mimpi mereka, itulah mereka

Kau tau, kau bisa mengenal orang dari mimpi mereka. Semakin tinggi dan hebat mimpi mereka, itulah mereka sebenarnya. Demikian pula, mereka yang ber-asa ‘kecil’ dan ‘rendah’, pun itu gambaran diri mereka: rendah dan kecil. Kau akan bermimpi apa?

Setelah beberapa lama ga nulis di sini, kangen juga :). Sekarang mampir lagi dan ingatan masa lalu pun ikut hadir. Ga ridho mendam dalam hati, haha.

Jadi ceritanya, di kelas PTN46, mau bikin buku tahunan. Temanya metamorfosis. Continue reading “mimpi mereka, itulah mereka”

Advertisements

Anak Langit

Seribu janji di buat tapi tak ditepati menumbuhkan sakit yang tak sebentar. Tapi satu janji yang dipenuhi membuatku ingin mengatakan: “Tu kan, kau bisa nepatin satu janji, kenapa ga semua nya ditepati?!”

Malam, kau tersenyum seperti biasa, mengusap kepalaku dan berujar, “dasar…”

Hari ini, sama seperti kemaren, dan kemaren lagi. Hujan masih setia menghiasi langit. Kaca kaca jendela menjadi tentara penjaga hawa, terbasahi dengan embun yang memutih. Ah, daun sesekali menggigil. 

Aku bilang padamu, aku suka memandang langit. Kadang, awan seperti menceritakan kisah yang berbeda dalam geraknya. Aku ingat dalam jarak yang memisahkan kita, langit kita tak pernah beda.

Langitku terhiasi. Khatulistiwa tak perlu kau tanya.

 

Jika hari ini berakhir, kita pernah ada. Kau cukup percaya itu.

Langit Gaza. Abu, menghitam. Gumpalan asap dan bunyi dentuman.

“Ibu, apakah langit kita sama dengan mereka?”

Maryam mengencangkan selimut ke tubuh mungil Isa, “Nak, kelak kau akan mengerti. Langit kita tak pernah beda. Langit yang menaungi Adam dan Hawa.”

 

 Gambar

karena aku muslim

Sabtu, 06 Februari 2010

Entah helaan nafas yang keberapa kalinya sudah aku keluarkan sejak duduk lima menit yang lalu di depan jendela kamarku. Berharap akan ada semilir angin yang menghembuskan jawaban atas kegusaran jiwa. Gemerisik dedaunan yang mengalirkan irama kehidupan, begitu ku dambakan. Aliran air sungai yang terdengar samar dikejauhan menambah kesejukan. Matahari yang merayap…

“Woi Lani Nupita Sari. Ngapain bengong? Continue reading “karena aku muslim”

.biarkan mentari bersinar.

mungkin kau bilang saja aku berisik karena selalu mengoceh. atau kau lepaskan daun pintu di pagi buta dan biarkan aku sendiri. tapi kau cuma akan bertemu lelah, karena mentariku akan selalu bersinar untukmu.

 

Hari ini mencoba berangkat ujian, mungkin tepatnya memaksakan ujian. Kakak sudah mewanti aku untuk izin saja karena khawatir aku tak kuat. Tapi aku lebih malas untuk menghadapai ujian susulan, haha.

Benar saja, baru keluar rumah, angin membuat aku yakin aku sedang sakit. Tapi sudahlah, tanggung. 

Semua lancar.

Ujian? Alhamdulillah, ada Allah. Badan? Ga kenapa napa. Semua baik.

Terus? 

Cuma merasa rindu dengan rutinitas yang biasa kulakukan, rutinitas luar biasa dengan mereka yang tak biasa 🙂

Gambar