: Menuju Indonesia Mandiri Pangan (BISAAAA!!!)

“Kulihat ibu pertiwi. Sedang bersusah hati.
Air matanya berlinang. Mas intannya terkenang.
Hutan gunung sawah lautan. Simpanan kekayaan.
Kini ibu sedang susah. Merintih dan berdoa”

Penggalan lirik lagu nasional ‘Ibu Pertiwi’ ini tentunya akrab ditelinga kita, generasi harapan bangsa. Pemuda pemudi yang jiwanya dilumuri semangat pengabdian, selayaknya tersentuh dan tergerak untuk segera mengulurkan tangan, menyumbangkan tetes keringat terbaik untuk kemajuan negeri ini.

Ditambah lagi dan tak dipungkiri memang, hari ini bumi khatulistiwa tercinta sedang dirundung berbagai masalah. Silih berganti krisis melanda, mulai dari kemiskinan dan kelaparan, meningkatnya angka putus sekolah karena biaya yang selangit, maraknya angka kriminalitas dan seks bebas, hingga biaya kesehatan yang jauh dari gratis. Fakta teranyar, masalah pengangguran dan demo buruh, kemacetan dan buruknya infrastruktur, bencana alam yang silih berganti, dan dilengkapi lagi dengan lakon para politisi yang makin hari kian kehilangan hati, pesta pora menuntut fasilitas mewah ditengah kesulitan hidup rakyatnya.

Pada akhirnya, dunia kita dunia pertanian yang bersumbangsih memberikan negeri ini gelar ‘negeri agraris’ pun tak luput dari paparan problematika. Bukan hal baru saat kita mendengar bahwa impor bahan pangan kian hari makin menghimpit petani. Mungkin masih jelas bagaimana teriakan para petani cabe yang gagal panen dan parahnya keran impor justru dibuka sebesar-besarnya atas nama perdagangan bebas. Dilain sisi, data-data juga menunjukkan bahwa masih banyak petani-petani kecil yang justru bekerja pada tanah milik orang lain alias hanya menjadi buruh dan pekerja. Alih-alih makmur, petani negeri ini justru semakin jauh dari kesejahteraan dan semakin sulit akibat mahalnya harga bibit, pupuk dan biaya operasional produksi pertanian lainnya.

Memang, bangsa ini bisa diumpamakan seperti penderita penyakit kronis yang mengalami komplikasi akut. Namun, tak sepantasnya rasa pesimis dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam diri-diri kita, kaum muda penggenggam perubahan. Meyakini bahwa negeri ini mampu ‘sembuh’ dan berdiri sendiri_termasuk mandiri dalam hal pangan_tentu merupakan keniscayaan. Hanya saja, diperlukan sebuah pemahaman yang benar terkait akar permasalahan yang memicu lahirnya semua problematika tadi. Untuk kemudian mengurai solusi terbaik bagi masa depan Indonesia.

Tentu saja, Indonesia menjadi negeri yang mandiri pangan bukanlah sekedar jargon kosong, mengingat kesuburan alamnya yang tak tersaingi lagi. Bahkan bukan itu saja, sumberdaya manusia yang unggul dan produktif pun dimiliki oleh negeri ini. Tentunya termasuk kita, para mahasiswa, lulusan, dosen, dan praktisi pendidikan di kampus tani ini. Artinya, dilihat dari sda dan sdm, maka Indonesia pasti bisa.

Kemandirian pangan berarti kemampuan negeri ini untuk mengatur pemenuhan pangannya sendiri, tanpa harus bergantung pada asing meskipun impor sah-sah saja untuk dilakukan selama tidak ‘menggadaikan’ stabilitas negara. Hal ini tentu didasarkan bahwa kemandirian pangan adalah salah satu syarat ketahanan nasional.
Artinya, dilihat dari kemampuan dalam negeri, maka sangat besar peluang kita untuk menjadi negara mandiri pangan. Namun, pada faktanya Indonesia masih sering terjerat impor, dengan berbagai alasan seperti kurangnya produksi sementara tingkat konsumsi tinggi, juga termasuk faktor iklim dan hama penyakit tanaman yang mampu menggagalkan produksi pertanian. Padahal harus disadari bahwa terbukanya keran impor juga tak lepas dari kebijakan-kebijakan nasional termasuk kebijakan liberalisasi dan privatisasi.

Hal yang perlu disadari adalah bahwa sistem Kapitalisme yang saat ini menguasai dunia,  termasuk negeri kita Indonesia, menjadikan ‘produksi’ sebagai tolak ukur utama keberhasilan pertanian. Padahal, yang jauh lebih penting adalah persoalan distribusi hasil produksi pertanian kepada masyarakat atau bagaimana setiap individu terjamin kebutuhan pokoknya. Sehingga negara yg pertaniannya berhasil tidak hanya ditandai dengan hasil produksi yang tinggi tapi berkorelasi positif dengan kesejahteraan setiap anggota masyarakat termasuk petani.

Tentu saja, persoalan pangan tak semata terkait pertanian. Melainkan berkaitan erat dengan permasalahan ekonomi sampai perpolitikan yang berbasis sebuah ideologi. Sehingga mutlak diperlukan pandangan dan pemahaman yang kompleks terkait permasalahan ini.

Lantas bagaimana peran kita sebagai mahasiswa pertanian? Tentu sudah selayaknya kita menyadari permasalahan mendasar terkait pangan, terutama pertanian. Mahasiswa adalah pihak yang nantinya dengan idealisme, kecerdasan, dan pemikiran kritis akan mampu menilai secara objektif terhadap persoalan ini. Sehingga peran advokasi lah yang sangat dibutuhkan mengingat mahasiswa adalah pressure group terhadap sistem pengelolaan ataupun peraturan pertanian.

Indonesia mandiri pangan? Pasti bisa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s