.pertemuan ini.

Gambar

Maka disini, di jalan ini, kita pernah bertemu

Kita tak pernah mengukur sejauh mana waktu yang tertinggal

Tapi kita cukup mengerti dari sesal yang begitu menggunung

Karena dosa, karena janji yang kerap terlupa

Kita tak pernah ingin meng-andai berapa lama lagi umur yang tersisa

Tapi kita sadar, kapan pun itu persiapan sajalah yang semestinya terus dilayakkan

   untuk menjadi lebih baik, untuk terus belajar

Saat alpa bertemu harap,

Saat keyakinan bertabur doa bermuara

Maka disini, di jalan ini, kita pernah bertemu _

Bogor, Mei 2013

*Sepatu seseorang disana dipinjam ya jadi model 😛

Advertisements

aku ‘tlah’ dewasa

Nah, tema tulisan kali ini ada macem macem, campur aduk, hehe. Salah satunya adalah tentang ‘baqo’. Ha? Baqo? Apa itu? Baju Qoqo? 😀

Bukaaaan. Jauh banget. Baqo itu, itu loh ya disusun kalo mau buat rumah. #Itu batako. Hehehe, becanda becanda.

Nah, mari kita masuk ke dalam inti pembicaraan kita. Jreng jreng.

Sabtu kemaren, tanggal 25 arn ga sempat nulis karena sehariaaaan berangkat ke Jakarta. Penasaran buat apa? (Ga, ga ada yang nanya :D). Buat gladi kotor panitia Muktamar Khilafah, yeaayy. Jadilah, berangkat dari rumah jam 05.30 pagi (siap siapnya dari jam 04.30an), kumpul di BNI katanya jam 06 teng, nyatanya juga masih pada telat (mana mana yang telat, grrrr). Continue reading “aku ‘tlah’ dewasa”

beri aku rasa percaya mu

Belajar itu tak layak berhenti. benar benar tak layak berhenti. karena apa? karena setiap masa dan proses yang kita jalani, adalah sebuah pembelajaran yang berarti. utamanya lagi, bagi seorang muslim, tak pernah ada kata berhenti karena Allah memerintahkan untuk menuntut ilmu demikian tinggi, dari buaian hingga akhirnya ajal menjemput kita. siapapun pasti kenal dengan hadits yang terkenal itu. Astaghfirullah, semoga menjadi pengingat buat kita, aamiin.

Terus, cerita hari ini tentang apa? Continue reading “beri aku rasa percaya mu”

satu dari jutaan bayangan saat khilafah hadir kembali

Adakah satu hal di dunia ini yang lebih besar setelah keruntuhan Utsmaniyyah, ibu umat ini?

***

Mata abi terlihat terang dalam subuh yang dingin, angin menampar dinding. Berulang ulang abi melihat ke arah pintu. Abu-nya Zahra_teman sekolahku_ yang sekitar jam 3 dini hari tadi sudah tiba, tampak mengerti kegelisahan itu, “Mereka sedang ada di perjalanan, Syaikh. Agaknya akan tiba sekitar 5 menit lagi.” Continue reading “satu dari jutaan bayangan saat khilafah hadir kembali”

Kehilangan

Dan…,dan sepertinya tema beberapa minggu ini masih terbawa aroma ‘haru biru’. Setelah kemaren menulis “tentang mengerti”. Dan sekarang aku ingin menceritakan tentang ‘kehilangan’.

Yea, pagi ini Ainun baru saja berangkat ke Palembang demi memulai hidupnya yang baru, hahaha. Maksudnya memulai penelitiannya bersama kedelai. Ini adalah ending (baca: awal) yang entah menyenangkan atau menyedihkan mengingat lika liku yang begitu panjang. Tapi, tak apalah. Aku tipe orang yang percaya bahwa orang yang akan berakhir dengan ending (baca:ending) terbaik adalah mereka yang memiliki banyak kesempatan untuk memperbaiki kembali, tanpa menyesali, hanya ada optimis. Dan dialah Ainun.

Oke, cerita ini sebenarnya bukan tentang Ainun. Cerita ini ingin berkisah tentang perpisahan, pada siapa saja.

Saya (tadi aku sekarang saya) sebenarnya sangat tidak menyukai perpisahan. Mungkin pengaruh masa kecil (sekarang saya sudah dewasa). Dimana sejak kecil, saya selalu ditinggal oleh kakak kakak saya. Yang saya rasakan saat itu adalah: kenapa kita tidak bisa berkumpul bersama untuk selamanya? dan pertanyaan yang semisal.

Buat yang ga pernah merasakan seperti yang saya rasa: “apa sih lo sok sedih banget, biasa aja kali”. Ya, buat yang ga mengerti mungkin begitu. Tapi, biarlah.

Oke, jadi apa ini cerita tentang perpisahan yang ingin diceritakan?

Ehm, sebenarnya banyak kata yang ingin terucap. Tapi mungkin ini saja sebagai perwakilan hati:

“Ada banyak cerita yang belum terungkap. Karena itu, maukah nanti kau mencengarkanku?”

Gambar