monolog diskusi inspiratif

menulis, membaca ulang, sampe sesi terakhir tampil membawa monolog ini: CAPEK NANGIS

Huft.

(musik kehidupan bahagia)

Orang bilang, masa muda, masa yang indah

Ya, memang indah

Aku, kau, kita semua berada pada masa itu, hari ini, sekarang

Dengan usia muda, tubuh yang penuh energi, waktu yang luang, ya dengan itu semua, apapun bisa kita lakukan

Bebas, bebas semaumu, semauku

Bukankah begitu?

Tapi…

(musik demi masa)

Tidakkah aku begitu naif?

Dalam usia ku kini, apa yang telah kulakukan?

Bersenang-senang di akhir minggu karena beban tugas kuliah terlalu berat?

Hura hura menghabiskan uang orang tua.

Membeli barang-barang yang pada dasarnya tak aku butuhkan.

menonton film yang membangkitkan nafsu dunia.

Hhh, tapi aku tentu tak seburuk itu

Aku masih peduli pada negeri ini

Setidaknya aku bercita-cita untuk bermanfaat bagi orang lain

Yah, walaupun proses itu tak mudah

Aku akui, sekarang aku memang masih belum ‘baik’

Teman-temanku pun begitu

Memang, kami suka telat, tapi ga telat telat amat

Memang, kami suka ngobrol pas kuliah, tapi ya itu karena kuliahnya bikin boring

Nyontek? Aku ga muna, aku pernah melakukan itu, ya wajarlah kan.

Manusia pasti punya salah.

Yahh, sejauh masih aman, biasa saja bagiku.

(diam)

Tapi, jujur semua itu ya lahir dari pikiranku sendiri.

Benar salah aku tentukan sendiri.

Aku tak pernah bertanya pada dosen, benar atau salah perbuatanku.

Apalagi…, bertanya pada Allah,

Benarkah yang kulakukan?

Benarkah?

Atau semua hanya ‘pembenaran’ yang menunjukkan bukti bahwa aku tak mau diatur oleh aturan Tuhanku?

Aturan yang kata nya memuliakan, katanya sesuai dengan fitrah ku sebagai manusia.

Ah, aku akan pikirkan itu nanti.

Tapi nanti kapan?

Saat aku sudah tua?

Saat kaki kaki ini telah  mulai bergetar ketika dilangkahkan?

Saat mata mulai rabun?

Saat suara mulai tercekat?

Kapan?

Kapan?

(musik sendu, ayat ttg kematian)

Sedemikian dekatkah kematian?

Sedemikian dekatkah?

Ah, apa yang telah kulakukan.

Apa ini semua.

Arghh, jangan menghantuiku wahai pikiran.

Bukakah dosaku ya dosaku.

Kalau aku berbuat salah, ya ga ada hubungan dengan orang lain.

(tampil hadist kapal)

Jadi, jadi, ketidak pedulianku pada lingkunganku, akan menghancurkanku?

(ayat ttg orang tua yang turut menderita)

Apa? Apa maksudnya?

Tidak, jangan ibuku. Jangan ayahku. Jangan!

Bukankah ibu yang melahirkan, membesarkan, menyayangi diriku?

Bukankah ia yang aku panggil ayah yang berjuang menghidupi melalui tetes keringat dan lelah

Bukankah raut keriput dan kasarnya tangan mereka adalah bukti cinta mereka pada ku

Bukankah mereka yang menjadi dorongan hingga aku masih berdiri hingga hari ini?

Bukankah mereka yang ingin aku masukkan ke dalam surga?

Bersama sama, berjalan memasuki surga firdaus, bermain di tepi kolam yang airnya seputih susu

Berada di atas dipan dipan berdindingkan cahaya

Hari ini, aku, mungkin juga banyak diantara kita yang tak mampu leluasa menyapa orang tua kita

Memanggil nama mereka, “Ah, ayah”, “Wahai, Ibu”

Tak mampu leluasa melihat wajah mereka

Karena kita terpisah oleh jarak yang tak dekat

Tentu kita tak ingin, tak ingin karena diri kita, dosa-dosa kita justru menjerumuskan mereka ke neraka jahannam

Karena ternyata kesholihan kita yang akan menjadi kunci

Kunci untuk berkumpul dengan mereka di surga kelak

Wahai Allah…

Hari ini aku, hambaMu ini mengaku lelah

Lelah untuk terus lari dan sembunyi dari kenyataan bahwa aku membutuhkanMu

Seakan hidupku, milikku

Padahal nyatanya tak secuil pun sesuatu yang ada pada diriku, mutlak milikku

Lelah, sungguh sungguh lelah

Wahai Allah, dalam usia yang terus mendekati akhir

Izinkan aku berazzam

Izinkan aku meminta padaMu

Aku ingin dekat padaMu, bukan pada yang lain.

Bukan pada kesenangan duniaku, bukan.

Aku hanya ingin dekat dengan rahmatMu

Wahai Allah, izinkan aku mengenal syariat tanda cintaMu

Izinkan aku mengurai ayat demi ayat Al Quran suci yang dibawa kekasihMu

Izinkan lidahku menjadi penyampai kebenaran aturanMu

Izinkan ya Allah…

Andai ini adalah saat terakhirku,

Maka bukakan pintu taubat untukku ya Allah…

(diam, tertunduk)

(MC masuk)

“Wahai generasi muslimah, generasi terbaik seluruh umat manusia.

Siapkah kalian untuk menjadi generasi terbaik yang dijanjikan Allah?

Katakan ‘Allahuakbar!’

Siapkah kalian untuk mentaati syariat Allah diatas aturan yang lain?

Katakan ‘Allahu akbar’

Siapkah kalian menjadi generasi pejuang, yang membela kemuliaan Islam?

Katakan ‘Allahu akbar’

[agak pelan, mulai mencairkan suasana]

Siapkah kalian untuk masuk surga bersama sama?

Katakan ‘Allahu akbar’

(selesai)

Advertisements

2 thoughts on “monolog diskusi inspiratif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s