Nyoblos atau Golput: Suara Pemuda Untuk Siapa?

Pesta demokrasi sedang menuju hari-H. Kian ramai-lah dijumpai aneka spanduk atau photo para caleg. Ragam kreativitas kampanye pun bermunculan, mulai dari blusukan ke pasar-pasar, buka posko pelayanan masyarakat, serta dangdutan yang tentunya tak pernah ketinggalan. Ya, dicarilah sedemikian rupa cara yang dianggap paling ngena di hati rakyat. Toh demi tercapainya tujuan sampai ke senayan, apapun mesti dilakukan.

Sementara dari sisi rakyat, ada yang masih optimis akan tercapainya perubahan, tapi tak sedikit pula yang sudah bosen. Mereka memilih untuk tak peduli, males katanya karena para wakil rakyat itu pasti akan hilang ingatan setelah duduk di bangku kekuasaan. Agaknya ini juga beralasan, toh memang demikianlah adanya. Wacana harga sembako murah, kesehatan gratis, terbukanya lapangan pekerjaan, justru ditimpali dengan naiknya harga-harga bahan pokok, sistem jaminan kesehatan nasional yang mencekik rakyat, dan besarnya pengiriman TKI ke luar negeri. Wajarlah rasanya jika rakyat keburu pundung dan tak tertarik lagi. Siapa yang mau berkali kali dibodohi?

Tak Mencoblos = Menyerah?

Ditengah ide golput yang semakin marak diberitakan, dorongan agar tetap menggunakan hak pilih pun rupanya tak padam. Berbagai upaya dijalankan agar masyarakat tetap setia memilih dan ‘turut menyukseskan’ jalannya pemilu. Sebelumnya, pembahasan golput dikaitkan dengan embel-embel agama, yakni status keharaman bagi golput, hingga yang terakhir adanya pemberian hukuman pidana bagi pihak yang secara jelas golput dan mengkampanyekan golput. Wah, ada apa rupanya dengan kebebasan mengeluarkan pendapat di negeri ini?

Meski begitu, ada pula cara yang cukup ‘cerdas’ untuk ‘menyadarkan’ masyarakat agar tetap memilih. Cukup ‘cerdas’ disini dipandang karena membangkitkan sisi kepedulian dan kecintaan rakyat pada bangsa. Segmen yang sedang ramai dibangkitkan ‘kepeduliannya’ ini salah satunya adalah para pemuda. Di berbagai pamflet disebarlah kampanye dengan kalimat seumpama “Tak berani memilih, berarti menyerah menentukan masa depan bangsa”. Ya, kalimat ini bagi mereka yang masih membara cinta tanah airnya mungkin akan mampu menimbulkan seraut kegalauan. Maka saat ber-uzlah dari hingar bingar pemilu diartikan pasrah pada realita, akhirnya demi dicap ‘tidak menyerah’, orang-orang gamang tadi bisa jadi kembali menggunakan hak pilihnya dan merasa telah berkontribusi bagi kebangkitan bangsa. Benarkah demikian?

Dimana suara pemuda dalam demokrasi, ini yang menjadi titik soal. Fakta saat ini, dipungkiri seperti apapun tetap saja menunjukkan bahwa suara pemuda nyatanya hanya dicari kala pemilu saja. Sebagaimana iklan dan kampanye yang disebutkan sebelumnya. Para elit politik berupaya keras untuk masuk ke sisi ini karena suara pemilih muda mencapai 20-25% bahkan ada yang menyatakan hampir 50% dari total pemilih. Siapa yang mau membuang percuma lumbung suara ini? Karenanya digembar gemborkanlah isu ‘turut mencoblos, turut memajukan bangsa’ demi mengeruk suara pemuda.

Ini adalah sebuah pengerdilan bahkan perampokan suara pemuda. Kenapa demikian? Lihatlah saat pemuda, misalnya mahasiswa bersuara untuk menolak kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, menolak kenaikan BBM, TDL, atau impor bahan pangan, nyatanya tak pernah didengar apalagi diambil sebagai sudut pandang menelorkan UU. Bahkan saat mahasiswa terjun ke area publik dengan aksi aksi mereka, dianggap sebagai wujud ketidakpahaman akan tugas mereka yaitu belajar dan menuntut ilmu di kampus. Demokrasi kemudian dengan pragmatisme-nya menghembuskan ide bahwa cukup lah dengan membuka slide kuliah, mendengar dosen di kelas sebagai wujud peran mahasiswa dalam pembangunan bangsa. Mahasiswa dijauhkan dari proses mengoreksi kebijakan penguasa yang mencekik rakyatnya. Ya, inilah sejatinya pembajakan demokrasi terhadap suara pemuda.

Pemuda Tolak Demokrasi, Ambil Islam!

Momentum runtuhnya kepercayaan rakyat pada penguasa dan kesadaran bahwa pergantian rezim nyatanya tak berimbas pada perubahan, harus segera diambil oleh pemuda. Pemuda harus menyerukan perubahan dengan mengganti sistem kehidupan. Demokrasi yang telah membuat pemilu sedemikian mahal dan melahirkan bibit koruptor, sekaligus cukong yang menjual aset bangsa, menawarkan kebebasan yang berimbas pada porak porandanya nilai kebenaran di tengah masyarakat, harus diganti.

Demokrasi bukan jalan perubahan. Bukan pula jalan untuk menyalurkan suara pemuda. Lalu apa yang semestinya diambil oleh pemuda? Disinilah pentingnya pencerdasan bahwa saat orang-orang berkata hanya ada dua pilihan: ikut pemilu atau apatis dengan golput, maka pemuda sejatinya dapat berpikir bahwa ada pilihan lain yang telah diabaikan. Jalan itu sejatinya lebih dari sekedar cerdas, bahkan bisa dibilang cemerlang dan menuntaskan.

Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang tentunya memiliki kemampuan_bahkan telah membuktikan kemampuannya_untuk mengurusi sebuah negara bahkan menciptakan negara adidaya dalam kurun waktu 13 abad lamanya dengan luasan 2/3 dunia. Sistem yang dijamin oleh Dzat yang Maha Agung, Allah SWT sebagai sistem terbaik dan akan mendatangkan kesejahteraan pada manusia:

“Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka kami siksa mereka sesuai apa yang mereka kerjakan” (TQS. Al A’raf:96)

Hanya Islam lah yang mewujudkan individu bertaqwa, masyarakat yang giat beramar makruf nahi munkar, dan ditengah mereka terdapat pemimpin yang menerapkan hukum Allah. Maka, menuju ke sinilah kekuatan dan semangat pemuda harusnya tersalur. Yaitu mengembalikan tatanan kehidupan Islam di tengah tengah mereka dengan jaminan keberhasilan dari Pencipta dan bukti kejayaan yang tak bisa dipungkiri. Maka pemuda, jangan buang percuma energimu!

Ngaruh? Ngaruh kemana?
Ngaruh? Ngaruh kemana?
Advertisements

2 thoughts on “Nyoblos atau Golput: Suara Pemuda Untuk Siapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s