Meniti Hati

Wahai Dzat yang tlah menyapu langit malam, pekat tapi ada sela dalam kilau milyaran bintang

Wahai Dzat yang tlah menghembuskan semilir angin, sejuk menelusup di ranting kecil sanubari

Engkau, Pemilik Segala Arti

Tlah mengerti kelelahan jiwa jiwa ini

Tlah menilai seberapa ringkihnya raga ini

atas beban yang bertambah lagi dan lagi Continue reading “Meniti Hati”

Advertisements

…allahumma aamiin…

...allahumma aamiin...

masih, masih sama.
aku rasa masih belum ada yang pernah benar menulis namaku.
semudah itu. ah, andai boleh menangis sekeras kerasnya :’)

semoga kalian selalu dilimpahi keberkahan dalam perjuangan dan keikhlasan dalam pengorbanan. segala yang baik dari para pendahulu, semoga terteruskan. Yang buruk, semoga diperbaiki.

ada pintu pintu yang terkuak

semilir angin seakan tak sabar menyelisip

maka kibaskan debu debu usang rasa kekalahan

karena kalian tak pernah kalah

kalian tak pernah kalah

 

 

 

Life Of…

Sesaat aku seperti memahami rasa milik Richard Parker. Mungkin inilah sangkaanku atas alasannya yang tak menoleh sedikitpun ke belakang. Yang jelas, kupikir bukan karena ia tak menyukai teman hidupnya ratusan hari lalu. Bagiku, justru ini bukti seruak rasa yang tak mampu lagi dibendungnya. Ia tak benci, apalagi merasa layak menghukum.

Ya, ia memang melewati sebuah kehidupan berat yang begitu ingin diakhiri, apapun caranya. Tapi, saat momen meninggalkan ‘kondisi tadi’ begitu nyata hadir di depannya, ia justru tak pernah membayangkan akan berpisah secepat dan semudah itu. Ketidaksangkaan inilah beban terberat baginya.

Life of Pi Continue reading “Life Of…”

(belum berjudul) Bag. 1

Ah, biar ku delete saja dialog ini | Ah, tapi kan ku bilang apapun itu, adalah sebuah sejarah | Ah, tapi siapa penulis bodoh yang menulis begini? | Ah =_=

 

Sudut Kota, akhir tahun 2009

“…kita tak perlu menangisi sebuah perpisahan tanpa pertemuan, kan…’ 

 

Aku mendapatimu siang itu saat jam istirahat kantor. Kuseruput es jeruk yang baru kupesan, berjalan ke arahmu sambil melirik jam, kau seperti biasa sudah tiba lebih dulu. “Hai sori, udah lama?”

Sambil mengangkat wajah, kau tersenyum. Kulihat kau menutup notebookmu dan mengambil serbet, “Tak pernah berubah, kau selalu sembrono saat meminum sesuatu”. Aku melirik baju depanku, hei hei, aku tak menyadari ada tetesan es jeruk disana, menguning.

Oh, kikuk segera kuambil serbet dan berupaya mengelap kemejaku sendiri. “Ehm…, jadi apa?” Kutarik bangku. 

“Aku akan pindah ke Kalimantan akhir bulan depan, setelah dipertimbangkan aku memang tak ada pilihan lagi”.

Mulutku tiba-tiba mengering. “Bagus”, kata itu yang keluar. Kuremas sarbet ditanganku.

“Aku akan disana dua tahun masa kontrak.”

Aku ragu seperti apa ekspresiku sekarang, tapi kuingat aku ingin tersenyum, “Bagus-lah”, sekarang suaraku benar-benar tercekat. Ku seruput lagi es jerukku.

“Aku akan menikah, seminggu sebelum ke Kalimantan.”

Drrrttt, drrrttt, hp di atas meja bergetar. Aku tersentak, tak jelas. 

“Maaf, aku angkat telpon dulu, dari kantor.”

Aku mengangguk, entah terlihat atau tidak. Mencoba menutupi kekacauanku, kutenggak sisa es jeruk yang sedari tadi masih ditangan. Sekarang aku merasa perutku membutuhkan sesuatu yang lebih dingin untuk menghentikannya bergejolak. 

Bruk.

***

Gambar