Maaf, namamu siapa?

Nah, itu pertanyaan yang sebenarnya ga pernah benar-benar terucap. Cuma sampai di tenggorokan.

Maksudnya?

Ya, jadi begini. Entah kenapa sepertinya saya itu termasuk seseorang yang gampang sekali lupa dengan nama seseorang. Terutama orang baru.

Saya jahat dan tidak peka?

Ehm, tunggu dulu. Ini bukan dalam rangka membela diri ya, tapi saya rasa saya memang tak seburuk itu.

Jika baru berkenalan itu, saya tipe orang yang selalu berusaha mencari CIRI SPESIFIK dari orang yang saya temui. Jika nama orang itu tak terlalu menyulut ‘kerutan kening’ atau mengingatkan saya pada sesuatu yang menyedihkan atau sangat menyenangkan, pasti saya akan segera lupa. Sehingga dengan kemampuan akting kampungan saya, biasanya saya selalu mengalihkan perhatian orang tersebut.

Dia: Hi, arin…, lama tak jumpa. Apa kabarmu?

Saya: (Opps, siapa namanya). Hai…, diriku sehat. Kamu gimana? (tersenyum sumringah ala ala apa gitu)

Dia: Alhamdulillah, baik. Lagi sibuk apa sekarang Rin?

Saya: Biasa, masih nyusun data. Kamu? (Hindari sapaan hindari hindari!!!)

Dia: bla…bla…bla

Saya: bli…bli…bli

Perbincangan seperti ini meski pun mungkin tak terlalu bermasalah bagi orang tersebut, tapi cukup buruk dalam pikiran saya. Kamu jahat Arini! Jahat banget! Dia inget nama kamu. Tapi kamunya??? Ishh…

(langsung nangis di wastafel)

Tapi biasanya saya mengingat hal seperti, ‘dia menyalami saya dengan genggaman yang keras’. Ciri yang tak semua orang miliki ini membuat saya lebih mudah mengingat. Tapi tentu saja, saya ga mungkin menyapa orang dengan menyebutkan cirinya.

Dia: Hi, arin…, lama tak jumpa. Apa kabarmu?

Saya: Hai. Baik. Kamu yang menyalamiku waktu itu dengan keras ya…

(Bletak!!! Aduh…)

Jadi tulisan ini akan berujung pada apa? -____-

Haha. Well, sabar sabar…

Saya hanya berpikir, sifat ‘buruk’ saya tadi mungkin sebenarnya tak terlalu bermasalah. Tapi pada dasarnya bisa saya perbaiki. Ini bagian dari menghargai orang lain. Menghargai saudaramu sendiri.

Saya menyesal, sungguh. Karena kejadian seperti ini tak terjadi sekali dua.

Eh, namanya Farhan kan? Eh, apa Farhat? Eh bukan ding.

Hhh, buruk. Buruk sekali.

Secara tak sadar, kita (saya terutama) sering memperlakukan orang berdasarkan apa yang kita perlukan dengan mereka. Jika tak terlalu ‘perlu’ tidak akan sebegitu terdorong untuk mengenal (bahkan mengingat namanya). Astaghfirullah.. T____T.

Sama saja dengan orang-orang yang terikat karena urusan kepentingan dan maslahat. Gampang lupa dan memutuskan. Selesai urusan, selesai pertemanan.

Nah, jika saya juga begitu, apa bedanya. Astaghfirullah… astaghfirullah… astaghfirullah…

Ato walopun ga sampe separah ini, setidaknya membuat saya bertanya, ‘pantaskah perbuatan tadi saya lakukan? Hem…

Semoga menjadi bahan introspeksi diri.

Gambar    *menjaga hati orang lain 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s