‘we are’ and ‘democracy’

DIri kita memang bisa jadi ‘wujud’ orang lain. Setidaknya yang paling nyata, kita adalah ‘gambaran’ dari kedua orang tua kita_walopun ga selamanya tepat to. Karena banyak juga yang bueda banget sama emak bapaknya. tapi mungkin nurunin si kakek, nenek, abang, kakak, adek, om, tante, en (tetangga?), halah 😀

Ga, jadi gini. Kebetulan pagi ini tu kepikiran banget tentang beberapa (atau satu) hal, misal:

Sebenernya kenapa sih kok di keluarga saya pada ada kaitan dengan seni semuanya?

Nah lo?

Iya, jadi si Abah, dulu waktu SMA (apa SMP?), pernah jadi pemain drama gitulah. Mamak, udah ga usah dibilang, jago banget nyanyi, suaranya turunan Nenek ES (panggilan buat kakek, insyaAllah akan dibahas di tulisan berikutnya tentang panggilan ini), merdu banget dah. Kakak saya Aldina yang sekarang udah punya dua anak, waktu SMA (salah satu aja nih ya) tercatat menjadi sutradara drama terbaik (pialanya masih dipajang di rumah kayaknya, haha). Abang Aulia? Beuh, apalagi. Dari nyanyi, bikin lagu, nulis, semua numplek jadi satu. Paling banyak pialanya, haha. Terus adik saya Ainul, ternyata juga begitu.

Nah nah seribuuuu nah.

Saya?

Buat yang mengenal saya (ehem), pasti juga merasakan aura-aura seniman (haha). *Jauh jauh jauh.

Ya, walopun ga hebat2 amat lah. Tapi saya punya ‘secuil’ bakat bakat seperti itu. Waktu SMP (MTs), saya gabung sama kelompok drama di kelas 2, terus kita tampil di acara perpisahan kakak kelas. Dramanya tentang ‘bhineka tunggal ika’ (ampun dah, rupanya saya sangat nasionalis kala itu, *tutupmuka, buang badan) . Saya nya berperan jadi emak Butet orang Batak.

So, tebak apa yang terjadi?

Teriakan dan tepuk tangan yang membahana kawan-kawan. Setelah itu, semua orang menyangka saya orang Batak, Bah, kek mana cerita nya ini 😀

Yah, karir saya (alamak) mulai naik kala itu. Sekolah saya ngadain sanggar seni gitu, dan tau siapa ketuanya? Yeah, its me :D, huala. Ya, Arini. Nama sanggarnya, ehm… ‘Sanggar Seni Seribu Rupe’.

Nah, pas SMA, pun sama. Kelas dua saya bikin drama lagi tentang ‘GILA’. Ini pun menjadi bahan gelengan kepala guru, “Arini yang pendiam ini bisa begitu?” 😀

Sampe kelas 3 saya masih dipercaya oleh teman2 untuk membuat naskah jika ada jadwal2 tampil seperti ini.

Well, ini baru tentang drama. Belum bagaimana saat kuliah (khususnya di kosan) saya disebut ‘kotak musik’. Tau sendiri lah ya artinya.

Ya, dan kita masuk pada inti.

Ternyata tanpa sadar lingkungan turut membangun diri kita yang sekarang. Tiap orang dengan beda lingkungan, bakalan beda pandangan atau sikap-nya pada sesuatu.

Dalam halaqoh (kajian mingguan yang saya ikuti), persoalan ini juga dibahas lo. Coba, gimana ngaji itu ga keren? :b

‘Yang membuat hukum itu mestilah Allah (sbg Maha Tahu), ga boleh manusia. Karena mereka semua senantiasa terpengaruh sama wilayah tempat tinggalnya, lingkungannya, dan yang semisalnya’

Bisa kebayang, saya yang suka musik, bisa aja membuat hukum musik itu wajib. dan semua hal yang berbau band, lagu, dll wajib, nah lo?

Tapi kondisi kayak gitu kan yang terjadi hari ini? Hukum itu jadi wewenang bapak ibu wakil rakyat. Beuh.

We call it democracy.

oke, simpel bukan. simpel banget kalo mau nyari kesalahan demokrasi itu.

*sampai disini dulu, nyambung ga nyambung, dinyambungin aja ya. karena kadang, kamu ga harus terus terusan nyesuain ritme buat nyampein pesan ke orang. ada banyak cara, dan kreatif, itu cara kita.

see you again 😀

Gambar

Advertisements

2 thoughts on “‘we are’ and ‘democracy’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s