Ibu: Judul Lama Cerita Baru

Euforia hari ibu mungkin belum begitu kerasa. Isu hukuman dari FIFA buat Indonesia lebih menarik kali ya. Atau mungkin juga orang udah jengah liat tivi, yang ada cuma persoalan pelik korupsi, ditambah lagi, orang ‘pintar’ pada heboh ngebahas kiamat 12 12 12. Lucunya, ternyata keburu sore, kiamat belum ada, dibahaslah yang laen. Dari nikahan masal sampe artis lahiran. Indonesia… Indonesia. Itu beberapa alasan yang mungkin aja. Sama mungkinnya dengan ini: persoalan ibu alias perempuan ga perlu dibahas panjanglah. Nanti aja pas momennya, tanggal 22. Baru kita rayain, kenang kembali jasa ibu. Ucapin ‘Hi Mom, I love you’ atau ‘Ini bunga buat Mama, terima kasih atas jerih payah Mama selama ini’.
Yo wes, terus kenapa? Mau ngomong apa sebenarnya?
Sabar dong. Ini mau mulai dari mana agak bingung. Umumnya sih, runutan tulisan tu kan begini: Fakta buruk – akar persoalannya apa – terus kasih solusi. Nah, kalo ditarik tarik dari momen 22 Desember, apa yang bisa diangkat?
Malah nanya. Situ kan yang mau ngomong.
Astaghfirullah, santai bu.
Oke, kita masuk dengan pertanyaan pertama. Kenapa Ibu? Kenapa ada hari ibu dan tidak ada hari ayah? Karena jasa ibu lebih gede? Karena dalam hadits, Rasul menyebut, ‘Ibumu, Ibumu, Ibumu, lalu Ayahmu’? Atau karena apa?
Jujur, aku pun tak pernah tau kenapa. Ga masalah sepertinya, toh ga ada ayah yang protes. Jadi ‘ketimpangan’ ini tak perlu dipersoalkan.
Jadi, masuk ke pertanyaan kedua: kalau hari ibu ada demi menghargai jerih payahnya, wajarkah peringatannya cuma satu hari dalam setahun? Bukankah jasa ibu sepanjang masa? Sepatutnya tiap hari menjadi hari ibu, karena penghormatan, kasih sayang, pengabdian padanya tak layak habis dan dibatasi waktu. Setuju?
Oke, pertanyaan ketiga: gimana realita perempuan yang menjadi ‘ibu’ hari ini?

a

Perempuan (kebanyakan ibu) katanya DEVISA NEGARA. Anehnya, pulang bukannya bawa uang, justru banyak yang babak belur bahkan ga bernyawa. Loh?b

Kalo kecantikan, ga usah ditanya. Jagonya perempuan Indonesia. Tapi, apa bedanya: ‘diakui cantik’ dengan ‘dihargai karena sekedar cantik’? Untuk menjawab ini, coba kita cari iklan apa yang ga bawa-bawa perempuan? Dari sabun sampe pompa air. Dari cat tembok sampe obat nyamuk. Semua, semua mesti ada perempuan. Jadi, dihargai atau dijadikan ‘barang dagangan’ sih? Nyatanya, perempuan perempuan itu: para IBU, minimal calon IBU.c

Uniknya, ini didukung dengan semakin tingginya tingkat kekerasan pada perempuan. Dan siapapun pasti setuju: mereka adalah para IBU, minimal lagi lagi diulang, mereka adalah calon IBU. Dan yang berikut ini nih: Hhh, rupanya ada juga yang ga mau kalah. Laki-laki korupsi, masa perempuan tidak. Jadilah ini. Srikandi dalam kubangan korupsi. Cantik, berkedudukan tinggi, pintar, dikenal banyak orang, pada akhirnya KORUPSI. Dan mereka semua adalah:IBU.

d

Berhenti dulu. Disini, coba kita lihat. Dengan kemuliaan yang disematkan dipundak seorang ibu, wajarkah mereka berada pada kondisi-kondisi tadi? Kenapa mereka bisa dikelilingi fakta sedemikian parah? Dan siapakah ibu-ibu itu? Muslimah. Mayoritas mereka adalah muslimah. Jadi gimana? Mengutip paragraf yang kucomot dari suatu tempat, silakan baca.

e

dilanjutkan dengan paragraf ini,

f

Cukup. Menurutku penjelasan ini cukup bahkan sangat menjawab. Kalau boleh membuatkan alur, mungkin begini:

g

Pertanyaan keempat: apa solusinya? Kalau ku jawab: Islam. Mungkin kau akan beranggapan, “Hhh, ia sih yakin Islam punya solusi. Tapi caranya gimana?” atau “Ni orang ujug ujug Islam, persoalannya, aturan yang gimana yang bisa nyelesain ini masalah?”
Oke, itu tanggapan yang bagus. Sebagai awalan: ketidaktahuan tentang bagaimana Islam menangani persoalan perempuan berbeda dengan meragukan kebenaran Islam. Kamu pasti sudah yakin Islam mampu, tapi ga tau/bingung gimana caranya. Untuk pembahasan itu, kita bahas di opini/diskusi berikutnya. Puanjaaang pisan kalo ditulis di sini. Dan kau pasti punya banyak pertanyaan: memang perempuan kerja ga boleh? Emang ini, emang itu, bla bla bla. Itulah makanya kita mesti diskusi.
Nah, sedikit sebagai penutup [sementara], Allah berfirman, “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui” [TQS.al-Mulk: 14].
Kembalilah pada sistem dan aturan dari Allah saja. Cukup itu. Bukti berhasil? 13 Abad Islam mengatur dunia, zaman keemasan itu diakui. Kurang apalagi?
Oke, tulisan ini kusebut ‘judul lama’, karena membahas tentang ‘ibu’, sejak dulu orang udah ngebahas topik ini. Tapi ‘cerita baru’ karena membuat sudut pandang yang lebih dari sekedar cerita manis kisah seorang ibu. Hari ibu itu: Hari mencampakkan Kapitalisme dan berganti ke Islam. Pertanyaan terakhir: Bagaimana menurutmu?

Diskusi: Arini | 0852 1094 2539
_berbagi ide, saling mengoreksi adalah salah satu wujud nyata kepedulian kita. Jika dari lubuk hati yang terdalam, kau merasakan fakta yang sama terkait penderitaan ibu masa kini, kenapa kita tidak mencoba berbagi? Bukankah kelak, aku, kau, kita pun akan menjadi ibu? Inginkah kita menelan kepahitan ini kembali? Atau kah kita memilih menjadi buah bibir anak cucu kita dalam catatan kemuliaan? Inilah pilihan. Aku memilih menyampaikan ini. Kau? []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s