Karena Kita: Manusia!

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [TQS. Ar-Rum: 41].

 

KARENA KITA: MANUSIA!

Ada apa di koridor fema? Ada PEM. Apa itu PEM? PEM artinya pekan ekologi manusia. Sebuah pameran yang dirancang sebagai tugas akhir semester mata kuliah Ekologi Manusia. Apa sih esensi ekologi manusia ataupun PEM? Yup, pertanyaan bagus. Sebelum jauh jauh, kita setidaknya harus menyamakan pandangan, bahwa bicara ekologi, artinya kita bicara diri kita. Siapa diri kita? Manusia, ya manusia. Manusia dengan semua kelebihannya (keutamaan karena mampu berpikir), dari masa ke masa menjadi penentu kondisi lingkungan. Lingkungan adalah pola yang terbentuk akibat pikiran manusia. Lingkungan yang baik, karena manusia mengelolanya. Pun lingkungan yang buruk, manusia pula yang punya ulah.

Namun, fakta hari ini bicara: ada KRISIS EKOLOGI dimana mana. Lingkungan rusak, dari darat hingga ke laut. Masyarakatnya miskin, terjadi kekerasan dimana-mana, kejahatan, pendidikan mahal, kesehatan mahal, pangan mahal. Yang kaya menjajah si miskin. Eksploitasi sana sini. Inilah KRISIS EKOLOGI. Terjadi di negeri kita sajakah? Tentu kita sepaham, di negeri gembong Kapitalis sejati sekalipun, beginilah faktanya. Bahkan lebih parah lagi. Apa yang menyebabkan semua ini terjadi? Allah SWT berfirman, “Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri” [TQS. Asy-Syura: 30]. Nah lo, Allah ga mungkin boong kan? Memang nya kenapa sih, kok manusia? Ya, karena kita yang bikin aturan sendiri. Aturan yang mudah dipengaruhi sama kepentingan pribadi atau urusan kelompok. Namanya manusia, hari ini pendapatnya begini, besok begitu. Sesuai untuk si A, ga cocok buat B. Begitulah akal manusia: terbatas, dipengaruhi waktu dan tempat dimana ia berada.

Jadi gimana? Apa yang mesti dilakukan dengan kondisi yang memang rusak? Pertama: sebagai dokter yang mau kasih obat, kita mesti paham apa akar persoalan ini. Dan kita bisa dapati, akal manusia yang jadi rujukan aturan lah akar problemnya. Jadi ini yang mesti diganti. Lha terus, kita pake aturan apa? Ya aturan dari Allah. Pencipta yang menghidupkan kita. Membentangkan laut berdampingan dengan daratan. Mendirikan gunung dengan hiasan pepohonan. Pada Dialah semestinya aturan ini bermula. Kedua, sebagai mahasiswa (yang katanya agen perubahan), tentu tak selayaknya kita ngasih solusi permukaan. Misal ada sampah, terus solusinya hanya ‘ya kita rombak’. Kita bukan pemadam kebakaran kakaks. Sepatutnya kita mampu berpikir, solusi mendalam bagi sebuah persoalan serta pihak pihak mana yang berkaitan disini. Pun bukan sekedar perbaikan individu atau kelompok, tetapi tentunya perubahan yang digagas hingga negara dan sistemnya. Ketiga, sadar atau tidak, sistem kapitalis yang berorientasi ‘materi’ dan mengutamakan kebahagiaan pemilik modal ini lah sumber kerusakan. Standar baik buruk lahir dengan ukuran uang. Jadilah, anak cucu bertemu dengan ekologi yang rusak, rusak, rusak.

Teman, PEM hari ini, lebih dari sekedar tau bahwa ekologi kita sedang rusak. Bukan pula untuk menjadi ‘ajang kehebohan’ dengan desain stand masing-masing. PEM selayaknya menyadarkan kita bahwa MANUSIA berperan besar untuk MENJAGA EKOLOGI. PEM sepatutnya mendorong kita berpikir kembali, siapa yang kita harapkan dapat menjaga lingkungan kalau bukan kita, MANUSIA?

Bukan karena hari ini PEM, lalu kita peduli. Bukan karena ada pameran, kita ada di sini. Tapi, karena kita MANUSIA yang berpikir, makanya kita PEDULI.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [TQS. Al-A’raaf: 179].

Diskusi: Arini 0852 1094 2539

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s