TAKAR!!!

Masa lalu tetaplah masa lalu kala ianya hanya dianggap kisah dulu. Namun, bagi seorang wanita paruh baya yang kini tinggal seorang diri di dalam gubuk nestapa, berteman sepi dan duka, maka lain lagi. Baginya, mungkin masa lalu adalah sesosok tokoh jahat yang semestinya tak pernah dicipta sutradara.

Siapa yang tahu ternyata manusia mengenal konotasi. Rupanya, gubuk nestapa itu tak lain sebuah istana yang bermandikan cahaya, kaca-kacanya memantulkan deretan warna, dengan telaga beraroma bunga mengitari pinggirannya. Pada akhirnya, sutradara tadi tidaklah jahat. Ia menciptakan masa lalu sebagai proses dan jalan panjang menuju kebahagiaan.

Lagi, manusia yang membaca kisahnya hanya menakar.

Bicara masa lalu, katanya hanya ada tiga jenis manusia: yang mengambil pelajaran, yang tersadar sejenak tapi mudah lupa lagi dan yang terakhir adalah yang tak bisa bangkit dan terus menyesali. Nah, yang mana kita?

Secara keinginan terdalam, siapapun orangnya pasti ingin menjadi sesosok manusia yang tergambar sempurna. Lembut perilaku, mudah memaafkan, dan terus belajar dari apa yang telah terjadi, ia tipe menyenangkan tapi susah ditemui. Akibatnya, kita pasti akan mencela sesosok tokoh menyebalkan yang kerjanya terus menangis. Apapun menjadi pilu baginya, semua adalah kesalahan, dan berharap itu adalah mimpi. Manusia tipe ini sebenarnya jarang ada, tapi akan membuat kita terpaku saat bertemu dengannya: “Gue diputusin…, omaigat…, tega banget dia, padahal gua…”. Ya, tipe ini memang lahir dari bentukan keadaan, jadi wajar saja kasusnya musiman, tapi musiman yang terus menerus (nahlo…).

Tapi, pewajaran juga selalu ada. Diantara yang terlalu baik dan terlalu buruk, biasanya ada yang tengah-tengah. Mereka kadang salah, tapi kadang juga baik. Manusia ini biasanya banyak sekali hingga tentunya mudah ditemui. Lebih luar biasanya lagi, mereka akan saling berempati dengan tipe sesamanya. “Ya udah, ambil hikmahnya saja”, tapi kalimat ampuh ini rupanya bukan satu dua kali diucapkan, berkali kali. Tapi tetap saja, mereka punya titik untuk sadar dan tentunya titik untuk lupa.

Nah, tapi tak usahlah terlalu ribet memikirkan dan memilah, saya, kamu, kita ada di bagian mana. Karena pembagian itu juga bisa salah, toh manusia yang membuatnya. Yang jelas, masa lalu akan dipertanggungjawabkan oleh empunya. Itu pasti.

Maka dari itu, bagi mereka yang telah sampai pada titik ini: “semua akan dimintai pertanggungjawaban” biasanya akan lebih jelas langkahnya. Ia mungkin salah, tapi segera tersadar. Berazzam kuat untuk tak mengulangi dan jatuh dua kali. Jadi ia tipe terakhir dong? Entahlah, sepertinya iya.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (TQS Al Hasyr:18)

 

Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu, karena mereka mengetahui (TQS. Ali Imran:135)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s