RE-untuk semua

Saat tulisan ini sedang kutuangkan, winamp di neti lagi muter lagu “Buka Semangat Baru”-nya Ello dkk. Entah mp3 yang mempengaruhi ide tulisan ini muncul ataukah kebetulan saja lagunya pas dengan pikiranku, aku tak begitu ingat. Yang jelas begitu saja ada sesuatu yang menggelitik di benakku. Setidaknya ku pikir, tak ada salahnya [atau sudah semestinya] kita coba menakar beberapa hal yang ingin kubincangkan berikut ini. Continue reading “RE-untuk semua”

Nyam: Hidangan Cinta

Cobaan yang belakangan ini benar-benar sedang menguji kesabaran adalah kecepatan modem. Entah kenapa, signalnya sangat kurang bersahabat. Nah, ditambah lagi, modem kece A*A yang sejak pertama beli selalu ‘zwing zwing’ kecepatannya telah membangun sebuah kebiasaan. Apa itu? Ya, kalo lagi ngenet di tempat atau modem lain, terus lemot, uda deh pasti langsung berisik: “ih, apaan sih ini. lemot banget” Continue reading “Nyam: Hidangan Cinta”

motiv-a[k]si

“Wahai kaum muslimin, demi Allah, sesuatu yang kalian takuti pada hakikatnya adalah sesuatu yang kalian minta selama ini, yaitu mati syahid. Kita tidak memerangi musuh karena besarnya jumlah kita, kuatnya kita, dan tidak pula karena banyaknya kita. Namun kita memerangi mereka karena agama Islam, yang dengan agama ini Allah memuliakan kita. Berangkatlah kalian, niscaya kalian mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid.”

Abdullah bin Rawahah | Perang Mu’tah Continue reading “motiv-a[k]si”

MEMBELI PENGALAMAN

Aku membuka sebuah blog yang bercerita tentang, yahh kehidupan yang dijalani si penulis. Cerita yang umum saja tentang makna kehidupan, kebersamaan, berbagi, dan rasa syukur. Tapi entah kenapa, aku merasa itu begitu menggugah. Aku berpikir, ah andai aku berada di tengah cerita itu dan menjadi bagiannya. Sejenak aku resapi, mungkin ini pengaruh cara menulis sang pemilik blog. Atau padanan kata yang lekat satu sama lain justru yang membuatku terpukau. Entalah, tapi alur ceritanya jelas membuatku penasaran.   Continue reading “MEMBELI PENGALAMAN”

Eksis!

Gambar

Eksistensi diri yang ditunjukkan oleh orang lain hari ini, kadang membuat kita tercengang. Layaknya melihat anak anak muda yg sok bisa ‘merokok’ tanpa pernah memahami konsekuensi tindakannya. Salahkah dia mengeksistensikan dirinya? tentu tidak. Tapi kita tentu berharap sebuah naluri sejati tanda kita makhluk hidup itu, selayaknya bisa diarahkan. Pada sebuah proses eksistensi yang tak hanya menunjukkan kita makhluk hidup, tapi juga manusia. Dan bukan hanya sampai disini, karena manusia terbaik adalah ia yang mencapaikan eksistensinya sebagai kelemahan akan hamba pencipta, Allah SWT.
Maka sistem kehidupan mana yang membuat sebuah wujud eksistensi diri setinggi dan semulia ini?
Berharap pada demokrasi, hasilnya seperti hari ini. Institusi keagamaan pun bahkan tak bernyali membuat sebuah batasan norma. Apalagi institusi moral universal.
Maka, mutlak dibutuhkan sebuah bangunan pelindung yang tegas membatasi haq dan bathil. Tegas mengarahkan dan memulai sebuah tindakan kebenaran berasas Al Quran bukan membiarkan. Tegas menyalahkan dan menghukum atas kesalahan bukan sekedar mengecam.
Maka, sebuah kemutlakan pun perlu dan wajib bersandar pada nash yang benar. Dialah Al Quran dan As Sunnah. 
Maka, institusi Daulah Khilafah Islamiyyah dengan Sang Khalifah sebagai amirul mukminin-lah yang akan menjadi jawabannya. 

Wallahu ‘alam  bi ash showwab