.namanya konsekuensi.

Ya, berat. tapi kita memang tercipta untuk memikul konsekuensi kan. itulah pembeda kita dan jutaan serangga. atau sekelompok makhluk kaki empat yang mengembik. mereka hidup, tapi tak harus menerima ‘konsekuensi’. jika kita tak mau menunaikan ‘konsekuensi’ ini, jadi kita ini apa?

Ada sesuatu yang penting, sesuatu yang harus kusampaikan padamu, kawan. Ini bukan sekedar tentangku, bukan pula sekedar tentang kau. Ini tentang aku, kau, mereka, dan kita semua. Ini tentang hidup. Tentang masa laluku, masa lalumu, masa lalu mereka, masa lalu kita semua. Ini juga tentang esok. Bagiku, bagimu, bagi mereka, dan bagi kita semua. Karena itulah kukatakan tadi, ini adalah hal yang teramat penting.

Aku tak bermaksud sok tua karena bicara seperti ini padamu. Sungguh, ini bukan guyonan ataupun bualan kosong. Aku melontarkan setiap baris kata yang mengurai kalimat demi kalimat ini hanya karena cinta.

Kau tahu tentang ‘konsekuensi‘? Ya, ‘konsekuensi‘. Aku tahu kau sudah mengenal kata ini. Aku pun sudah. Tapi yang kumaksud, apa kau memahami arti dari konsekuensi itu?

Ketika kita menyatakan keislaman kita melalui syahadat, tahukah kita bahwa ada konsekuensi dari kalimat suci itu? “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah“.  Kau tahu Kawan, konsekuensi dari pilihan mengucapkan kalimat syahadat itu adalah menjadikan Allah dan Rasul di atas segala-galanya. Tak ada yang lebih tinggi dari itu. Ya.

Gambar

Tak akan menjadikan hal selain Allah sebagai Tuhan. Tidak uang karena begitu banyak orang yang menjadi hamba uang. Kau tengok saja negeri ini, banyak manusia yang mati membusuk karena uang menyumpal mulut penguasa negeri kaya ini. Menutup mata mereka sampai tak bisa melihat betapa banyak orang mati sengsara. Mengunci telinga mereka kiri dan kanan hingga suara keadilan yang berdengung nyaring seakan tak terdengar. Semua itu karena uang. Mata, mulut, telinga, dan anggota badan lain bisa dibeli dengan uang di negeri ini. Itulah hebatnya uang. Semua dinilai dengan uang. Kalau tak punya uang, tunggu dulu.

Lain uang, lain kekuasaan. Kau tak akan bisa pungkiri begitu banyak orang gila kuasa. Demi kursi kekuasaan, manusia bisa jadi tak manusia lagi. Segala cara mereka lakukan demi kekuasaan, lalu merajalah suap sana sini. Suap itu jalan paling mutakhir. Kalau mau tahu jalan yang agak “ndeso“, kunjungilah dukun pada musim kampanye. Bikin jejampi plus jimat keberuntungan. Kalau gagal, ada yang besar hati menunggu musim berikutnya, tapi tak sedikit yang bersua dengan rumah sakit jiwa. Begitulah orang yang menuhankan kuasa. Gila tak berujung.

Aku tak bermaksud sok mencela. Bukan, sama sekali bukan. Tapi yang ingin kupastikan, tahukah kau mengapa mereka begitu? Karena mereka bukan muslimkah? Tidak Kawan, mereka muslim. Sama sepertiku, seperti mu pula.

Kawan, ku ulangi lagi. Aku tak bermaksud sok tahu. Alasan mengapa begitu banyak orang_mungkin termasuk aku dan kau, meski dalam taraf kecil-kecilan_menjadikan uang dan kekuasaan sebagai Tuhan padahal mereka muslim adalah karena mereka tak tahu bahwa syahadat memiliki konsekuensi. Konsekuensi untuk taat. Untuk menaati setiap aturan, mematuhi segala perintah dari Allah dan Rasulullah sebagai utusan Allah.

Begitu pula kita. Bukankah kita juga mengucapkan syahadat? Maka konsekuensi ketaatan itupun melekat pada diri-diri kita. Ketika Allah mengatakan A, maka A. Ketika Allah mengatakan B, maka tak ada pilihan lain, kawan.

Karena itulah kita sholat lima kali seharikan? Karena Allah perintahkan itu lewat RasulNya. Kita keluarkan zakat, juga karena Allah yang perintahkan, bukan? Begitu pun ketika ada kewajiban bagi kaum Hawa untuk menutup aurat, maka konsekuensi dari keimanan kita adalah kepatuhan dan ketundukan. Ketika di dalam Al Qur’an diukir ayat-ayat tentang tata cara pergaulan laki-laki dan perempuan, maka apa lagi alasan yang kita keluarkan untuk menolak itu? Padahal sudah nyata berucap mulut ini akan syahadat yang menjadi kunci pembeda muslim dan kafir.

Saat Islam hadir menyeruak, menghempas gelapnya peradaban di bumi ini dan membawa segenap aturan yang tak perlu amandemen seumur hidup, maka mengapa kita masih saja menggunakan aturan konyol buatan manusia yang selalu diperbaharui sesuai irama hati penguasa negeri? Mengapa kita tetap mematuhi undang-undang yang hanya dibuat untuk memenuhi perut rakus penguasa tak berhati di negeri ini? Mematuhi aturan yang tak memihak diri-diri kita, ibu-ibu kita, ayah-ayah kita, seluruh saudara-saudara kita? Mematuhi aturan yang bahkan tak memanusiakan manusia karena aturan ini merampok hak hidup kaum pinggir kali, menguliti mereka yang punya hati, merenggut kehormatan mereka yang punya harga diri. Mengapa kita masih mematuhi aturan yang membuat kita mengingkari Allah dan Rasulullah? Mengapa?

Kawan, hidup kita sesaat saja. Buktinya, rasanya baru saja kita meninggalkan Ramadhan tahun lalu, dan sekarang kita akan kembali mengakhirinya. Maka mau sampai kapan kita abaikan konsekuensi keimanan itu? Berbaliklah.

Sebagai penutup, percayalah bahwa setiap konsekuensi pasti memiliki resiko. Saat kau taati segala tetek bengek aturan Allah itu, resikonya jelas adalah surga. Kau pilih jalan lain, resikonya pasti bukan surga. Kau tahu tempatnya. Percayalah.

Gambar

*jangan kira tak mengambil konsekuensi tak berisiko, justru pilihan itu adalah langkah yang paling berisiko untuk KALAH.

😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s