HIDUP 120 MENIT

Image

Aku ingat saat menarik bibirku menjadi sebuah lengkungan tipis ketika Triana, adik satu kosku, mengangkat tangannya yang dikepal dan diacung ke udara. Semangat! Kakak pasti bisa! Aku mampu membaca gerak bibirnya dari kejauhan. Kuanggukkan kepala sambil mengucap basmallah dan bisikan kalimat tawakkal pada Ilahi.

Ya, aku memang menantikan keajaiban. Kekuatan untuk melalui salah satu hari terberat yang mungkin pernah kualami. Hari dimana perjalananku selama 4 tahun akan dipertaruhkan selama 2 jam. Waktu yang kurasa…ehm, begitu singkat untuk mendakwa setiap mahasiswa, termasuk diriku, lulus atau tidak.

Jangan takut Nak, jika kamu sudah berusaha dengan keras, belajar sungguh-sungguh, insyaaAllah semua akan baik-baik saja. Yakinlah sama Allah.

Sehari sebelumnya ibu meneleponku, bergantian dengan ayah, mereka banyak memberi nasehat. Aku tak pernah mengerti, entah mengapa meski tak berada disampingku mereka selalu tahu betapa gugupnya aku, termasuk kali ini. Mungkin begitulah orang tua.

kau tak akan pernah paham sebelum kau menjadi seperti mereka.

Menahan haru yang membuncah, aku mengiyakan dan meyakinkan mereka bahwa aku akan baik-baik saja. Hari itu entah bagaimana, saat aku seharusnya mengulang barisan nama-nama serangga yang kini menari di layar notebookku, aku justru mengenang kejadian empat tahun yang lalu. Nyatanya, berada di dunia kampus taklah serta merta mengidentikkan penghuninya pada titik kedewasaan. Sejauh ini, aku merasa justru inilah masa pencarian jati diri. Masa dimana orang-orang berpikir bahwa ‘kau sudah dewasa’, meski sebenarnya mungkin tidak. Masa dimana mahasiswa ‘agent of change’ dianggap sebagai mesin solusi persoalan bangsa, ah…berat sekali rasanya.

Merantau menyeberangi pulau demi masuk universitas yang didamba menuntutku berpisah dengan ayah ibu. Meski begitu bukan perpisahan yang kutakuti, saat aku akan kembali dan menerima jutaan asa dari ayah ibu atau kampung halamanku, itulah yang menjadi beban pikiranku.

Akankah aku mampu? Memang ingin menjadi apa aku kelak? Dengan apa aku mengabdikan diriku?

Aku berharap menemukan jawabannya kelak. Atau setidaknya memiliki keberanian untuk memikirkannya.

Ya, kau ingin menjadi apa kelak? Ya, cita-citamu?

Dan..dan ku ingat itu pula lah pertanyaan dosen pembimbing akademikku saat pertama kali aku menemuinya. Aku ingat pula saat itu aku hanya ternganga dan tertegun. Ya Allah, kenapa pertanyaan ini? Hingga akhirnya aku keluar ruangan beliau setelah mengucapkan janji untuk memikirkan jawabannya. Pertemuan itu membuatku tersadar, aku belum tahu apa yang kuinginkan. Aku tak tahu cita-cita yang kudamba. Padahal, kuingat-ingat sejak kecil aku selalu memiliki banyak cita-cita. Melihat pengabdian ayah ibu yang menjadi guru di tempat terpencil membuatku ingin menggantikan mereka. Menyaksikan polisi wanita yang mengatur lalu lintas, membangkitkan semangatku untuk menjadi pembela masyarakat. Ingin menjadi dokter, ustadzah, hingga atlet bulu tangkis pernah kucatat sebagai impianku dimasa depan. Kini aku teringis, mengingat betapa sulitnya aku menjawab pertanyaan singkat tadi.

Neng, ruangannya sudah dibuka. Jam 9 kan sidangnya? Petugas TU yang rupanya sedari tadi bolak balik, berdiri tepat didepanku. Ia rupanya membawa berkas dan snack untuk dosen. Aku tergagap dan mengangguk, perlahan aku berjalan memasuki ruang berukuran 5×3 di ujung lorong. Kulongo ke dalam, masih kosong, berarti dosenku belum datang. Ah, aku masih berharap sedang bermimpi dan hari ini adalah sebuah kebohongan. Atau, jika pun ini nyata aku berharap semua segera berakhir.

Jadi? Setelah ini apa rencanamu?

Seperti ada palu besar menimpaku. Oh my God, kenapa mesti pertanyaan ini lagi? Aku mencoba mencubit pergelangan tanganku, meyakinkan bahwa pertanyaan itulah yang dilontarkan oleh dosen pengujiku. Aku tak habis pikir, kenapa bukan pertanyaan tentang Homona coffearia, Hyposidra talaca atau nama ilmiah lain yang menunjukkan aku adalah calon dokter tanaman. Aku tak tahu bagaimana wajahku saat ini. Tapi aku merasa ingin menangis. Aku berusaha menyusun jawaban dengan membuka lembaran pelajaran hidupku, disini aku tak bisa mengelak lagi.

Kau yakin ilmumu saat ini sudah cukup untuk menjalani kehidupan kelak?

Bug. Kini aku merasa pukulan tepat ke jantungku, ah jangan…jangan menangis. Aku tergagap.

Mahasiswa selalu berpikir bahwa sidang adalah akhir dari ‘penderitaan’, mereka selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi dua jam ini. Padahal, ini bukanlah akhir, ini adalah awal. Kamu akan segera menjadi harapan masyarakat, jika ujian ini kamu anggap titik akhir dan berusaha hanya untuk hari ini, kamu sedang menuju pada kematian impian.  

Aku ragu apakah tadi aku hampir tergelak. Menyadari betapa bodohnya aku. Bagaimana bisa aku ketakutan menghadapi 120 menit ini. Nyatanya, ia hanyalah pintu gerbang masa depan yang perlahan membuka. Pelan, tapi pasti sedang membawaku pada sebuah petak yang lebih besar, yang hingganya tak mudah kutakar. Ah, aku meringis malu tapi tak ingin mengelak. Bapak, cita-citaku adalah…

Advertisements

One thought on “HIDUP 120 MENIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s