karena aku muslim

Sabtu, 06 Februari 2010

Entah helaan nafas yang keberapa kalinya sudah aku keluarkan sejak duduk lima menit yang lalu di depan jendela kamarku. Berharap akan ada semilir angin yang menghembuskan jawaban atas kegusaran jiwa. Gemerisik dedaunan yang mengalirkan irama kehidupan, begitu ku dambakan. Aliran air sungai yang terdengar samar dikejauhan menambah kesejukan. Matahari yang merayap…

“Woi Lani Nupita Sari. Ngapain bengong? Belom dapet kiriman yah?” Terdengar cekikikan hangat mengiringi teriakan Intan. Aku melirik malas. Ada Ratih, Dwi, Lintang, Gladys, Ni Putu, dan tentunya Intan si Bu RT, begitu biasa kami memanggilnya. Mereka sedang berderet menjemur pakaian. “Miss Lani nggak mau ikutan kita-kita nih”, Gladys menimpali. Kutarik sebelah bibirku ke atas, lalu ngeloyor ke kasur. Brukk, kuhempas badanku. Samar-samar masih kutangkap perbincangan teman-temanku. Ah, biarlah.

Beginilah hidupku. Sejak lima bulan yang lalu aku harus tinggal di asrama bersama seluruh teman-temanku sesama mahasiswa baru. Ya, aku adalah mahasiswi baru di sebuah universitas negeri di ibu kota. Kewajiban tinggal di asrama selama satu tahun membuatku berada di ruangan ini. Sebuah ruangan yang ukurannya tak lebih dari …  _hanya sepersekian dari luas kamarku_ yang akhirnya menjadi tempatku makan, minum, tidur, belajar, dan beragam rutinitas lainnya. Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa aku tak sendiri, tepatnya ruangan ini milikku dan tiga orang temanku. Proses adaptasi yang kulalui cukup sulit mengingat ‘kemewahan’ yang sebelumnya kudapat yang tak mungkin kubawa saat ini.

Sejujurnya aku sih tak merasa begitu bermasalah dengan kewajiban asrama. Banyak hal positif yang kudapat. Bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah, kebiasaan baru yang unik dan lucu, dan tentunya kebersamaan, kepedulian, dan kemandirian yang harus aku dan teman-temanku pupuk disini. Ya, salah satunya agenda mencuci dan  menjemur pakaian seperti tadi.

Dan sedikit tambahan, kamarku tepat disamping ‘taman’_berat hati aku menyebutnya taman_ tempat menjemur pakaian. Hari sabtu seperti hari ini adalah hari mencuci sedunia. Silih berganti semerbak bau sabun mengisi ruangan kamarku. Ada untungnya sih, jadi aroma gratisan. Sialnya, tentu saja kau harus melihat ‘benda-benda’ yang seharusnya tak kau lihat. Hhh, inilah hidupku, asal kau tahu. 


Selasa, 09 Februari 2010

“Nur, minggu ini aku kayaknya balik ke rumah deh.”

“Kenapa? Bukannya baru kemaren dirimu pulang? Pulang mulu ih si dia mah.”

Nuri lagi siap-siap kuliah siang. Sekarang dia sedang memasang bros di kerudung lebarnya.

“Teman-teman SMA ku pada mau ngumpul. Kita mau ngerayain V-day bareng-bareng. Kapan lagi bisa seneng-seneng.”

“Saranku mending ga usah.”

“Tapi ga berdua-duaan kok. Walaupun temen-temen pada bawa pacarnya masing-masing, kita ga bakalan ngelakuin yang gimana-gimana Nur.” Aku mencoba meyakinkan.

“Lani, ini bukan sekedar persoalan “ga bakalan ngelakuin yang gimana-gimana”, tapi ini soal perayaan V-day yang bukan budaya umat Islam. Haram hukumnya. Mau dirayain pake pengajian sekalipun yang namanya haram ya haram.”   

“Masa nunjukin kasih sayang di hari itu aja ga boleh sih Nur? Bukannya kasih sayang itu ajaran Islam?” Aku mulai gerah. Ih, ngapain sih tadi pake minta izin segala. Nyesel deh sekarang.

“Lan, bukannya aku udah pernah bilang ke kamu bahwa aturan Islam itu bukan bisa seenaknya disesuain sama A, B, hanya karena ada kesamaan. Aturan Islam itu ada dasarnya. Lagian, kasih sayang dalam Islam itu kan nggak ditentuin harinya, setiap hari, setiap waktu ya buat saling menyayangi sesama manusia,” Nuri mengambil tas sandangnya yang tergantung di sandaran bangku.

“Ya udah deh. Aku ini yang ngelakuin. Yang dosa kan aku, bukan kamu.” Aku terpancing emosi. Kesal. Kulihat Nuri diam. Dari sudut mataku, aku melihat Nuri memakai kaos kaki cokelatnya.

“Lan, kamu percaya kasih sayang di hari valentine, tapi kamu nggak mau percaya kalo semua yang aku jelasin ini wujud kasih sayangku ke kamu. Aneh ga?”

Sabtu, 13 Februari 2010

Pagi

Ini hari ke-4 aku dan Nuri diam-diaman. Sebenarnya ga sampe ga saling sapa sih. Nuri masih mau bicara padaku. Cuma agak canggung. Aku pun sama. Yang jadi soal itu dua orang teman sekamar kami. Putri, anak nutrisi ternak dari Sukabumi, yang pada dasarnya polos, dengan lugunya nanya, “Kalian pada berantem ya? Berantem karena apa sih? Sejak kapan? Kronologisnya gimana?” Wedeh, si Putri, mana ada dalam perang dingin kayak gini yang minat ngejelasin alasan, latar belakang, sampe kronologis pertempuran. Terus beda lagi dengan anak Sulawesi yang mengambil mayor gizi si Mutia, sebenarnya dia tak ambil pusing. Hanya saja dia sangat tidak peka. Dia sama sekali tak menyadari aura berbeda antara aku dan Nuri. Malah dengan santainya dia memintaku mengambilkan sesuatu dari Nuri atau sebaliknya. Misal, “Lan, pinjem slide mate lu dong”, aku menjulurkan hard copy slide ku, tapi si Mutia bukannya menghampiriku buat ngambil slide justru dengan santainya, “Nuri, minta tolong dong. Nggak nyampe, mau jalan capek”. Kalau sudah begitu, aku dan Nuri yang salah tingkah.

Aku pikir, well meski kondisinya buruk begini, kalian mesti yakin aku masih bisa mikir. Setidaknya otakku berfungsi buat ngambil sesuatu pelajaran alias ‘ibrah’. Itu bahasanya Nuri. Nah lo, kok jadi keingetan Nuri.

Betewe betewe, emang karena biasanya apa apa barengan Nuri aku jadi rada aneh. Tapi ya sudahlah, biarin.   

Sore

“…99 dari Dia, kita cuma punya 1…”

“Hah? Apaan?”

Mutia melototiku.

“Apanya yang apaan?”

“Yang barusan. Yang 99, sama 1, maksudnya apa?”

“Siapa yang ngomong begitu?”

Aku ga tuli. Mutia sama Putri yang barusan ngomong begitu. Tapi tampaknya mereka berdua tak tampak sedang berbohong. Tapi tak pula menyadari bahwa aku benar-benar penasaran dengan kalimat tadi. Kutanya Putri barangkali dia yang ngomong.

“Put, apaan yang 99?”

“99 apaan? Asmaul Husna?” Putri tak mengalihkan matanya dari televisi. Aku kesal, ihhh, siapa sih yang tadi ngomong 99 sama 1 itu.

“Innalillahi…!!!” Putri berucap.

Terperanjat. Aku terhenyak. Kulihat beberapa anak astri yang duduk di tangga ikut kaget. ”Kenapa Put?”

“MasyaAllah. Itu liat. Anak-anak smu pada mau ngerayain V day, baru mau berangkat ke puncak, eh di tengah jalan tabrakan sama truk. MasyaAllah. Naudzubillah.”

“Yang meninggal berapa orang?”

Setelah itu, aku tak mendengar lagi Mutia dan Putri membicarakan apa. Aku juga tak hiraukan gerombolan mahasiswi yang turut penasaran di depan tivi. Aku hanya terpikir…   

 

Minggu, 14 Februari 2010

“Hhh, aku nggak mau keluar kamar ah, disini aja. Ntar sedih ngeliat teman-teman pada hang out sama kecengannya.”

“Lo, katanya udah ngerti kenapa ngerayain valentine’s day nggak boleh, kok kesannya nggak rela gitu”, aku tak sadar Nuri sudah menghempaskan tubuhnya di kasur, menatapku. Cepet amat beli makannya. ”Tadi ketemu Intan di lorong depan, jadi aku nitip aja”, Nuri menjawab seakan mengerti pikiranku. Oh.  

Aku meringis malu, mengalihkan pembicaraan, “Nuri, dengerin deh.” Aku me-nonaktifkan handsfreeku dan membesarkan volume mp3 dari laptop,  terdengar lagu lama yang tak asing, “…waktu terasa semakin berlalu tinggalkan cerita tentang kita…”

“Ehm, aku ngerti sekarang. Mungkin lirik lagu Peterpan ini bisa sedikit mewakili masa-masa bodoh yang akan aku tinggalin, termasuk ngerayain V-day yang buang-buang waktu en duit doang, lebih-lebih ternyata itu haram dalam Islam. Aku bodoh banget ya.”  Nuri tersenyum menatapku dari balik kacamata tebalnya.

Ya, karena aku muslim, aku menolak V-day, Nuri. Aku seorang muslim dan konsekuensi keimananku adalah taat pada perintah dan larangan Allah. Aku tak akan bilang alasan lain kenapa aku menolak V-day selain karena aku seorang muslim. Aku sadar itu Nuri. Yes, coz i’m moslem.

“Eh Lan, pernah dengar hadits tentang “barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”, si Ariel kan udah zina, kamu masih suka sama lagu-lagunya, ntar malah masuk ke golongan itu loh”

“Argghh Nuriiii…!!! “

SELESAI

  • suara “…99 dari Dia, kita cuma punya 1…” itu ceritanya ada anak BKIM IPB yang lagi nyebarin undangan Training Inspiring Love di lobi asrama. Haaha. 😀
  • Ini naskah cerpen yang niatnya dimasukin buat ikut lomba “Say No to V-day, Coz I’m Moslem”. Tapi berhubung satu dan lain hal, hehe, akhirnya cuma mondok di leptop. Sekarang di posting lagi karena mau nostal-gila masa lalu, haha. Ups.

Oh iya, nama ‘Nuri’ awalnya adalah “Fasih” (jangan kepedean ya). Sosok kacamata tebal juga diambil dari orang yang sama. Tapi karena kacamatanya udah diganti, jadi tokohnya juga ganti nama. Haha. But, thank you for inspire me sist.

Lalalalala…….  

­­­  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s