Nyam: Hidangan Cinta

Cobaan yang belakangan ini benar-benar sedang menguji kesabaran adalah kecepatan modem. Entah kenapa, signalnya sangat kurang bersahabat. Nah, ditambah lagi, modem kece A*A yang sejak pertama beli selalu ‘zwing zwing’ kecepatannya telah membangun sebuah kebiasaan. Apa itu? Ya, kalo lagi ngenet di tempat atau modem lain, terus lemot, uda deh pasti langsung berisik: “ih, apaan sih ini. lemot banget”

dan, dan sekarang si A*A sedang berubah T___T (atau ini teguran?) Ya, di tengah usaha menggeser-geser posisi neti, aku akhirnya mencari kesibukan lain.

ME-MASAK

(prok prok prok)

Nah kan, kesannya ini sesuatu yang tidak pernah aku lakukan ya. Tapi itu tidak benar pemirsa. Yang benar adalah: well, aku hanya jarang memasak. Nah, berhubung sekarang belum banyak warung yang buka, lidah mulai bosan dengan makanan yang itu itu saja, dan kesehatan (uhuk uhuk) yang menuntut menu sehat dan seimbang jadilah muncul kesimpulan: MASAK SENDIRI

Jujur, aktivitas ini sangat menyenangkan. Memilih sayur, bahan belanjaan, mencoba-coba resep karangan sendiri (haha). Yah, akhirnya beberapa menu andalan bisa diancungi jempol deh (apa laper)

Gambar

   Gambar

Yah, tampilannya memang tak seindah makanan di resto besar. Tapi berjuang sendiri, itu luar biasa. Memasak itu mebutuhkan kesabaran, keberanian, ketelatenan. Sabar karena kalau perut lapar, tapi harus mengeluarkan energi dulu, eh taunya ga enak, hehe, terima apa adanya. Berani untuk menciptakan cita rasa sendiri, bumbu Indonesia itu luar biasa. Telaten, ehm jangan grasak grusuk kayak perang di dapur lho.

Hem, jadi terimgat Ibu. Terima kasih untuk Ibu tercinta atas masakan yang begitu ku rindukan kini. Aku mengerti betapa lelahnya Engkau, ah. Malu rasanya jika ingat betapa sering aku malas makan hanya karena ingin ini ingin itu. Maafkan aku Ibu :’).

Ya, sempat beberapa waktu lalu ibu menasehatiku, “Nak, belajarlah memasak. Mumpung ada kakak di Bogor”. Sedikit kisah, aku kagum dengan kakak ku. Meski awalnya dia pun ga bisa masak (ga sehebat Ibu), tapi kini setelah memiliki 2 orang anak, ya makin hebatlah memasak. Bahkan kalau aku pulang dan ikut membantu di dapur nya, dia pasti menghujaniku dengan berbagai tips tips ibu-ibu. Cara belanja, memilih sayur, resep resep rahasia para ibu, bumbu dapur, bahkan… tips jadi istri yang baik. Haha, kalau sudah begini aku kalang kabut. Weiss, aku keluar dulu ya, ada urusan. Haha.

Salah satu kata-kata di film Le Grand Chief yang kuingat, “jumlah masakan enak itu sebanding dengan jumlah ibu di dunia”. Ehm, maknanya kutarik, “ibu dan semua hal darinya adalah yang terbaik”, meski mungkin tak semua ibu sangat jago memasak. Namun, esensinya adalah ia ingin memberikan hidangan terbaik bagi orang yang ia sayang. Ya, itu bukan sekedar masakan. Itu hidangan cinta.

Hanya kadang, dunia terlalu kejam. Sistem ini menjadikan banyak ibu yang lupa daratan. Jangankan memasak, mengerti bahwa kiprah sebagai ibu adalah mulia saja banyak yang lupa. Ironis memang.

Tapi diluar itu, aku ingin bilang, “Aku cinta Ibu. Aku akan jadi sebaik Ibu.”

Salam sayang, :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s