beri aku rasa percaya mu

Belajar itu tak layak berhenti. benar benar tak layak berhenti. karena apa? karena setiap masa dan proses yang kita jalani, adalah sebuah pembelajaran yang berarti. utamanya lagi, bagi seorang muslim, tak pernah ada kata berhenti karena Allah memerintahkan untuk menuntut ilmu demikian tinggi, dari buaian hingga akhirnya ajal menjemput kita. siapapun pasti kenal dengan hadits yang terkenal itu. Astaghfirullah, semoga menjadi pengingat buat kita, aamiin.

Terus, cerita hari ini tentang apa?

Ya, cerita ini muncul saat penulis sedang membimbing sebuah kelas praktikum di departemen. Ya, kelas praktikum ini seperti biasa dilakukan setiap kamis pukul 1 siang.

Nah, menghadapi sekitar 27 orang di kelas, tentu tak sama. Mereka (praktikan penulis angkatan 48, 2 tahun di bawah penulis) tentu memiliki tingkah yang beragam. Ada yang jahil, diem, rajin, suka nanya nanya, dll. Semua berbeda-beda. Selalu ada saja tingkah yang membuat penulis merasa marah, sedih, tapi lebih seringnya tersenyum bahkan tertawa bahagia. Yeeeyyyyy.

Oke, terus apa Mba Arini? Apa yang mau diceritain?

Nah, jadi ada satu anak yang dia jaga jaraaaaak banget deh sama penulis (bukan karena dia nge-ikhwan ya :D). Kalo ngerjain laporan, asal asalan. Kalo di kelas kesannya menderitaaaaaa banget. Bentar izin ke toilet lah, inilah itulah. Hihihi, rada pengen marah, tapi takut. Ha? Iya, badannya tinggi (dan kayaknya perokok berat, kecuim dari aromanya, Huftttt).

Ha, kita lanjut lagi.

Nah, pada pertemuan terakhir kemaren, saya secara tak sengaja bertanya pada dia. Saat itu dia sedang menggambar bentuk sprayer (kita sedang praktikum tentang pestisida dan alat alatnya). Nahhh, saya kan memang rada ‘kurang cerdas’ (Hahaha) mengingat bagian-bagian sprayer (timpuk kepala asisten 😀 ). Jadi saya bilang ke dia (sambil saya ngapa ngapain gitu).

Saya: Eh, kamu kan anak “TiiiiiiT” (sebuah departemen yang secara keilmuwan lebih mahir tentang sprayer, ga usah disebut lah ya)

Dia: Hehe, iya sih (irama ngomong mulai cair). Tapi aku agak lupa juga sih.

Saya: Yang ini kan nozel (menunjuk ke arah sprayer). Yang ini… ini… ini…

Dia: Iya, jadi yang ini… ini… ini…

Bla bla bla. Dia yang selama ini hanya mengeluarkan dua kalimat maksimal, akhirnya hari ini bicara puanjangggg. Membuat saya sedikit ‘Waw’. He is great, dia cerdas kawan kawan.

Dan hari itu, sampai kelas berakhir dia menunjukkan ketertarikannya dengan materi praktikum. Dia kemudian bertanya ini, itu. Walaupun masih kaku.

Yeah, diakhir semester ini, pelajaran penting banget nih.

Berikan kepercayaanmu.

Mungkin kalian pernah menonton film India tentang dislexia, film Taree Zamen par (nulis nya gini ga sih?) yang katanya artinya “every child is special”. Disana seorang guru muda (tokoh utama) berkata pada seorang ayah yang anaknya menderita dislexia ini,

kira kira begini, “…kau tidak perlu menebang pohon untuk menumbangkannya. cukup berikan teriakan negatif yang mematikan semangat hidupnya. pohon itu akan tumbang…”

Jadi apa?

Menunjukkan keraguan atau pun memberikan kepercayaan adalah dua hal yang berdampak besar pada seseorang. Sangat besar. Karena rupanya, terkadang seseorang hanya berharap ia dipercaya, lalu ia pun bisa. Atau terkadang, seseorang yang sebenarnya bisa, tapi mendapat pandangan ragu dari sekitarnya, ia pun gagal. Kita akan menjadi seperti apa? Menjadi pendorong yang optimis? Atau menebar keraguan pada orang lain? []

Gambar

_semoga ujiannya berhasil kawan kawan yang hebat. percayalah, kalian bisa jika mau berusaha. belajar yang beneeeeerrrr 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s