Anak Langit

Seribu janji di buat tapi tak ditepati menumbuhkan sakit yang tak sebentar. Tapi satu janji yang dipenuhi membuatku ingin mengatakan: “Tu kan, kau bisa nepatin satu janji, kenapa ga semua nya ditepati?!”

Malam, kau tersenyum seperti biasa, mengusap kepalaku dan berujar, “dasar…”

Hari ini, sama seperti kemaren, dan kemaren lagi. Hujan masih setia menghiasi langit. Kaca kaca jendela menjadi tentara penjaga hawa, terbasahi dengan embun yang memutih. Ah, daun sesekali menggigil. 

Aku bilang padamu, aku suka memandang langit. Kadang, awan seperti menceritakan kisah yang berbeda dalam geraknya. Aku ingat dalam jarak yang memisahkan kita, langit kita tak pernah beda.

Langitku terhiasi. Khatulistiwa tak perlu kau tanya.

 

Jika hari ini berakhir, kita pernah ada. Kau cukup percaya itu.

Langit Gaza. Abu, menghitam. Gumpalan asap dan bunyi dentuman.

“Ibu, apakah langit kita sama dengan mereka?”

Maryam mengencangkan selimut ke tubuh mungil Isa, “Nak, kelak kau akan mengerti. Langit kita tak pernah beda. Langit yang menaungi Adam dan Hawa.”

 

 Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s