Sang Pemilik Rasa yang Tertukar

Kalo dengar kata ‘tertukar’, bawaannya inget sinetron, ya gak? Tapi sebenernya sih, ga ada kaitannya, sama sekali. Yang jelas, insyaaAllah kisah disini jauh lebih berbobot, hue hue hue. 

Jadi sih awalnya, tulisan ini mau ku kasih judul: Sang Pemilik Cinta dan Benci yang Tertukar. Tapi terus diliat liat, ah kepanjangan. Terus, kalo udah dikasih tau yang tertukar itu cinta dan benci, ah ga asik (walopun sekarang jadinya malah ngasih tau yak, hehe). Yah, akhirnya dipersingkatlah jadi ‘rasa’ yang tertukar. Gimana? Keren gak? Keren ya, ya, ya. (maksa mode:ON)

Ya, jadi cerita ini terinspirasi saat lagi kajian. Kajian adalah sebuah proses dimana kau mengkaji (halah). Minggu malem, akuh (uwek), saya aja deh, memang ada jadwal kajian. Kita sih nyebutnya kuliah, karena pake ada materi semesteran segala gitu, kontrak perkuliahan, dll. Rada gimana kan jadinya. Nah, awalnya nama kelas ‘kuliah’ ini PC girls, waktu materi kajian kita tahun lalu, Political class, girls (ada gaya nya segala, norak emang!). Nah, yg tahun sekarang, semua nya lanjutan dari PC itu, cuma ada beberapa anggota yg ga ada karena ucah cabut akibat perbuatan yang tidak diduga, haha (baca:nikah). Setelah diliat, eh ternyata tinggal 7 orang, dan secara sepihak saja, kelas ini ingin dinamakan ‘seven wonders’ (sulit memang memahami yang dipengenin sama yang ngasih nama ini). Huftt. Tapi untunglah, sang ‘dosen’ udah punya nama sendiri buat kelas ini, namanya sih serius banget ‘KAPITA SELEKTA’. Nah lo? Persoalannya, saya pun belum tau kepanjangannya apa -_-. Nanti dah, saya cari tau.

Nah, materi kuliah minggu ke-3, judulnya panjang: Titik Awal Dakwah Rasulullah dan Aktivitas Tahap Pertama (panjang banget yah -_-), tapi apa boleh buat, emang itu lah materi yg harus dibahas.

Jadi setelah lamaaaa diskusi (materi diskusinya insyaaAllah diliat dalam tulisan lain ya), muncullah pembahasan tentang seseorang yang hidupnya penuh kontroversi. Siapa dia?

Jreng jreng…

Dialah, Umar ibn Khattab.

Jadi ringkasnya, ending materi ini membuat kita berpikir, bagaimana seorang Umar yang begitu membenci Islam pada awalnya berubah 180 derajat menjadi begitu mencintai Islam.

Apa yang membuat ia menjadi begitu?

Hiks, kalo baca kisah hidupnya atau nonton filmnya yang dulu pernah ditayangin, wuaaa, keren banget >.< (bukan pemeran dalam filmnya ya, eh hehe).

Saya sih ga bermaksud ceritain kisah hidup Umar disini, tapi sebuah poin penting dari kisah hidupnya yang penuh lika liku, semestinya bisa nyadarin kita kalo Islam itu rahmat dan kebenaran akan muncul dalam hati orang yang benar-benar ingin menemukan kebenaran itu. Tak peduli, siapa dia di masa lalu, sama seperti Umar. Lahir dan besar dalam kebencian akan Islam, mengakhiri masa di dunia dengan menjadi salah satu pejuang Islam terhebat.

Pulang ke kosan malam itu dengan hati plong dan malu. Ah, Umar, apa bandingan perjuanganku dengan engkau.

Jebret!

*tiba tiba saya sudah basah karena kecipratan genangan air dari pengendara motor yang lewat, ah alamat karena duduk depan pintu angkot. Woi, saya lagi mikirin Umar, situ ga bisa ngerasain?!

ups.

Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s