TAKAR!!!

Masa lalu tetaplah masa lalu kala ianya hanya dianggap kisah dulu. Namun, bagi seorang wanita paruh baya yang kini tinggal seorang diri di dalam gubuk nestapa, berteman sepi dan duka, maka lain lagi. Baginya, mungkin masa lalu adalah sesosok tokoh jahat yang semestinya tak pernah dicipta sutradara. Continue reading “TAKAR!!!”

Advertisements

Ambang Batas!

Kalian biasa menghabiskan malam minggu bersama teman sejawat? Ah itu biasa!

Atau malam mingguan dengan pacar? Ah, jangan sampai, dosa!

Nah, tapi cerita malam minggu yang satu ini, begitu berkesan dan berbekas. Berkesan karena kau sebenarnya hanya butuh 120 menit untuk memahami hidup (eaaa) dan berbekas karena…nanti kau akan tau sendiri -_-“

Jadi malam mingguan dimanakah saya? Yihaa, di jalanan! Tapi bukan sembarang jalanan. Tapi jalan raya dimana kau terjebak bersama ratusan manusia lain. Yup, kau terjebak macet cet cet.

Ah, Bogor macet? Bukannya biasa!

Ya, memang sih, macet bukan barang baru di Bogor. Tapi, hampir 2 jam waktu yang ditempuh hanya untuk sampai pada tujuan yang sebenarnya cuma butuh waktu 10-15 menit menggunakan motor, itu sesuatu banget.

—jadi sekilas tentang malam itu—

Ceritanya setelah selesai halaqoh, saya berencana pulang ke rumah kakak di Cibanteng. Dari kosan di kampus, biasanya saya naik angkot. Tapi kebetulan selesai halaqoh itu malam (saya sangat tak berani naik angkot malam terus sendirian), makanya saya ngikut seorang teman, sebut saja Rizka (haha) yang malam itu pulang ke rumahnya, nebeng gratisan 😀

Namun siapa yang menyangka bahwa malam itu akan menjadi malam yang melelahkan. Bukannya bisa segera sampai rumah dan beristirahat yang ada malah terjebak di tengah tumpukan kenderaan yang maju tak bisa, mundur pun sudah terlambat. Hawa panas karena asap knalpot dan debu yang dibawa angin, ditambah energi negatif karena emosi jelas menyelimuti jalanan kala itu. Halah halah. Yup, siapa yang bisa membayangkan, orang orang yang bekerja selama 1 hari (mungkin mengalami berbagai kepayahan), lalu menghadapi keruwetan lalu lintas seperti ini, erghhh…darah siapa yang gak naik coba?

Tapi, selama masa penantian (menunggu semua kembali normal), berbagai hal mulai melintas dibenak saya. Seperti biasa, ide memang suka seenaknya muncul. Jadilah, beberapa hal berikut yang ingin kukisahkan padamu.

Oiya, sedikit awalan, dalam kuliah perubahan sosial yang pernah saya ikuti, dosen saya pernah berujar, “kemajuan atau modernisasi itu membutuhkan banyak kompensasi. Kau yang dulu bisa mencapai kantor dalam waktu 30 menit, kini harus 3 jam berangkat lebih awal. Artinya kau mengkompensasi waktu bersama keluargamu menjadi lebih sedikit.”

Intinya, hidup dalam kondisi seperti saat ini memang membutuhkan kesabaran dan pengorbanan. Nah, disinilah letak perbedaan yang mengganjal pikiran saya. Saya pikir kita tetap harus mencermati apa yang dimaksud dengan kompensasi itu sendiri. Persoalannya, kemacetan bukan lah sebuah imbas yang tidak bisa dihindari. Teknologi, proses modernisasi sekalipun adalah buah pikiran manusia. Maka lantas kenapa manusia justru ‘memberi pengorbanan’? Saya jadi membayangkan adanya kudeta robot akan profesor dan manusia penciptanya. Begitukah?

Di satu sisi, persoalan kemacetan membawa kita untuk berpikir solutif, apa solusi cepat namun tepat atas ini? Pengurangan motorkah? Pembuatan jembatan layangkah? Busway? Pelebaran jalan? Atau apa? Di Jakarta dan Bogor misalnya, macet jadi PR besar buat pemkot nya. Tapi toh belum pernah selesai alias macet masih ada dimana-mana. Nah, mungkin saya sendiri masih perlu sangat banyak belajar untuk mengurai kemacetan. Yang jelas, masyarakat manapun, bisa merasakan adanya pengelolaan yang salah disini. Mungkin kita perlu tilikan yang lebih dalam atas persoalan yang tak kecil ini.

Tapi, sedikit ‘melenceng’, saya pikir keruwetan jalan raya, seperti secuil kisah tentang kehidupan zaman ini. Yang juga ruwet, bikin mumet. Kita manusia terbelit dalam benang kusut, semakin bergerak, semakin erat terikat dalam kekusutannya.

Dalam proses kemacetan, seseorang yang tengah berada dipusaran kemacetan, mustahil bisa mengatur jalanan agar kembali normal. Kecuali ia memiliki pandangan yang lebih luas, dimana kira-kira mobil akan mundur, bagian mana yang harus diurai, dan lain sebagainya. Nah, begitupun mengurai persoalan masa ini. Bahasanya: terbang lebih tinggi, helicopter view, melihat di balik dinding. Dan seseorang yang mampu berbuat demikian, haruslah seseorang yang cerdas. Melihat dengan jernih. Dengan begini, solusi akan tercapai secara hakiki.

Percaya atau tidak?

*cerita yang semestinya sudah kuceritakan beberapa minggu lalu 😀

Aku terbangun tengah malam

Aku terbangun tengah malam.

Menyegerakan rasa sadar yang masih setengah.

Sunyi merasuk, dingin.

Aku terbangun tengah malam

Tanyaku, jutaankah yang belum sempat terlelap?

Pahamku, bahkan siang tak pernah sejenak tertukar

Atas hidup yang terus mengerucut pada dunia semata

Mengejar ketidakpastian

Menikungi lintasan impian khayalan

Aku terbangun tengah malam

Usia senja tak pernah menukar empunya

Belakangan, manusia tertatih untuk tersadar menerima

Lalu, mengerti

*tidak memiliki photo untuk diaplot