Aku beruntung memiliki mereka sebagai keluargaku (1)

Abah.

Tak pernah ada laki-laki sehebat ia.

Yang tak pernah bosan mendengar celotehku tiap pulang sekolah.

Yang selalu bangun paling awal dan membuat kegaduhan agar kami anak-anaknya tak terlelap lagi.

Ia yang selalu mendongeng satu cerita yang sama setiap hari.

Mengulang itu dan itu.

Abah adalah guruku yang terhebat.

Tak ada laki-laki sehebat ia.

Karena ia, aku menjadi diriku.

HIDUP GUA INI!

“Hidup gua, gua yang jalanin, so suka suka gua lah”

Haiya, satu lagi nih diskusi panjang yang menggelitik.

Benar ga sih kalo hidup kita ya punya kita? Hem, kalo dipikir lagi, nyatanya secara total ga ada SESUATU apa pun di diri kita yang MUTLAK punya kita.

Maksudnya?

Yah, pikir aja, hidung mancung kamu, punya siapa? Punya kamu?

Kaki, tangan, punya siapa?

Rambut, mata, punya siapa?

Kita pasti sepakat, semua itu bukan punya kita.

Total, itu milik Dzat yang menciptakan kita. Yang meniupkan ruh dalam jasad kita. Semua milik Dia.

Tapi karena sombongnya manusia, dia mikir tubuh dan hidupnya punya dia. Jadi, terserah mau dia apain juga. Mau dipake buat apapun matanya, tangannya, hartanya, usianya, semua terserah dia.

Padahal, suatu saat Dia akan minta balik semua yang udah Dia pinjemin ke kita. Ga bakalan lama, semua pasti diminta kembali. En kita tinggal diminta pertanggungjawaban, apa yang udah kita lakuin dengan ‘barang-barang’ titipan itu.

Terus?

Pada dasarnya, Dia nitipin semua hal ke kita, ga dengan semauNya. Dia kasih buku panduan ke kita. Dia kasih aturan yang semua udah Dia sesuain dengan kemampuan dan fitrah nya kita yang terbatas.

Tapi, lagi-lagi karena sombong, kadang manusia sukanya sok pinter. Bikin aturan main sendiri. Seakan dia ngerti. Padahal, nyatanya ga tau dan cuma bawa kerusakan.

So, simple aja. Sadar bahwa Dia pemilik hidup kita sehingga wajib buat kita patuh sama seluruh aturanNya.

Bahasa SD-nya nih ya, “mematuhi semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya”.

Cara tau aturannya?

Ya belajar!

Dia kasih akal yang cuma manusia yang punya. Ya dipake buat mikir. Lha wong aturannya udah tertulis. Jelas bahkan.

Jadi apa yang bikin susah?

Ga ada, kecuali kita kelewat sombong.

_mari beristighfar []