pujangga belantara raya

Pagi itu aku sedang senang dengan sebuah buku yang membuat mataku tak henti berkaca kaca. Sejenak hidungku berair dan rasanya dadaku sesak. Ya, aku merasa aku hidup karenanya.

Pagi itu aku seakan diajak ke sebuah dunia berbeda, menyaksikan cakrawala baru yang betul betul asing di benakku. Melalui tulisan tentang peradaban “kaum Arab” ratusan tahun lalu, yang ditulis oleh seorang professor, aku terperangah. Adrenalinku terpacu, jiwaku membara. Adakah itu benar adanya? Ya, aku merasakan hidup.

Pagi itu, aku mendapatinya dalam barisan kata yang penuh makna. Deretan huruf yang melilit, seperti menjadi pil pahit. Tapi siapa menyangka, rupanya satu kata dari deretan kata yang layaknya ulat itu, punya pahala. Tambah lagi, seorang ulama menafsirkan maknanya. Lagi lagi tersedak, aku tak mengerti sejauh mana kebodohanku. Aku hidup.

Dan pagi itu, aku menemukan kata yang teramat sederhana. Penulisnya bermata sipit dan layaknya artis banyak yang menyukainya. Setelah hari ini, rupanya aku juga. Menyenangi gaya tulisannya yang semudah menelan ludah, tapi berat bagi yang tak peduli paedah. “kalau cinta Allah saja ia lupa, dimana cinta manusia ia letakkan?”

Pagi itu, aku tak pernah menyesal telah hidup. Seperti mereka yang membuatku bahagia, aku pun bertekad sama.

Bogor, 17 Februari 2014