Hijab Tanpa Nanti, Taat Tanpa Tapi

Dulu, jalan ini begitu sepi

Sunyi, hanya sedikit yg peduli

Bahkan kala ada niat tuk tutup aurat, dicemooh dibilang sok dekat dengan akhirat

Ada yang coba istiqomah berhijab, digelar ustazah yg agamanya tlah mantap

Bahkan bukan cuma itu, bukan.

Mereka kerap pula disebut ekstrimis

Yang lekat dengan isu teroris

Yang idenya keras dan tak kenal kompromis

Dibilang, “inilah generasi pembenci nasionalis”

 

Ah.., lukakah hati kita mendengarnya teman?

Setangkup sedih karena  yang bicara, adalah rekan seagama

Ya Allah, sedemikian beratkah  berjuang untuk taat dan tetap bersuara?

Maka semoga Allah lekatkan untuk mereka pahala…

 

Lalu kini, lihatlah, jalan ini kian ramai

Maka siapa yang tak berucap puji pada Ilahi?

Alhamdulillah, tlah banyak yang turut peduli

Alhamdulillah, tlah banyak yang turut meyakini

bersyukur, karena kesadaran wajibnya hijab, kini semakin menjadi-jadi

Tapi, masih terbersit tanya dalam diri, benarkah ini keramaian hakiki? Kesadaran sejati?

Atau justru ikut ikutan demi disebut trendy dan hijabers masa kini?

Bagaimana hati tak memelas ragu, karena yang nampak, justru hingar bingar bak pesta para putri

Yang saling puji dan ajang tuk tampilkan cantik diri

Ah’’, tubuhnya, dibalut kain warna warni

Ketat, lekat menunjukkan lekuk seksi

Ah, yang justru memicu syahwat para lelaki

Ah, tambah lagi dilenggangkan pula jenjang kaki

Untuk tunjukkan kesan girly

Tak ada lagi diindahkan tatanan nan suci

Demi cantik, yang lain tak dipandang lagi

Lalu, akibatnya lihatlah pula di media semisal tivi

Hh, jadilah mereka korban iklan dan kampanye pemilik perusahaan

Yang terjebak untuk mempercantik fisik semata

Yang akhirnya dihargai pun sebatas pendongkrak rating belaka

Jika elok rupa mereka diterima, jika make up kurang nyata, mereka diminta tutup suara, lalu diganti dengan wanita lainnya

Ah, terhina. Dinilai dari fisik semata…

Saat sudah terhina dimata manusia. Bagaimana dimata Penciptanya?

 

Ah, maka istighfar kulekatkan erat erat di lidah

Ya Allah…ampuni hambamu ini…

Ampuni kesalahan ini…

Saudariku…

Ingin kulantun nama mu satu persatu

Nama nama wanita yang dirindu syurga

Penjaga kesucian dan kehormatan pribadi

Yang ia tutupkan jilbab dan khimar penegas jati diri

Yang ia bangga dengan titah penciptanya

Yang syariat itu justru memudahkannya

Yang dengannya ia terlindungi dan terpuji

Dipandang agung oleh penghuni langit dan bumi

Maka, saudariku…

Mari bersama, kita ingat tujuan penciptaan

Pun sekalian menancapkan paham, bahwa Allah tlah titipkan tuntunan

Jangan, jangan sesekali kau hindari petunjuk Rabbi

Apalagi kau jauhi karena berat untuk tetapkan hati

Jangan…jangan…

Kuatkan tekad tuk perbaiki diri

Ilmu yang ada, jangan ragu untuk digali

Sahabat yang mengingatkan, jangan sesekali kau jauhi

Itulah senyatanya hidayah hakiki.

InsyaaAllah, Ia ‘kan muliakan diri

karena kenakan hijab syari

InsyaaAllah surga menanti, untuk engkau, yang taat tanpa tapi, taat tanpa nanti

Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s