Cerita Apa Ya?

Tuing. Nah, pertanyaan di atas terus disambungin deh sama tanda tanya besar, aha ha ha. Ya, begitulah setiap kali saya berniat ngisi ‘rumah’ ini. Tiba tiba saja bisa kehilangan ide utama yang mau diceritain. Padahal, pas lagi ga ngadepin leptop, ada aja yang mau dituangin. Waktu itu lagi curhat sama teman yang sedang bahagiaaaa sampe terharu biru, muncullah ide tentang “Jalan terbaik yang Allah siapkan”. Pas ada mba yang cerita tentang siroh Zubair bin Awwam , pengen cerita tentang “keteladanan Shohabat”. Pas lagi direcokin sama anak kecil, pengen ngangkat tulisan tentang “Wuih, tugas ibu itu menakjubkan”. Pas buka fb di hape, ada komeng-an sinis dari seseorang, aha haha, pengen nulis tentang “Saat kemenangan itu Tiba, Kau pun akan Berbalik” (apa maksudnya coba 😀 ). Pas liat berita, ada kekerasan pada anak, pemilu dan caleg gila, kejahatan di dunia Islam, sampe Khilafah janji Allah, semua ingin dituangin. Nyatanya? Continue reading “Cerita Apa Ya?”

Advertisements

.tanpa identitas.

Aku ragu sebenarnya apa yang kupikirkan saat menulis cerita di bawah ini.

Sebentar aku berpikir, “Oh…kok bisa sih ada kisah ini?”

Entahlah. Aku benar-benar lupa.

Yang jelas, aku yakin momen ini pasti unik saat itu.

dan aku berharap aku segera ingat.

Selamat membaca. Mohon maaf untuk kisah yang “tak beridentitas” ini.

 

 

15 November 2010

Aku jatuh cinta. Wajahku memanas saat memikirkan kalimat itu. Kata-kata yang terlalu lugas untuk menggambarkan sesuatu yang bahkan aku tak mampu mendefinisikannya. Tapi kalimat itu bagiku tepat. Teramat tepat. Tak ada yang mencela, menyalahkan, ataupun sekedar mengomentari, tentu saja. Aku mengakuinya pada hati. Cukuplah.

 

16 November 2010

Malam menghadirkan kesunyian. Setelah kemarin jatuh cinta, kini masih terasa sama, Meski merasa ini konyol, tapi pembenaran boleh terjadi toh. Ya, proses pembenaran. Kunci bagi orang-orang seperti diriku, yang sok tahu tentang cinta. Tapi tak apalah, toh cuma hatiku yang tahu.

 

17 November 2010

Cinta ternyata menghabiskan banyak hal dalam hidupku, setidaknya dalam dua hari ini. Ia menguras energiku untuk berpikir. Jujur, aku memang terus berpikir, hanya tentang satu hal sebenarnya. Bolehkah? Tidak, tunggu, masih ada lagi. Wajarkah? Mungkinkah? Tidak, tidak, masih ada. Kenapa mesti jatuh cinta? Kenapa mesti dia? Aku harus bagaimana?

Ergh…, terlalu rumitkan? Aku hanya merasa jatuh cinta dua hari yang lalu. Jatuh cinta pada seorang manusia, ya manusia sepertiku. Tapi kenapa rumit? Apa cinta yang menyapaku berbeda dengan cinta yang ada pada teman-temanku. Jatuh cinta, ungkapkan, selesai. Aku sudah teramat pusing, padahal belum tentu yang kurasakan adalah cinta? Solusi, dimana engkau?

 

18 November 2010

Hari ini ada satu peningkatan. Aku berharap melihatnya. Lengkaplah kebodohanku. Sementara solusi belum kutemukan. Jangan menertawakan kebodohanku, teman. Cukuplah hatiku yang berkhianat. Tak memberi jawaban, padahal hanya ia yang kupercaya untuk semua kisah ini. Kau tak bangga mendapat kepercayaanku, wahai hati?

 

19 November 2010

Tadi kali kedua aku melihatnya. Hanya melihat, ya hanya melihat. Tak lama. Tak ada bicara. Ketika itu hatiku hanya diam. Hanya diam dan itu jawaban, teman. Dengan diam, hatiku menyuarakan ribuan jawaban, menyuarakan jutaan alasan, namun menyuarakan satu kesimpulan. Dan semua berakhir, kuputuskan begitu.

Terima kasih karena telah menginspirasi. Hatiku tak memberi kesimpulan untuk membencimu.

 

Gambar

Nyoblos atau Golput: Suara Pemuda Untuk Siapa?

Pesta demokrasi sedang menuju hari-H. Kian ramai-lah dijumpai aneka spanduk atau photo para caleg. Ragam kreativitas kampanye pun bermunculan, mulai dari blusukan ke pasar-pasar, buka posko pelayanan masyarakat, serta dangdutan yang tentunya tak pernah ketinggalan. Ya, dicarilah sedemikian rupa cara yang dianggap paling ngena di hati rakyat. Toh demi tercapainya tujuan sampai ke senayan, apapun mesti dilakukan.

Sementara dari sisi rakyat, ada yang masih optimis akan tercapainya perubahan, tapi tak sedikit pula yang sudah bosen. Continue reading “Nyoblos atau Golput: Suara Pemuda Untuk Siapa?”