RE-untuk semua

Saat tulisan ini sedang kutuangkan, winamp di neti lagi muter lagu “Buka Semangat Baru”-nya Ello dkk. Entah mp3 yang mempengaruhi ide tulisan ini muncul ataukah kebetulan saja lagunya pas dengan pikiranku, aku tak begitu ingat. Yang jelas begitu saja ada sesuatu yang menggelitik di benakku. Setidaknya ku pikir, tak ada salahnya [atau sudah semestinya] kita coba menakar beberapa hal yang ingin kubincangkan berikut ini.

Indonesia merdeka. Ya, 68 tahun sudah. Aku bisa liat beberapa wajah ringkih veteran perang kemerdekaan yang diundang hadir dalam peringatan 17-an lalu. Ehm, mereka seusia kakek buyutku mungkin ya, yang ku dengar ceritanya dari Ibu, kakek buyutku juga hidup di masa penjajahan.

Memang aku tak begitu pandai pelajaran Sejarah, tapi untuk mengingat cita-cita luhur para pahlawan negeri ini, aku bisa dan itu cukup membuatku bergidik. Woi, mereka berkorban harta, waktu, bahkan nyawa demi menghilangkan yang namanya penjajahan. Ngebebasin bumi khatulistiwa ini yang dijarah selama 350 tahun sama Belanda, terus dilanjutin sama Jepang. Nah, siapa yang ga kagum?

Tapi, mereka yang berjuang itu bukan artis yang dikenal semua orang. Mereka hanya sosok orang-orang ‘muda masa lalu’ yang kini hidup di dunia yang entah ia harapkan atau tidak. Atau sederhananya, Indonesia kinikah yang ia perjuangkan dulu?

Bagaimana tidak, aku sampai tergelak melihat berbagai kondisi lucu negeri ini. Bayangkan, seorang presiden sampai terbit amarahnya karena saat latihan upacara 17-an, beliau mendengar lagu CIPTAAN miliknya dinyanyikan dengan nada yang terlalu lambat.

Wait? Appah? Plis…, penting ga sih ngurusin yang begituan? Telinga kita udah cukup muak mendengar berita kejahatan yang marak terjadi. Berita orang miskin, sakit ga punya duit, sekolah ga punya duit, nyopet digebukin, tobat plus pake peci dibilang teroris, sholat di masjid ditangkep densus, media mem-blow up, mati berarti salah, kalau ga salah, dibebasin ya balik lagi miskin.

Itu derita rakyat. Yang pejabat? Pinter, banyak duit. Bisa bangun relasi, sogok menyogok. Ketangkep, meski dengan bukti yang paling nyata sekalipun masih dianggap terduga, bertahun tahun kasus ga terungkap. Duit negara sudah melayang, pas terbukti eh penjaranya mewah bak hotel bintang 5. Harta ga disita, pas keluar jadi pejabat lagi. Bener?

Nah, sekarang balik lagi. Rupanya, dalam pesta 17-an di istana negara itu, ada orang-orang terpilih yang dipanggil. Mereka dianggap berprestasi di bidangnya. Macem macem kulihat, misal koki terbaik, entah penilaiannya gimana, aku kurang ngerti. Dan…dan yang membuatku terbatuk-batuk adalah adanya artis terbaik yang berprestasi. Siapa dia? Ah, udah tau lah ya siapa. Masa mesti kusebutin juga? Itu tuh…

Artis ini berprestasi karena meskipun dia artisss tiss tapi katanya dia nggak mau menanggalkan pentingnya menuntut ilmu alias sekolah. Dia sekolah di universitas luar negeri, katanya sih salah satu universitas terbaik dunia. Okey okey…

Jadi? Mataku sampe membelalak mau bilang: TERUS KITA MESTI BANGGA GITUH?

Isshhh. Oke. Aku pikir ini bukan tentang iri hati (karena kita ga diudang), tapi apa korelasi kehadiran dan ‘prestasi’nya atas persoalan negeri ini? – kalo nulis begini bakalan banyak yang nanya balik: woi, terus kamu punya prestasi apa buat dibanggain dan berkorelasi apa terhadap negeri ini? Bisanya protes wae -______-

Bukan gitu, kawan.

Aku bicara bahwa inilah melenakannya buaian kehidupan kini. Sistem ini, membuat kekritisan hampir lenyap. Pemuda yang ditunggu, tak pernah bertemu dengan akar persoalan bangsa dan negara. Ku pikir, andai ada pemuda pemudi yang layak dibanggakan tentulah ia yang memenuhi kriteria tertentu. Semisal, ia yang kritis pada kebijakan yang tak pro rakyat.

[aku berharap aku bisa membahas sisi ini lebih lanjut]

Tapi sepertinya hadiah buat HUT Indonesia tahun ini cukup banyak ya. Inget titel juara dunia dari atlet bulutangkis kita? Pasti lah ya. Haha, aku yang juga selalu tergiur untuk menonton perlombaan yang satu ini jadi turut bangga gitu. Bahkan nonton siaran ulang saja dag dig dug, halah. Jadi maksudnya kita harus bangga? Tunggu dulu, aku tak bilang begitu. Karena di tengah euforia yang ada, kita tau kekayaan yang sejatinya jauh lebih besar milik kita justru sedang dinikmati sama asing. Liat aja, emas, minyak bumi dkk-nya, hutan, laut dan segala isinya, udah dikeruk yang mungkin ga bersisa buat anak cucu kita. Demi 1,2 piala emas, kita kehilangan gunung emas, itu slogan nyeleneh yang pas banget kan?!

Emang rada loncat loncat tulisan ini. Yang jelas, saya (tadi aku) sedang ingin mengajak kita buat lebih peduli lagi aja. Pikir lagi, kita beneran sudah merdeka atau belum? Tambah lagi, satu tambahan problem (yang parahnya dibanggain, digede-gedein, dll) yaitu ajang MissWorld. Ohhh bener bener -_____________-

Terakhir, kemerdekaan itu sempit banget kalo nilainya negeri kita. Tadi siang ikutan aksi damai ke kedubes Mesir untuk menyampaikan pandangan tentang revolusi dangkal Mesir dan kegagalan perubahan jika lewat Demokrasi. Merdeka itu, manusia kembali dari penghambaan sama manusia dan materi pada penghambaan hanya pada Allah. Tragedi pembunuhan dan pembantaian di Mesir, cuma 1 dari sekian banyak pembantaian atas umat Islam di dunia ini. So, wajar kah kita ber’bahagia’ dengan ‘kemerdekaan’ kita padahal saudara kita (seaqidah) justru sedang menderita?

Tulisan ini sekali lagi bukan dalam rangka HUT RI. Atau untuk dicap ber’prestasi’ sebagai penulis dan diundang ke Istana tahun depan, karena itu ga mungkin (eh iya ga? :D). Bakalan langsung terbelalak dunia saat itu terjadi, haha lebay. Ya, tulisan ini pun jelas tak akan membuat pemilik wewenang membatalkan ajang MissWorld, atau membuat Mesir dll bebas dari penjajahan. Tulisan ini, bagian dari ‘karena kau bisa membunuh seseorang dengan senjata, kau bisa penjarakan jasadnya, tapi kau tak bisa menghalangi sebuah ide yang lahir lewat kata’.

Mengutip kata-kata MC aksi damai tadi pagi, “kami tidak mengambil jalan kudeta, kami tidak berjuang dengan demokrasi. Kami berjuang melalui jalan yang ditempuh Rasul kami. Jalan itu dakwah. Dan dakwah kami tak menggunakan kekerasan. Ini adalah dakwah pemikiran. Lewat kata, lewat suara kami.”

Ya, tulisan ini semoga membuka pikiran.

Salam,

Gambar

#karena potret kita tergantung kita#

Advertisements

2 thoughts on “RE-untuk semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s