Memori ‘Seng Berderak’: Tanjung Raya (Bagian 1)

Percaya atau tidak, aku membutuhkan kekuatan besar untuk menuliskan kembali kisah ini. Bukan karena sulit mengingat serpihan yang telah lewat belasan tahun yang lalu, bukan. Tapi justru karena perjalanannya yang begitu melekat. Melekat sekali dalam kepalaku.

Tanjung Raya, sebuah nama dusun di pelosok provinsi nan kaya. Negeri Melayu, penghasil minyak, Riau. Kenapa ku katakan pelosok? Karena memang begitu jauhnya dusun ini dari Kota Provinsi. Untuk mencapainya dari Pekan Baru, kau harus naik mobil … sekitar 8 jam. Melewati pinggiran hutan (kalau sekarang menjadi ‘hutan’ Sawit) dan jalanan yang rusak, berlubang-lubang. Kau bayangkan saja. Perjalanan ini akan sampai di Kabupaten Indragiri Hilir, tepatnya Kota Tembilahan. Kota ini adalah sebuah kota kecil yang bergelar ‘kota seribu paret’, karena banyaknya parit (sungai sungai kecil) yang melintasi kota. Ya, di kota ini aku mengecap pendidikan MtsN dan SMU.

Salah satu keunikan Tembilahan adalah berbagai daerah dalam kabupaten dihubungkan dengan transportasi sungai. Dari sampan, pompong, hingga spead boat. Nah, untuk sampai di Tanjung Raya, aku harus naik spead boat kecil berpenumpang sekitar 12 orang. Selang 1 jam 30 menit, akan sampai di Tanjung Raya.

Desa Concong Luar (dulu Concong Dalam berubah saat terjadi pemekaran wilayah), sebenarnya sebuah desa pesisir yang cukup besar. Hanya saja, dusun dusunnya terpisah oleh sungai sungai. Sehingga hanya ada sekumpulan kepala keluarga dalam satu dusun. Tanjung Raya salah satunya. Di dusun ini, hanya ada sekitar 40 kepala keluarga. Mata pencaharian utama masyarakat adalah berkebun. Bukan sebagai pemilik, tapi pekerja kasar. Selain kebun, menjadi buruh kasar pengeloaan Kopra (kelapa kering). Ya, dusun ku ini salah satu penghasil Kopra.

Aku dan kedua orang tuaku sebenarnya bukan penduduk asli daerah ini. Mamak dan Abah keturunan asli dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Namun, berdasarkan cerita kakek nenekku, aku tahu bahwa orang bersuku Banjar senang merantau, jadilah aku sejak buyut ke berapa telah meninggalkan tanah Kalimantan dan mendiami Riau. Oh iya, aku hampir lupa menceritakan bahwa di Tembilahan hampir mayoritas penduduknya suku Banjar, termasuk dalam penggunaan bahasa bicara sehari hari.

Nah, tapi tidak dengan Tanjung Raya. Di sini mayoritas penduduk suku Melayu. Sedikit Bugis Sulawesi, beberapa Banjar dan Jawa. Tapi bahasa sehari hari kami adalah Melayu. Inilah kenapa aku lebih fasih berbahasa Melayu daripada suku asli ku. Jadi kalau pulang ke rumah nenek, pasti menjadi bulan bulanan ‘hinaan’ karena satu satunya keturunan yang tidak bisa berbahasa Banjar.

Kembali lagi. Kedua orang tuaku berprofesi sebagai guru. Saat aku lahir, mereka berdua dipindah tugaskan ke Tanjung Raya, jadi ukurannya hampir seusiaku mereka tinggal di sana. Berdasarkan salah satu pelajaran di mata kuliah minorku, aku mengerti bahwa ikatan antar masyarakat dipengaruhi oleh pendidikan. Orang-orang yang bersekolah akan dihargai lebih. Pun sama di desa ini. Abah dan Mamak, aku memanggil orang tuaku dengan panggilan ‘Abah dan Mamak’, termasuk orang yang dituakan. Dimintai pendapat dan didepankan untuk urusan agama. Ya, ini karena dusun ku ini masih lekat dengan beberapa kepercayaan lama, semisal sesajen, dll. Namun, Abahku berani menggebrak tradisi ini. Sehingga abah dikenal sebagai orang yang keras dalam menyatakan kebenaran. Aku berharap menjadi seberani Abah. Insyaa Allah.

Gambar

Di dusun ini, hanya ada satu sekolah dasar, tidak ada lagi selainnya. Tidak SMP, apalagi SMU. Sekolah ku ini hanya berjarak sekitar 10 langkah di samping rumah dinas Abah dan Mamak. Hehe, makanya sejak kecil meski belum sekolah aku selalu ‘masuk sekolah’. SD ini hanya memiliki tiga ruangan. Jangan kaget, karena ini nyata. Ruangan pertama terdiri dari kelas 1 dan 4, kemudian, 2 dan 5, lalu terakhir 3 dan kelas 6. Apakah kelasnya besar? Tidak, kelas ini sangat kecil. Satu ruangan yang dibagi dua, tanpa pemisah. Berapa jumlah murid satu kelas? Untuk kisah ini, kau jangan tambah kaget. Hanya ada sekitar 4 orang per kelas. See? Untuk angkatan ku saja, hanya ada aku dan 3 orang temanku. Kami berempat satu kelas. Dua perempuan, dua laki laki. Mereka adalah Rosita, Uyan, dan Robi. Bahkan bisa saja ada kelas yang hanya terdiri 2 orang murid saja.

Ya, dan gurunya pun hanya dua orang, merekalah Mamak dan Abahku. Jadi, sejak SD bisa dibilang, aku home schooling, hehe. Waktu MTS di kota, aku pernah ditanya tentang profesi orang tuaku. Lalu kujawab, “mereka guru SD”, temanku bertanya lagi, “Iya, guru apa?”. Bagaimana aku menjelaskannya, “orang tuaku guru apa saja. Kadang IPA, kadang IPS. Kadang Matematika, kadang Bahasa.”

Kalau ada kisah Laskar Pelangi, ya ini lah Laskar Pelangi Abad Ini. Abah dan Mamak berjuang dan mengabdi untuk negeri. Dengan segala yang terbatas, berupaya menggugurkan kewajiban serta memendam harapan. Namun, apalah daya. Janji pemerintah sudah membuat Abah bosan.

SD ku ini, SDN 48 Tanjung Raya. SD negeri yang tak diakui ‘negeri’ ini. Berlantai papan yang berlubang sana sini, beberapa papan baru, beberapa sudah lapuk. Aku dan teman temanku sering menjadikannya tempat bermain kelereng. Mengejar dan menutupi lubang dengan sepatu butut. Dinding sekolah kami pun papan. Yang menghembuskan udara semilir lewat celah celah tua. Jendela sudah tak berdaun, tembus langsung ke semak belukar di belakang sekolah. Atapnya? Ya, seng yang berderak karena lepas pakunya. Bukan karena tak bisa dipaku, tapi seng itu sudah teramat tua dan tak bisa menempel lagi kalau di paku. Kalau angin kencang, dia akan berderak derak, ‘sing sing, prang’. Kami tau itu penanda mau hujan. Maka kalau begini, aku mengomandoi untuk berkumpul ke Mamakku, disekolah pun aku seringnya tetap memanggil Mamak, bukan Ibu.

“Mak, ceritaaa”

Maka Mamak akan bercerita, dan satu sekolah mengumpul di satu ruangan. Inilah sekolah dengan kurikulum ciptaan suami istri terhebat.

Kami pulang sekolah jam 12 siang, jika begini maka semua akan berhamburan. Bu, balek. Pak, balek (baca: Bu pulang. Pak, pulang).  Brrrrr, kaki kaki hitam anak dusun pun meluapi jalan setapak yang terbuat dari tanah. Kalau hujan? Alamat kaki akan penuh dengan lumpur. Sepatu? Sudah, simpan saja, tak ada guna.

Maka, kini tinggallah sepi di sini. Jarak SD dan rumahku dengan rumah penduduk cukup jauh, dan tidak ada rumah. Jadi rumahku ujung…. sekali. Kalau anak anak didik sudah pulang berarti tinggallah sepi di sini. Menanti esok pagi, mereka datang lagi.

 

Sepi terbiasa menggelayuti

Takut tlah mengumpulkan aku dalam himpitan asa

Suara riuh, aku tau tak pernah nyata

Seakrab senja dan malam

Bersama mereka, hidup pernah memulai berceritaGambar

Derak seng SD itu telah menjadi penentu. Satu dua tiga dinding dan tiang yang bergoyang. Menyirat cerita nun di dusun pesisir. Aku dan mereka.

(bersambung)

Advertisements

7 thoughts on “Memori ‘Seng Berderak’: Tanjung Raya (Bagian 1)

  1. SubahanaAllah, mba 🙂 kisah hidup mba begitu luar biasa. Beda banget sama pei, gak ada laskar pelangi. Rasanya datar aja masa kecil pei. Kalau orang-orang pergi ke gunung, ke sungai. Nah lho pei sejak SD malah main game sampai mata minus begini. Tapi ada juga sih kisah-kisah seru masa kecil. Alhamdulillah 🙂 harus bersyukur sekolah pei bagus dan bisa menunjang pendidikan pei. Harusnya belajarnya tambah semangat ya, tapi sepertinya yang kekurangan dan bersusah-susah dalam pendidikan lebih bersemangat dan memiliki daya juang tinggi..

      1. menginspirasi, iyaaa yahhh.. ^_^ baiklah suatu saat pei ceritakan. Yah meski belum sepandai mba dalam merangkai kata-kata. Tapi pei coba. Hehe,

  2. perasaan menjadi campur aduk ketika tau kelanjutan kisahnya,, “tidak semua anak2 yg cerdas ini melanjutkan sekolahnya” #bocor 😀
    antara bangga dan geram dengan kondisi yg tidak mendukung manusia untuk bangkit karena ditnggalkannya islam sebagi hukum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s