MEMBELI PENGALAMAN

Aku membuka sebuah blog yang bercerita tentang, yahh kehidupan yang dijalani si penulis. Cerita yang umum saja tentang makna kehidupan, kebersamaan, berbagi, dan rasa syukur. Tapi entah kenapa, aku merasa itu begitu menggugah. Aku berpikir, ah andai aku berada di tengah cerita itu dan menjadi bagiannya. Sejenak aku resapi, mungkin ini pengaruh cara menulis sang pemilik blog. Atau padanan kata yang lekat satu sama lain justru yang membuatku terpukau. Entalah, tapi alur ceritanya jelas membuatku penasaran.  

Lalu  setelahnya, aku menjadi berpikir tentang hidup yang kujalani kini. Pagi ini, makna dakwah kembali aku benakkan. Apa sebenarnya yang ingin kucapai? Sekedar sebuah pembenaran orang lain atas ide yang kubawa? Lalu diakui bahwa aku benar dan mereka salah? Jika begini, wajarlah saat dakwah tidak pernah sejalan dalam barisan grup yang sedang bicara tentang kesehatan ala kekinian. Karena yang kulihat, pengemban dakwah lekat dengan madu. Iyakah untuk urusan ini saja mesti membuat perbedaan? Seakan masalah halal dan haram.

Ah, aku mencari masalah bicara begini. Karena katanya dengan begini aku masih terlalu khawatir menjadi al ghuraba. Masih mencari kenyamanan di tengah sistem yang kini makin menggila. Pejuang dakwah katanya tak kenal kompromi. Benar katakan benar. Salah katakan salah. Ah, begitu rupanya.

Memang, dibanding dengan mereka yang kini menjadi trainer handal, aku jelas kalah besar.  Untuk memotivasi diri sendiri saja perlu kekuatan luar biasa. Disanding dengan mereka yang sudah mengeluarkan banyak buku-buku perjuangan, aku bukanlah apa-apa. Menulis secara rutin dengan bobot yang berisi, ah jauh…jauh sekali. Ibadah? Penguasaan bahasa Arab? Ushul Fiqh? Kajian Kitab? Aku belum apa-apa. Sedemikian tidak imbang antara aku dan jutaan orang hebat lain.

Tapi bagiku, setiap orang yang kutemui adalah guru. Guru pengalaman. Pada mereka aku berkaca, melalui mereka aku memetik pelajaran. Mereka baik, aku berharap semulia mereka. Setidaknya, menyusul langkah mereka.

Menjaga Islam di akhir zaman seperti memegang bara api. Kau harus menggenggamnya, tapi kau akan terbakar. Begitu yang kupahami. Jika menjadi bagian dari orang-orang ini adalah yang terbaik, aku sedang memastikan dan melayakkan diriku untuk bergabung. Menjadi pemuja demokrasi, bukan pilihanku. Aku benci demokrasi dan ide-ide kufur lainnya. Melalui kajian aku menanamkan dalam-dalam pemahaman ini agar tak tercerabut. Maka, meski belum menjadi trainer atau penulis handal, aku tetap mengatakan salah untuk salah. Dan benar untuk benar.

Tapi diakhir tulisan ini, sekelumit pikiran ‘bodoh’ memaksa untuk dikeluarkan. Ya, aku memang bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seorang muslimah yang ingin dicatat Allah sebagai bagian dari hambaNya yang membela Islam. Meski dengan pengalaman minim, aku mengerti bahwa dakwah adalah menyampaikan rasa cinta. Maka layakkah jika cinta itu menyakiti dan membangun benci?

Seperti tulisan di blog yang tadi kuceritakan, ia renyah. Dan mudah diterima. Bukankah begitu pula dakwah ini? Islam itu indah dan ramah. Ia selayaknya mudah diterima.

Ya, dan aku tahu bahwa tantangan dakwah adalah selalu ada yang ingin menggagalkan. Mempropagandai ide yang lurus itu salah. Memecah belah. Dan aku_dengan sedikitnya ilmuku_masih berpegang bahwa tujuan yang baik harus ditempuh dengan cara yang baik pula. Insyaa Allah tidak mengubah sedikitpun metode yang kuyakini. Hanya saja, jika kita melarutkan adu domba, bukankah sama saja mebiarkan pihak ketiga tertawa bahagia? Jika kita semakin menunjukkan perbedaan, bukankah semakin buruk Islam Ideologis ini di mata orang awam?

Paragraf ini hanya ingin membuat sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan, “niatan  berdakwah selayaknya berkorelasi dengan cara yang kita luapkan. Tapi jika dalam pelaksanaannya justru sering tidak menunjukkan empati dan peduli, maka salahnya ada dimana? Menghindari menjadi moderat, tapi menjadi muslim yang kasar? Begitukah? Menjadi muslim yang ramah, tapi menomor buncitkan syariat Islam? Benarkah?”

Maka, aku berharap aku memiliki kelurusan hati dan niatan. Perjuangan akan tetap dilakukan. Dengan menaati metode yang Rasul tetapkan. Syariat Allah adalah tumpuan dan pijakan. Maka Allah yang berhak memutuskan akhir segalanya.

Semoga.    

Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s