Mata-Hari

Ya, aku membuat kesalahan dengan melakukan ini. Kesalahan pada diriku sendiri karena saat ini seharusnya aku tak melakukan perbuatan ini. Well, apa itu? Ya, membuka blog ini dan mengisinya dengan tulisan tulisan bodoh yang terus menari nari tanpa peduli padaku. Bukankah seharusnya aku sedang fokus pada lembar skripsi yang belum berhenti membayangi itu?

Ku bilang aku ingin merekam seluruh jejak yang telah tercipta, meski kadang tak jarang rasa itu sekuat aku ingin menghapus berjuta memori yang menyakitkan. Menyebalkan rasanya mengingat bahwa tiap sesuatu ada batas dan koridor untuk bertahan. Berpikir untuk melawan adalah sebuah kesia siaan, karena sebuah batasan memang lahir seiring dengan keinginan untuk melewati. Maka menolaknnya adalah sebuah kebodohan.

Aku percaya bahwa kadang ‘kesalahan’ tak selalu harus dihukumi salah. Seperti kali ini. Dalam kacamata seseorang yang ‘skripsi minded’, mencoba berbagi hati pada blog kumuhmu tak lebih dari sebuah politik bunuh diri, sebuah pencitraan yang sia sia. Kau seharusnya leburkan dirimu pada tumpukan buku, slide berjamur, atau apalah yang menunjukkan kau punya otak. Jadi dalam perspektif ini aku bersalah.

Namun dalam penglihatan seseorang ‘manusia’ lain, kadang kita perlu memahami sebuah kekuatan diri. Yang tak mutlak harus melulu sama, meski itu sesuatu yang mesti dituju dan dicapai. Diperjuangkan hingga batas terakhir kekuatanmu. Ya, aku meletakkan diriku dalam posisi ini. Aku menolak untuk tak menghargai diri ku dengan segala kesempurnaan yang Ia sematkan padaku. Sejalan bahwa aku jelas akan memperjuangkan skripsi dan kelulusanku, ini jelas. Demi sebuah pencapaian dan rasa syukur tentunya. Namun, aku memahami bahwa ada porsi dalam sebuah kondisi, sama halnya dengan kau ingin mengunyah seluruh makanan di depanmu dalam satu waktu, yang ada kau akan muntah atau sedikitnya menyesal bahwa kau seharusnya bersabar.

Kadang sebuah retorika membuat sebuah alasan terlihat keren dan wajar untuk dilaksanakan. Padahal intinya adalah bahwa kau hanya ingin rehat sejenak tanpa melupakan. Cuma itu.

Gumpalan otak yang dilindungi sebuah batok bernama kepala itu kadang memang menghimpun banyak file untuk dikolaborasikan. Sekarang aku merasa begitu banyak peristiwa yang mendorong seseorang untuk hanya memiliki satu ‘impian’ dalam hidupnya. Ingat, satu itu memang satu: yaitu: SEMUA. Apa maksudnya?

Seorang pengusaha mungkin hanya memiliki satu keinginan: SEMUA USAHANYA UNTUNG

Seorang ibu mungkin hanya memiliki satu keinginan: SEMUA ANAKNYA BERHASIL

Seorang mahasiswa mungkin hanya memiliki satu keinginan: SEMUA BERJALAN BAIK BAIK SAJA

Makna ‘semua’ akan mulai kau definisikan sekarang dengan versimu. Dan bagi orang lain, pendefinisianmu barangkali sebuah kebodohan dan kemumetan pikir. Begitupun halnya pikirmu bagi orang lain. Disini, sebuah perspektif lagi lagi tak pernah sama. Wajar rasanya, aku selalu mendegar kata ‘itu tergantung orang’.

Well, mungkin itulah kenapa kita tak pernah selayaknya berupaya untuk mengenakan sebuah keputusan sejati atas alasan pikir kita. Sama seperti pisau hukum yang tak bermata pada kedua belahnya sisinya.

Maka, butuh sebuah kondisi dimana ada hukum dan ‘perspektif’ sejati. Dimana ukuran nya jelas. Tak menyalahi sisi kanan kiri. Sebuah perbedaan memang keniscayaan, maka ‘perspektif’ sejati bukan menghilangkannya, tapi membuatnya wajar apa adanya. Tanpa perlu penghakiman. Layaknya sebuah kebolehan, kau tak perlu menarik urat leher untuk menjelaskan neraka dan surga. Cukup terima dan wajarkan ia.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s