Naskah Drama SMU

Pagi. Sinar mentari terasa hangat menyapa kulit. Aroma khas udara pagi terasa begitu menyejukkan. Semua terasa begitu indah. Tapi tidak dengan suasana di kelas XII IPA 1 SMU Muara Harapan. Sejak orang pertama memasuki lokal itu, hawa kurang bersahabat sudah mulai menyebar. Yup, akan ada UH Matematika di lokal yang terkenal dengan kehebatan siswa siswinya itu.

BABAK I

          Bel yang menandakan waktu belajar telah dimulai belum berdentang. Tapi suasana di lokal XII IPA 1 tak ada bedanya dengan detik-detik proklamasi, hening. Beberapa siswa tampak serius dengan buku yang ada dihadapannya. Namun, tak sedikit pula yang hanya duduk santai. Entah karena benar-benar telah memahami pelajaran yang akan diujikan atau karena benar-benar tak tahu harus mempelajari yang mana.

Anis          : “Soal yang nomor 50 sudah? Kok hasil yang kudapat beda ya dengan pilihannya?”

Nimas       : “Nomor 50 jawabannya F. Kemaren aku tanya dengan Bu Marta.”

Wanda      : “Jadi memang salah ya…”

          Di sudut terlihat beberapa orang pelajar yang duduk terpisah. Wajah mereka menunjukkan isyarat tak senang.

Tiara         : “Nomor 50 sudah? (Menirukan gaya Anis). Kok aku beda ya hasilnya?”

Fira           : “Oh ya? Baru 50 ya? Aku udah selesai nih, tapi aku kok biasa aja ya…”

Kirana       : “Ssst…, jangan bicara sembarangan. Nanti ada yang hilang konsentrasinya dalam meramu soal.”

          Tiba-tiba Shima, siswi yang hobinya tak jelas alias suka beralih-alih hobi datang didampingi anak buah setianya, Rizana.

Shima        : “Woi…teman-teman, aku punya cerita lho… dengerin ya, jadi gini…,malam itu…

                      “Rasa deg-degan di hatiku saat kutatap paras wajahku di cermin. Pipi merah, bibirku merah, merekah menantang setiap pandangan. Kupoles lagi alis mataku, hidung, telinga, jidat, tangan sampai betis. O…betapa cantiknya wajahku malam ini. Pastiku terpilih jadi ratu. Aku berbisik dalam hati mungkinkah ini kan terjadi sesungguhnya. Aku langkahkan kaki menyusuri panggung pemilihan ratu sejagad. Putar ke kiri balik ke kanan senyum sana senyum sini ikut irama. O…semua tepuk tangan seiringku berlari sampai menghilang di balik layar. Aku pun bersorak uuu…lompat kegirangan tapi ku terjatuh dari kursi goyang kiranya ku mimpi…uh…jadi ratu sejagad semalam.”

                      “Ih…sebelkan…(Menatap seisi kelas yang hening). “Kalian kenapa sich…,kenapa pada diam? Kasih tepuk tangan napa? Kan aku mimpi jadi ratu sejagad…!”

Bu Marta     : “Sebentar lagi kamu bisa jadi ratu perang. Karena kita akan berperang melawan soal UH yang sudah ibu janjikan. Siapkan peralatan yang kalian butuhkan. Waktunya hanya 45 menit dari sekarang.”

Shima          : “Lho…, memangnya ada UH ya Bu? Kok kamu nggak ngasih tahu?”(Menatap Rizana).

Rizana         : (Angkat bahu). “Aku juga baru tahu.”

Shima          : “Apes, alamat mati nih.”

            UH yang dijanjikan pun berjalan sudah. Pengawasan Bu Marta seketat pengawasan terpidana mati Amrozi Cs yang siap dieksekusi. Dan 15 menit sudah berlalu. Tiba-tiba Alif datang tergopoh-gopoh.

Alif              : “Ma’af bu, saya telat. Tadi jalanan macet.”

Bu Marta     : “15 menit 10 detik. Peringatan pertama. Jangan harap nilai UH kamu kali ini melebihi standar. (Berbalik)”Dan ibu tidak bisa menunggu sampai kamu yang punya jalan pribadi biar kamu tidak terjebak macet. Jangan cari-cari alasan.”

Alif              : “Kita UH? Bab yang mana bu? Emang yang kemaren bukan UH?

Bu Marta     : (Menatap Alif).

*****

 

BABAK II

            Di depan kelas tampak anak-anak teater, Tiara, Fira, Kirana, Vita, Dirga, dan Ines. Mereka

sedang berbincang-bincang.

Vita             : “ Gimana UH Matematika tadi? Bisa?”

Dirga           : “Bisa…. Bisa kosong.”

Kirana         : “Beneran? Kosong? Siap-siap perbaikan aja lagi.”

Ines             : “Kenapa harus membahas pelajaran yang satu itu? Apa tak ada lagi bahan yang lebih menarik? Mau muntah dengarnya”

Tiara           : “Sama. Kalian teruskan bicara tentang topik yang memuakkan itu atau aku pergi?”

Fira             : “Udah…kenapa mesti ribut. Apa tak ada yang bisa lebih dewasa?(Diam sesaat). “Gimana kalau kita latihan drama musikal kita yang kemaren?”

Dirga           : “Di mana? Di sini?

Fira             : “Di mana lagi? Ya di sini.

Kirana         : “Okey. Mulai.    

Semua         : “Dibayang wajahmu ku temukan bisikan hidup. Yang lama telah a…”

Dirga           : “Eh…, stop dulu. Rasanya kok aneh. Ulang nyanyinya.

Semua         : “Dibayang wajahmu ku temukan bisikan hidup. Yang lama telah aku cari di masa lalu. Kau datang padaku kau tawarkan hati nan lugu. Selalu mencoba mengerti hasrat dalam diri. Kau mainkan untukku sebuah lagu tentang negeri di awan. Di mana kedamaian menjadi istananya. Dan kini tengah kau bawa aku menuju ke sana. Oh…ternyata hatimu penuh dengan bahasa kasih. Yang terungkapkan dengan pasti dalam suka dan sedih.”

Ines             : “Jadi habis lagu ini aku keluar?

Vita             : “Iya. Ntar kamu masuk lagi pas babak berikutnya.

Tiara           : “Oke…, kita tes naskahnya dulu. Mulai dari aku. (Menarik nafas). “Aku sendiri. Di sini sepi tiada bertepi. Semua seakan tak memiliki akhir.”

Dirga           : “Langit boleh menangis, tapi kita harus  tetap harus tersenyum. Demi lilin yang rela meleleh untuk menerangi. Memberi cahaya pada gelapnya malam. Teman, kau jangan bersedih.”

Semua         : “Dibayang wajahmu ku temukan bisikan hidup. Yang…”

            Gendhis, salah seorang anak klub Maematika datang.

Gendhis      : “Ma’af, waktu istirahat selesai.”

Kirana         : “So…?”

Gendhis      : “Kami terganggu.”(Berlalu)

Kirana         : “Memuakkan. Ya udah, latihannya sampai sini dulu. Nanti ada lagi yang protes.”

            Tiba-tiba Bu Ardini, guru bidang studi Kesenian datang,

Bu Ardini   : “Selamat siang semua.

Semua         : “Siang bu…”

Bu Ardini   : “Hari ini seperti yang telah ibu sampaikan minggu lalu, kita akan belajar tentang DRAMA. Nah, ada yang tahu apa itu drama?”

Yono           : “Saya tahu bu. Drama itu adalah pelajaran yang akan kita pelajari sekarang.”

Iman           : “Yono, berbicaralah dengan dasar yang benar. Sebab semua yang kita bicarakan akan dimintai pertanggung jawaban nanti di hadapan Allah. Jangan sembarangan.”

Semua         : “Betul…”

Serinda        : “Bu, bolehkah saya mengungkapkan pendapat saya. Menurut saya, drama adalah jiwa. Drama adalah hati. Drama adalah diri. Drama adalah jiwa, hati, dan diri. Terima kasih.”

Semua         : “Hu….”

Bu Ardini   : “Baik. Sepertinya kalian harus belajar untuk menemukan arti drama itu. Dan untuk itu ibu akan memberi tugas. Minggu depan tampilkan sebuah drama. Pemerannya seluruh warga kelas ini. Kalian semua satu kelompok. Nanti akan dibandingkan dengan kelas lain. Persiapkan semuanya.(Melangkah keluar).

Anis, Nimas, Wanda, Astri, Mutiara, Gendhis  : “What???”

Tiara, Fira, Kirana, Vita, Dirga, Ines  : “Ergh, memuakkan…”

*****

BABAK III

            Di sebuah ruangan. Waktu telah berjalan 25 menit sejak mereka berkumpul di sana. Bukan karena tak ada yang bersuara, tapi karena belum ada satu ide pun yang sama-sama setuju. Anis, Nimas, Wanda, Astri, Mutiara, dan Gendhis yang merupakan kelompok pencinta Matematika memang tak pernah bisa damai dengan anak-anak teater, Tiara, Fira, Kirana, Vita, Dirga, dan Ines. Mereka bagai musuh bebuyutan. Sedangkan Shima, Rizana, Yono, Iman,Alif, dan Serinda merupakan tokoh netral.

Mutiara           : “Menurut saya naskah yang kalian tawarkan agak aneh.”

Ines                 : “Aneh apanya?”

Mutiara           : “Ya aneh.”

Ines                 : “Kalau cuma bisa kritik tapi nggak tahu yang kritik itu salahnya di mana, itu baru aneh.”

Astri                : “Jangan nyolot gitu. Biasa aja bisa kan?”

Alif                  : “Sudahlah… Jangan terus-terusan bertengkar. Kalian tidak perlu memperebutkan diriku sampai seperti itu. Aku menyayangi kalian semua…, percayalah.”

Rizana             : “Mereka tidak sedang memperebutkan dirimu, Alif.”

Iman               : “Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Dari tadi kita hanya mengisi waktu dengan hal yang tak berguna. Padahal Allah sangat membenci perbuatan yang sia-sia. Sesuai dengan firmanNya yaitu….”

Wanda            : “Ah…jangan bawa-bawa ayat Allah di sisni, nanti ada yang kepanasan.(Melirik anak-anak teater).

Anda               : “Maksud kamu bicara begitu apa? Nyinggung?”

Anis                ; “Udahlah…,kalau terus-terusan kayak gini kapan kelarnya? Mana PR Matematika besok harus diantar.”

Tiara               : “PR Matematika aja ingat. Ini drama gimana? Kalau naskah ini kalian nggak setuju, apa kalian mau buat naskahnya?”

Ines                 : “Mana bisa…! yang ada di otak mereka kan Cuma rumus. X, Y, Z,integral apalah…!

Nimas             : “Mana ada rumus gituan? Ngarang…!

Anak teater     : “Nggak boleh begini. Nggak boleh begitu. Harus apalagi, harus apalagi. Ku ngomong begini. Kau ngomong begitu. Nggak nyambung lagi, nggak nyambung lagi. Bete..bete ah. Basi…basi lo. Lama-lama aku bisa jadi gila.”

Anak MTK     : “Ada satu hal yang tidak kusukai dari kamu dan paling sering kau ulangi. Kadang-kadang bikin ku ill feel. Kadang-kadang bikin ku ill feel. Tiap hari aku, tiap hari terus hanya mendengar kau mengeluh dan mengeluh. Kadang-kadang bikin ku ill feel. Kadang-kadang bikin ku ill feel.”

Anak teater     : “Ku hanya beri tahu, tapi terjadi lagi.”

Anak MTK     : “Eh…eh,kok gitu sih,  lo kok marah…?”

Anak netral    : “Jangan gitu kawan, sabar aja teman…”

Dirga               : “Okey, stop debat, stop bicaranya. Saya putuskan, kita tetap pakai naskah yang kami punya. Kita mulai latihan besok sore. Yang tidak setuju silahkan keluar dan sampaikan keberatan kalian kepada Bu Ardini.”

*****

BABAK IV

          Di sekolah. Kelas XII IPA 1

Rizana             : “Gimana ya nilai UH Matematika kemaren?”

Shima              : “Yang terbaik adalah kau tak berharap untuk memperoleh nilai lebih dari 60.”

Rizana             : “60? Aku kemaren Cuma ngisi 2 soal. Emang bisa 60?”

Shima              : “Maksudku itu kalau kau mengisi soalnya sampe separoh, oon. Kalau Cuma 2, terjun aja ke laut.”

Yono               : (Berlari masuk lokal)“Ssstt, Bu Marta datang.”

Bu Marta         : (Diam)

Alif                  : “Selamat pagi bu. Ma’af saya telat lagi. Tapi baru 5 menit kan bu. Belum peringatan setengah pertamakan bu?”

Bu Marta         : “Duduk di tempat kamu.”

                          Sontak seluruh kelas menjadi hening. Heran melihat reaksi Bu Marta yang tak biasa.

Bu Marta         : (Irama sedih, Denting). “Ibu kecewa. Sangat kecewa. Ibu tidak tahu lagi harus bagaimana. Apa salah ibu selama ini? Kalian membuat ibu merasa tak berguna. Demi Allah anak-anak, ini pertama kalinya ibu merasa sesakit dan sekecewa ini. Jam pelajaran ini terserah mau kalian isi dengan apa. Dan…dan tolong nanti sampaikan dengan ibu, siapa guru yang kalian anggap lebih bisa membimbing kalian. Biar ibu sampaikan pada kepala sekolah. Siapa tahu guru baru itu dapat meningkatkan jumlah orang yang tidak perbaikan. Enam orang dari 18 siswa memperoleh nilai 100, selebihnya tak sanggup untuk ibu katakan.”

Bu Marta         : “Iman, bagikan nilai ini…! (Setelah itu ibu Marta pun pergi meninggalkan kelas itu dengan mimik wajah yang penuh kekecewaan).

*****

BABAK V

            Beberapa saat setelah Bu Marta keluar, kelas masih hening. Yang terdengar hanya langkah kaki Iman yang mondar mandir ke sana ke mari membagikan kertas UH Matematika.

Anda               : “Sudah kuduga…”

Ines                 : “Berapa?”

Anda               : “100…dikurang 90.”

Kirana             : “Hhh.., sudah jelaskan siapa-siapa saja yang dapat nilai 100 itu. Kita mana bisa berharap. “

Tiara               : (Tertawa lirih). Mau gimana lagi, aku tak suka Matematika. Pelajaran ini membuatku mau muntah.”

            Enam orang anak yang mendapat nilai 100 tak lain tak bukan mereka adalah Anis, Nimas, Wanda, Astri, Mutiara, dan Gendhis  menghampiri kursi anak-anak teater.

Astri                : “Puas? Bangga dapat nilai segitu?”

Fira                 : “Kamu mau menyalahkan kami? Eh…, kalian pikir kami sengaja dapat nilai segini? Asal kalian tahu ya, kalau kami bisa dapat nilai 100 seperti kalian, kenapa mesti cari nilai rendah?”

Mutiara           : “Kalian memang tidak sengaja dapat nilai segitu, tapi kalian sengaja mau membuat Bu Marta merasa bersalah.”

Gendhis          : “Sudahlah. Mereka tak akan mengerti perasaan Bu Marta. Karena mereka cuma mengerti seni dari luarnya saja. Mana ada orang yang benar-benar mencintai seni sanggup menyakiti orang lain, apalagi gurunya sendiri.(Berbalik).

Anak teater     : “Apa mauku, apa maumu. Slalu saja menjadi satu masalah yang tak kunjung henti.”

Anak MTK     : “Bukan maksudku, bukan maksudmu. Untuk selalu meributkan hal yang itu itu saja.

Shima, Rizana, Yono, Iman, Alif, dan Serinda :

 Mengapa kita saling membenci awalnya kita slalu memberi. Apakah mungkin hati yang murni sudah cukup berarti. Ataukah kita baru mencoba memberi waktu pada logika. Jangan seperti selama ini hidup bagaikan air dan api.”

*****

 

BABAK VI

Dirga               : “Serinda, kamu berperan jadi temannya Astri.

Serinda            : (Berakting). “Teman, badai ini pasti berlalu. Malam boleh memberi gelap sesuka yang ia mau. Tapi ia tak akan mampu mengingkari bahwa pagi akan datang. Mentari akan terbit. Dan kau harus tersenyum.”

Astri                : “Ya. Pagi pasti datang. Ia akan datang dengan segala kerendahan hatinya. Ia yang tersenyum tanpa cela, ia yang…”

                          “Sori, lupa lagi.”

Fira                 : “Kamu tuh bisanya apa sih? Kayaknya cuma bisa lupa ya. Ini nih kalau kepala isinya cuma rumus. Nyusahin orang.”

Nimas             : “Aku lagi ya. “Jika jalan itu memiliki ujung, maka kau pasti kutuntun hingga akhirnya. Jika ini adalah perhentian, kupastikan kau yang pertama ada di sini.”

Anda               : “Kamu bisakan lebih puitis. Karakter kamu tuh sama sekali nggak kelihatan kalo gitu aktingnya.

Anis                : “Kapan benarnya, semua salah.”

Anak MTK     : “Mengikuti kamu lama-lama malah pusing. Bisa buat aku sinting. Gara-gara kamu. Menuruti kamu cuma bikin aku tolol. Otak bisa tambah jebol. Gara-gara kamu. Kita memang beda. Nggak bisa sama-sama selamanya. Kita memang lain jangan main-main lagi. Menggauli kamu duniaku jadi miring. Bikin ide makin gering. Gara-gara kamu.”

Tiara               : “Kalian mau latihan tidak?”

Wanda            ; “Yang tidak mau latihan siapa? Yang marah-marah terus juga siapa? Bingung, kenapa ada orang yang bisa suka sama dunia nggak pasti kayak gini. Dunia yang penuh dengan kepura-puraan.”

Kirana             : “Eh…, kalau bicara hati-hati. Jangan sembarangan menghina.”

Shima & Alif  : “Sudah…jangan bertengkar lagi.”

Yono               : “Kita ini bukan anak kecil lagi. Ayolah berpikir… “

Rizana             : “Kalian semua seperti orang yang tak punya pendidikan. Tak ada yang mau mengalah. Semua mau menang sendiri. Sadar dong, ini bukan lomba. Kita itu tim. Satu tim.”

Iman               : “Anugerah yang terindah yang diberikannya kepada sluruh umat di dunia. Ada rasa cinta yang memberi arti kehidupan ini. Kalanya ada pengorbanan tuk buktikan nilai cinta tapi mengapa masih ada rasa dendam permusuhan antara kita. Tiada sempurna cinta manusia hingga dia mampu mencinta sesamanya tanpa ada perbedaan. Tiada sempurna cinta manusia tanpa berbagi rasa kasih suci anugerah yang indah.”      

Gendhis          : “Aku mau pulang. Besok ada PR Matematika.”

Mutiara           : “Aku ikut.”

            Anak MTK yang lain pun berlalu dari tempat itu. Keluar mengikuti langkah Gendhis.

Anda               : “Ergh… Memangnya cuma mereka yang punya urusan.”

Dirga               : (Berteriak kepada anak MTK). “Besok latihan lagi di sini jam dua.”

Ines                 : “Awas kalo telat, apalagi kalau nggak datang. Liat aja nanti.”

*****

BABAK VII

           Waktu telah berjalan 45 menit dari pukul dua. Anak-anak teater masih duduk tanpa ekspresi di ruangan tempat mereka biasa latihan teater. Wajah mereka mengisyaratkan kemarahan yang siap meledak.

Fira                 : “Sudah hampir satu jam. Mereka benar-benar tidak datang.”

Tiara               : “Mereka benar-benar cari masalah.”

Kirana             : “Masalahnya mereka benar-benar tidak menghargai kita. Tak ada satu pun dari mereka yang datang.”

Iman               : “Sudahlah… mungkin mereka sedang ada masalah. Kita jangan berpikir negatif dulu.”

Yono               : “Iya. Mungkin mereka sedang ada halangan.”

Alif                  : “Memangnya ada apa dengan mereka? Mereka ada masalah? Masalah apa? Tabrakan? Ada yang luka?”

Shima & Rizana : “Diam. Jangan bicara.”

Alif                  : “Jadi mereka sampai tidak bisa bicara? Segitu parahnya…”

Shima & Rizana : “Alif…!!!”

Alif                  : (Diam).

Ines                 : “Mereka akan menyesal berbuat begini. Aku pulang.”

Dirga               : “Aku juga pulang. Ada urusan.”

Semua             : (Diam)

*****

 

BABAK VIII

            Bel tanda bahwa pelajaran telah dimulai berdenteng sejak 15 menit yang lalu. Namun kelas XII IPA I masih belum kedatangan guru. Murid-murid bagai anak ayam kehilangan induk. Di sudut, anak-anak teater tampak berbsik-bisik sesama mereka sambil sesekali memandang kearah anak-anak MTK.

Ines                 : “Duh…, sori ya. Kemaren aku lupa kalau ada janji sama kalian. Ma’af ya…”

Tiara, Kirana  : “Jangan kau kecewakan aku lagi. Aku nggak mau menderita lagi. Jangan ingkari janji. Aku nggak mau terbawa emosi. Jangan biarkan aku sakit hati. Jangan ingkari janji. Cinta dan kepercayaan yang kuberikan jangan sampai kau sia-siakan. Jangan ingkari janji.”

Ines                 : “Tapi kemaren aku nggak sengaja. Ma’af ya… janji deh, nggak bakalan ngulangin lagi.”

Fira, Anda       : “Jangan-jangan kau bohongi aku lagi. Banyak bicara Cuma basa-basi. Coba ingkari janji.”

Dirga               : “Semua yang kau inginkan slalu kuberi. Kulakukan semua walau sampai mati. Jangan ingkari janji. Kebebasan yang kamu dapatkan bukan cerita yang boleh sembarangan. Kamu sudah berjanji. Jangan ingkari janji. Mending jangan berjanji.”

Anak teater     : (Tepuk tangan).

Astri                : (Datang mendekat). “Kalian nyindir kami?”

Anda               : “Merasa ya?”

Mutira             : “Kemaren siang kami kerja kelompok Matematika. Tak bisa ditinggalkan. Kami mau ngasih kabar, tapi…”

Fira                 : “Tidak perlu bela diri. Yang jelas kami nunggu kalian sampai hampir satu jam. Kalian pikir Cuma kalian yang punya urusan? Kami juga.”

Ines                 : “Urus saja Matematika sana. Tidak perlu latihan lagi. Buat hidup kalian penuh dengan Matematika.”

Yono               : “Sudahlah…, yang sudah lalu biarlah berlalu.

Rizana             : “Iya. Kita jangan saling menyalahkan lagi.”

Anda               : “Eh, kamu bisa diam kan?(Menatap Rizana). “Mereka ini memang benci sama kami. Puas kalian?”

Anis                : “Dengarkan dulu…”

Shima              : “Ssstt, Bu Andini….”

Bu Ardini       : (Menghela nafas).(Diiringi irama lagu Melly KD, Cinta). “Ibu baru tahu tentang semua ini. Tidak pernah berharap semua ini akan terjadi. Ibu menyayangi kalian semua. Tapi kenapa kalian semua seperti ini? Kenapa kalian harus saling membenci? Matematika, teater, puisi, atau apalah itu kenapa harus kalian permasalahkan. Perbedaan bukan berarti permusuhan.” (Diam sejenak). “Kalian tahu, karena perbuatan konyol kalian ini kalian telah melukai hati ibu. Ibu sedih. Ibu tidak mau ada cinta seperti ini.”

Anak teater     : “……”

Bu Ardini       : “Bukan hanya ibu. Bu Marta pun telah kalian sakiti. Apakah harus, jika kalian telah menyukai Matematika, teater kalian benci? Atau jika menyukai teater, maka Matematika ditinggalkan? Kalian belajar dari mana? Belajarlah untuk menghargai…”

Anis                : “Ma’afkan kami…”

Bu Ardini       : “Bukan ma’af yang ibu harapkan. Ibu tidak berharap kalian meminta ma’af pada ibu. (Diam, menarik nafas). “Yang ibu mau, kalian menyadari kesalahan kalian. Perbaiki dan jangan ulangi lagi. Nanti ibu akan bicara kepada kepala sekolah, penampilan drama seluruhnya dibatalkan. Kalian boleh bernafas lega.”

Dirga               : “Ibu jangan… Kami…,kami tidak akan mengulanginya lagi. Ma’afkan kami.”

Bu Ardani       : (Menghela nafas, lalu pergi).

*****

BABAK IX

              Hujan masih belum reda. Dingin angin yang bertiup menampar-nampar kulit yang tak terlindungi oleh kain begitu terasa. Enam orang anggota klub Matematika tampak duduk terdiam di kursi. Belum ada yang mau membuka suara.

Anis                  : “Aku yang salah.”

Wanda              : “Anis…”

Anis                  : “Andai aku tak sebenci ini. Andai aku tak seegois ini. Andai aku mengalah. Andai aku lebih dewasa. Aku yang menyebabkan semua ini. Aku yang salah.”

Nimas               : “Anis, kita semua salah.”

Mutiara             : “Iya. Kita semua salah. Kau jangan menyalahkan diri sendiri.”

Anis                  : “Mereka membenci Bu Marta karena kita. Karena aku. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak pernah mau berbagi dengan mereka. Aku yang membuat bu Marta dibenci. Aku yang jahat.”

Astri                  : (Memeluk Anis). “Kalau kau salah, berarti kami juga.”

Gendhis            : “Selama ini kita sama-sama. Senang, sedih, selalu sama-sama. Kenapa sekarang kau pikir kau sendirian? Kami masih di sini. Tak akan kemana-mana.”

Wanda, Nimas, Astri, Gendhis, Mutiara  :

                          “Sahabat sejatiku hilangkah dari ingatanmu. Di hari kita saling berbagi. Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu tuk’ perlihatkan semua tentangku. Kita slalu berpendapat, kita ini yang terhebat. Kesombongan di masa muda yang indah. Aku raja, kau pun raja. Aku hitam, kau pun hitam. Seperti teman lebih dari sekedar materi. Pegang pundakku jangan pernah lepaskan. Bila ku mulai lelah, Lelah dan tak bersinar. Pegang sayapku jangan pernah lepaskan. Bila ku ingin terbang, terbang meninggalkanmu.Aku slalu menyanjungGambarku. Kau pun slalu menyanjungmu. Aku dan kamu kadang abadi. Kita bermain bersama, kita luangkan sgalanya. Merdeka kita, kita merdeka.”

Anis                : (Tersenyum). “Terima kasih…”

            Di tempat lain. Berkumpullah pula anak-anak anggota teater, Tiara, Fira, Kirana, Anda, Dirga, dan Ines.

Tiara               : “Sekarang gimana?”

Fira                 : (Menggelengkan kepala). “Aku tak tahu…”

Dirga               : “Kita minta ma’af sama mereka. Kita hentikan semua permusuhan ini. Sudah terlalu jauh kita melangkah, tapi tanpa dasar yang benar.”

Anda               : “Kita mengaku salah?”

Kirana             : “Sudahlah…, jangan lagi dipermasalahkan tentang salah atau tidak. Yang jelas kita harus mengembalikan suasana yang sedang kacau ini.”

Ines                 : “Ergh…, kenapa harus terjadi seperti ini. Aku benar-benar tak menyangka Bu Ardini akan sekecewa itu. Aku menyesal.”

Dirga               : “Kita pergi minta ma’af. Kita hilangkan semua rasa benci kita kepada mereka. Lagipula kita sebenarnya tak punya dasar yang jelas untuk membenci mereka. Hanya karena iri. Mereka terlalu pintar. Terlalu lebih…”

Tiara               : “Kita harus lebih baik setelah ini.”

*****

BABAK X

Anis                  : “Kami minta ma’af… buat semuanya. Buat semua kesalahan kami.”

Ines                   : “Kami juga. Seharusnya kami yang minta ma’af. Kami yang salah. Kami benci pada kalian hanya karena merasa kalian terlalu tertutup dan tak mau bergaul dengan kami. Padahal kami juga begitu. Tak mau terbuka pada kalian.”

Semua               : (Tersenyum).

              Tiba-tiba Iman datang sambil tersenyum.

Iman                 : “Nah…, gitu donk. Saling terbuka. Kan kalau semuanya dibicarakan jadi jelas. Tak akan ada yang salah paham. Dan sudah tak sepantasnya pula lah kita saling bermusuhan di muka bumi ini. Padahal kita semua bersaudara.”

Shima, Rizana, Yono, Iman, Alif, dan Serinda :

                           “Setiap manusia di dunia, pasti punya kesalahan. Tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui. Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati. Hanya yang berjiwa satria yang mau mema’afkan. Betapa bahagianya punya banyak teman, betapa senangnya. Betapa bahagianya,dapat saling menyayangi. Mensyukuri karuniaNya.”

*****

 

 

 

 

BABAK XI

              Hari ini mentari bersinar cerah. Sangat cerah. Burung-burung yang tak pernah berkicau, pagi ini turut nimbrung memamerkan suaranya. Langit putih bersih. Semua terasa indah. Seindah kebahagiaan yang Tuhan berikan.

Bu Ardini         : “Anak-anak yang ibu sayangi. Kemaren kalian telah berjuang menampilkan drama kalian di depan semua penghuni sekolah ini. Dan kalian berhasil. Tapi bukan hanya keberhasilan itu yang kalian peroleh. Kalian telah memperoleh yang lebih dari itu. Yaitu arti Memahami itu sendiri. Kalian telah menemukan apa arti memahami.

Bu Marta           : “Kalian telah mengerti bahwa berbeda tak harus menghilangkan cinta. Justru dari perbedaan itulah kita belajar untuk bersatu. Karena kalau sudah sama, tak ada artinya perjuangan untuk memahami.”

Bu Ardani         : “Dan do’a kalian terkabul. Drama kalian meraih juara I.

Semua               : “Ye….Yuhu..”

Semua               : “Tak pernah kusangka aku di sini bersamamu dalam mimpiku. Setiap langkah ini begitu berarti, mengubahku juga hidupku. Tidak mudah tuk lewati hari sulit tanpamu. Dan kau hadir saat tangis dan tawaku. Engkau ada dan tlah merangkai hatiku. Semua cinta yang telah kau beri, yakinkan aku tuk bermimpi. Dan kemenangan ini milik kita. Kadangku merasa tak akan mampu melewati beratnya hari. Tapi keyakinanmu pada diriku membuatku berdiri lagi. Kutetap tuk melangkah, genggam erat tanganku.”

SELESAI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s