habitat habits, hab!!!

Dulu, semasa kecil aku pernah memiliki kebiasaan yang bisa dibilang mengandung kebaikan sekaligus keburukan. Apa itu? Membaca buku. Hah? Ya, tapi bukan sembarang membaca. Ceritanya, saking senangnya membaca, kegiatan apapun pasti sambil membaca. Makan, sambil baca. Tiduran, sambil baca. Buku buku akan bergeletakan di berbagai sudut rumah dengan bentuk yang mengerikan (tidak ada buku yang memiliki cover lagi, lembaran kertasnya dipenuhi bercak bekas kecap, dll). Biasanya, mamak atau abah akan marah, terutama saat makan. Pasalnya, aku lebih banyak membuka lembaran kertas daripada jumlah suapan, haha.

Gambar

“Makan saja sekalian bukunya”, begitu kata Abah. Kalau sudah begini, aku biasanya akan segera menghabiskan kunyahan. Takutlah. Tapi setelah itu, lanjut lagi. Untungnya, kebiaasaan baca tiduran belum merusak mataku, alhamdulillah.

Kebiasaan senang membaca buku ini sebenarnya jelas terbentuk karena dukungan lingkungan. Di rumah, Mamak dan Abah tidak memberikan TV bagi kami. Khususnya saat aku dan adikku masih SD. Di desa tempat Abah dan Mamak bertugas (aku pernah menceritakan desa ini? Okeh, tunggu lah kisahnya. Kau akan lihat bagaimana “Laskar Pelangi Abad ini”), listrik itu cuma menyala saat malam hari, bahkan jika tidak menyala kami menggunakan lampu minyak. Puh puh, hidung akan hitam kalau pagi, hihi. Jarak rumah tiap penduduk yang tak berdekatan, dan semak semak disekelilingnya. Aku baru berpikir sekarang, betapa terisolirnya tempat kami tinggal. Dan Mamak dan Abah masih bertugas di sana sampai hari ini, Ya Allah. Memilukan sekali mengingat tempat aku tinggal saat ini. Ya, dan rumahku itu pun jauuuuh sekali dari rumah peduduk. Misah sendiri ceritanya. Nah, jadilah kan kegiatan kalau sepi begini ya membaca.

Apa yang dibaca? Ehm, bedanya antara aku dan abang (haha), dia senang membaca berbagai hal, dari cerpen, novel, tapi yang terutama buku ilmu pengetahuan. Makanya dia tercipta sebagai seseorang yang kelewatan pinter, hehe, ampun dah. Lah, kalau aku? Haha, cukup tepok jidat ini, sukanya ya sama cerita saja. Aku selalu berimajinasi dengan buku buku yang kubaca. Misal, membayangkan rumah di sawah (kagak ada sawah disana), gunung (pun kagak ada) dan sebagainya. Dan salah satu cerita yang paling kusuka adalah karangan Tartila Tartusi, Hutan Keramunting di Bukit Kecil. Wuaaa, ini buku keren banget >.<. Lain kali akan kuceritakan pada kalian semua (Eh, aku udah janji menceritakan apa saja nih? Haha). Buku lain, ehm Bobo!!! Wuah, sampe bejubel kumpulan Bobo. Dan, satu hal yang menjadi sifat masa kecilku (masih sih sampe sekarang) yaitu “kalo sudah suka, ituuuuu saja yang dibaca.”

Nah, nah nah. Sekarang, aku berpikir, masih kah ada anak anak dengan jiwa membaca yang ‘menggila’ seperti yang kurasakan saat  kecil? Hem, cukup sedih membayang kan mereka kini sibuk dengan hal yang berbeda. Menemukan cerita anak yang berbobot itu susahnya minta ampun.

Well, lebih jauh lagi. Habits itu terbentuk kalo udah dilakukan PENGULANGAN. Waktu kecil, ya karena setiap apa apa, baca. Jadinya ga sadar, kalo buku ga ada, pasti rasanya aneh.

Dan sekarang, aku sedang membentuk habits menulis. Ceritanya, ‘One day, one story’ (tungguin launching logonya ya, hehe, ada yang mau gabung? Hayu. Nanti saling koreksi). Tapi susah banget rupanya. Mencari ide, mengeluarkan kata-kata.

Huft, tapi janji adalah janji. Meski pada diri sendiri. Azzam ingin menjadi penulis, ya penuhi langkah langkahnya. Dan disini, nge-blog cukup menjadi sarana yang efektif loh.

Semangat!!!

Advertisements

4 thoughts on “habitat habits, hab!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s