Life Of…

Sesaat aku seperti memahami rasa milik Richard Parker. Mungkin inilah sangkaanku atas alasannya yang tak menoleh sedikitpun ke belakang. Yang jelas, kupikir bukan karena ia tak menyukai teman hidupnya ratusan hari lalu. Bagiku, justru ini bukti seruak rasa yang tak mampu lagi dibendungnya. Ia tak benci, apalagi merasa layak menghukum.

Ya, ia memang melewati sebuah kehidupan berat yang begitu ingin diakhiri, apapun caranya. Tapi, saat momen meninggalkan ‘kondisi tadi’ begitu nyata hadir di depannya, ia justru tak pernah membayangkan akan berpisah secepat dan semudah itu. Ketidaksangkaan inilah beban terberat baginya.

Life of Pi

Jemari ini kadang tergerak untuk menghamburkan kumpulan pesan singkat, sekedar untuk mengingat masa lalu. Masa dimana aku pernah terlalu sering menyibukkanmu, kau ingat? Kala suasana hangat dan dingin yang silih berganti mewarnai langkah langkah kita. Alunan tegur yang kadang mengeras karena paham yang terselisih, aroma senyum yang hampir memudar karena alpa yang kerap menyapa, kau ingat?

Dinda, butir butir lelah yang terpancar dari raut wajahmu, beriringan dengan gelombang hela nafas yang memburu, aku dengar itu. Aku selalu dengar. Karenanya, lebih dari satu tahun lalu, azzamku adalah membuatmu tersenyum. Membayangkan renyahnya kelakar halusmu, dalam sepasang mata nan bahagia.

Namun, rupanya hidup mengajarkan kita pahit, manis, dan selaksa rasa. Semata membuat kita mengerti dunia dengan segala pilihannya. Perjalanan kita dalam sebuah kapal dan aku adalah nakhoda yang tak cukup baik, atau mungkin buruk. Dalam tamparan ombak, arus yang mengalihkan haluan, kita sejatinya berlayar bersama.

Sebuah perjuangan besar, hanya diemban oleh orang orang yang hebat. Aku beruntung, mengenal dan diperkenankan mengarungi lautan itu bersama kalian. Perjalanan kita sejatinya tak sebentar, ianya hanya berbatas saat kita sendiri diminta kembali ke haribaanNya. Perjalanan kita sejatinya tak kecil, karena ia mengampu jutaan asa milik mata mata kecil milik anak anak Palestina, Suriah, Rohingya. Perjalanan kita sejatinya dinanti, karena ia menghantarkan kebebasan atas pemerkosaan, kemiskinan, pembunuhan, penjajahan, yang terjadi pada seluruh muslim di dunia ini.

Kini, diri ini tak lah lagi mengarungi kapal itu bersama kalian. Diri ini, yang mungkin tak meninggalkan perbekalan yang cukup, yang mungkin lupa menutup lubang kecil disudut kapal, yang mungkin lupa menarik layar yang tersangkut, telah mampir di pelabuhan. Menjejaki daratan untuk berharap bertemu kapal lain yang siap berangkat.

Kini, kalian lah pengisi kapal tadi. Maka, berlayarlah yang gagah dan kokoh. Gentarkan musuh-musuhmu dalam layar yang terkembang tak gentar. Jadilah bagian yang saling menguatkan. Kalian adalah anak-anak manusia yang terlahir menjadi pembebas. InsyaaAllah…

Dan andai diminta kembali, mendekati empat tahun lalu, aku akan tetap memilihmu. Memilih bersama kalian, tak ingin dan tak akan yang lain. Ya, dan meski mulut ini ingin sekali berucap sepatah kata. Tapi berharap ia bukan untuk yang terakhir. Karena, tak ada akhir untuk pilihan hidup yang terhujam sejak awal. Aku berharap, dalam pelayaran kita, ada saatnya kita mampu saling menyapa untuk berbagi bekal andai ada yang menipis. Namun, pertemuan terakhir dalam pelabuhan sejati, adalah doa tertinggi. Maka, wahai para pembebas, sampai jumpa di titik akhir!

 Gambar

Advertisements

4 thoughts on “Life Of…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s