Marhaban ya Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan

Ah, izinkan kerinduan ini memuncak
Biarkan kini linangan air mata untuk Ia semata

Advertisements

.singkat pesan.

“wr wb ya nanti klu plg krn sy ada di rmh sakit patah tulang”

Begitulah kira-kira pesan singkat yang saya dapat pada Kamis, 19 Juni 2014 pukul 19:42 WIB. Yang mengirim pesan adalah adik kosan saya, sebut saja Cahaya. Ya, Cahaya memang berperan sebagai ‘kepala sekolah’ di kosan kami. Pesan yang ia kirim sebenarnya di-forward dari Bapak penanggung jawab kos-kosan, sebutlah Pak Dwa. Mungkin Cahaya berpikir, selayaknya anggota kosan mengetahui cobaan yang menimpa Pak Dwa tersebut, wajarlah tentunya karena kami dididik untuk menyadari bahwa setiap muslim adalah bersaudara.

Saya yang kala itu sedang berada di luar dan masih ada kesibukan sontak khawatir. Di satu sisi, tentulah karena beliau adalah orang terdekat yang selama ini bertanggung jawab terhadap rumah yang kami tinggali. Di sisi lain, saya berpikir betapa tidak nyamannya jika kami yang tinggal di sekitar beliau (dan telah banyak merepotkan) tidak datang melihat keadaan beliau. Namun apalah daya, saya coba bersabar karena acara yang belum berakhir.

Mendekati pukul 22.20 WIB saya akhirnya tiba di kosan. Fiuh, sekian lama saya tak pernah semalam ini bepergian. Untunglah saya tak sendiri, sehingga masih tenang jua hati ini. Tapi akhirnya, mengingat waktu jua, saya mengurungkan niat untuk menyambangi rumah Pak Dwa, baiknya besok sajalah, barangkali keluarga Pak Dwa juga tlah berisitirahat.

***

Tadarus bersama ba’da Sholat Subuh kami akhiri dengan salam-salaman seperti biasa. Ada rasa yang tak pernah tergantikan tiap suasana ini berulang. Ah, saya pasti merindukan momen-momen ini kelak. Banyak pelajaran berharga, tak tergantikan, yang saya terima.

Tak lama berselang, masing-masing beraktivitas kembali. Ada yang bertugas piket, ada pula yang bergegas ke kamar mandi karena harus bersiap ke kampus. Rupanya masih ada yang setia dengan ujian ya, gurau kami bersama.

Saya dan Kak Marie (salah seorang kakak yang satu kos dengan saya, nama adalah nama samaran) berencana menjenguk Pak Dwa pagi ini. Namun, maksud hati memeluk gunung, apadaya tangan tak sampai. Rencana tinggal-lah rencana. Kak Marie mendadak harus bergegas mengurus materi penelitiannya ke lab. Jadilah kami sepakati setelah Dhuhur.

***

Siang itu cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terik, belum lagi debu kenderaan yang menambah sesak nafas. Lengkaplah untuk menghela nafas dan malas bepergian. Atau mungkin bagi yang tak kuat iman, wajar saja mengingkari kewajiban berhijab bagi perempuan muslim. Tapi tidak, panas azab neraka siapa yang mau.

Tapi untuk kedua kalinya, rencana menjenguk Pak Dwa kembali gagal. Sepertinya Kak Marie cukup lelah siang itu, tak berbeda dengan saya. Sembari merebahkan diri, kami berjanji untuk memastikan setelah Maghrib rencana ini harus terlaksana. Astaghfirullah…

Senja menjelang dan akhirnya adzan Maghrib berkumandang. Kami bergegas menjawab panggilan cinta Ilahi. Sholat Maghrib tertunaikan, kami pun memberi hak pada tubuh untuk diresapi nutrisi. Makan malam bersama, berbagi cerita, mensyukuri nikmat Rabb Yang Agung. Demikianlah kehidupan seorang muslim sejatinya. Syukur tiada lepas, bahagia mengintai langkah. Ah, izinkan hamba terus mengagungkanMu Ya Rahmaan…

“Assalamu’alaikum”, terdengar ucapan seorang laki-laki yang sangat kami kenal.

“Wa’alaikumsalam”, jawab kami bersama dari dalam.

“Pak Dwa?”, tanya saya sedikit heran. Mungkin dalam benak kami semua terbit tanya. Bukankah Pak Dwa sedang sakit.

“Iya Mbak. Punten, katanya ada lampu yang mau diperbaiki. Nanti saya liatin ya.”

“Oh iya Pak.”

“Nanti saya kesini lagi Mbak”, terdengar langkah Pak Dwa menjauh.

“Pak, bagaimana keadaanya?”, saya mencoba bertanya dengan mengeraskan suara dari dalam. Jujur karena timbul rasa penasaran, apakah karena ada lampu yang mati di kosan kami, lantas Pak Dwa memaksakan diri datang padahal sedang sakit.

“Alhamdulillah Mba, baik”

“Maaf ya Pak, kami belum sempat jenguk.”

“Iya gak apa-apa Mbak. Teman saya kok yang sakit.”

***

Setelahnya hanya ada suara tawa. Tawa yang lama, lama sekali. Saya sendiri berencana untuk tidak menemui Pak Dwa dulu selama beberapa hari. Atau jika bertemu, saya ingin sedikit mengubah ‘suara’ saya.

Pesan:

Kita hanya berencana. Allah yang tentukan nilainya. Tetaplah bersemangat untuk berbuat baik 😀

Gambar

Catatan 2012

Wah, setelah buka-buka file lama, aku menemukan file berjudul “Jejak Semester 6”. Tapi hanya ada dua dan itu cerita selama dua hari, haha. Ini membuktikan aku memang harus harus harus belajar kon-sis-ten! 😀

Tapi, silakan lah dihayati. Ini ga kuedit, murni sebagaimana yang waktu itu tertuang. Yaaa, walo agak-agak kerasa sisi ‘maksa’ dari analisisnya (kerasa banget :D)

 

***

Rabu, 14 Februari 2012

Pagi ini aku kuliah mulai pukul 08.00 WIB. Ternyata dosennya Bu Astri (dosen PA-nya si Nisa). Mata kulianya adalah Pengantar Bioteknologi dalam Proteksi Tanaman, menarik ya. Karena saking menariknya, jumlah mahasiswa SC dan Minor hampir menyamai jumlah kami mahasiswa mayor. Haha, tak apalah, toh menyerap ilmu kan hak setiap orang.

Bu Astri mengajar dengan baik menurutku, beliau terbuka dan menerapkan sistem diskusi dengan para mahasiswa. Beliau sering bertanya tentang pendapat dan pandangan dari kami, it’s good for me.

Sampai pada bagian peranan bioteknologi, aku jadi berpikir keras tentang satu hal. Ketika Bu Astri menyampaikan bahwa tujuan mulia pengembangan bioteknologi semata-mata demi kepentingan dan kebutuhan manusia, semua ditujukan karena adanya pemenuhan kebutuhan manusia yang terus berubah dan mutlak harus dipenuhi.

Pandanganku, seluruh akademisi, intelektual yang menyandang gelar sepanjang jalan, hanya akan menetaskan hasil pemikiran yang bernilai rendah selama sistem kapitalisme yang rusak ini masih diterapkan. Mengapa begitu?

Coba pikirkan, apakah saat ini masyarakat Indonesia kekurangan beras? Jawabannya tentu tidak. Tapi apakah setiap manusia di bumi pertiwi ini bisa makan nasi? Jawabannya juga tidak. Kenapa itu terjadi? Karena permasalahan mendasarnya adalah ketidakmampuan masyarakat untuk membeli beras ataupun barang pangan lainnya. Bukan pada ketidaktersediaan beras atau bahan pangan sendiri. Sehingga mau dibuat seberapa banyak pun beras bervitamin tinggi yang katanya dimakan sedikitpun sudah mampu memenuhi kebutuhan vitamin, jika masyarakat tak mampu beli,buat apa?

Inilah yang aku sebut dengan kegagalan. Akademisi dan intelektual tak lain pencetak barang seperti mesin bagi pemilik modal dan pemegang kepentingan yang sudah terbeli dengan iming-iming harta.

Inilah kapitalis. Tak akan memanusiakan siapapun, termasuk aku barangkali. Kecuali kau memilih berjuang dan mengubahnya.

 

Kamis, 15 Februari 2012

Hari ini adalah hari pertama aku mengikuti kuliah pengelolaan dan pemanfaatan pestisida. Dosen yang seharusnya mengajar itu Pak Joko, tapi karena beliau sedang sakit maka digantikan oleh Pak Dadang. Semoga Pak Joko segera diberikan kesembuhan dan kembali mengajar, amin.

Secara umum, aku senang dengan cara Pak Dadang mengajar. Beliau berusaha membuka cara pandang dan mendorong mahasiswa untuk berpikir, tidak sekedar mendengar dan menerima semua yang diberikan.

Satu hal yang paling aku sukai pada bagian kuliah ini adalah saat bapak menjelaskan tentang peranan pertanian terhadap manusia dan kehidupan. Lalu mengaitkan antara industri yang semakin menggeser pertanian, peran besar para kapitalis pemilik modal yang rakus (like this pastinya 🙂 ) yang memang semakin membuat pertanian semakin tak dilirik, lalu para petani (yang sebagian besar tergolong masyarakat miskin) hanya semakin susah dari hari ke hari, impor yang terbuka lebar tak pelak semakin menyakitkan. Lalu closing bahwa permasalahan pangan (baca:perut) adalah salah satu ranjau yang siap meledakkan berbagai krisis sosial.

Yeah, aku seakan hidup nih dengan perkuliahan semacam ini. Mahasiswa itu butuh hawa yang berbeda biar jadi mikir.

Hanya saja, aku harus berjuang keras untuk terus menyuarakan bahwa ada solusi untuk semua permasalahan yang tadi di jelaskan Bapak. Bahwa kemiskinan hanyalah secuil akibat dari diterapkannya sistem Kapitalisme yang kotor ini di bumi Indonesia dan di seluruh negeri2 kaum muslimin lainnya. Seperti kata bapak, hati nurani kita tak akan pernah setuju dengan perbudakan manusia (satu pihak menguasai yang lain). Terlebih lagi sebagai seorang muslim kita memiliki kewajiban untuk hanya menggunakan Islam sebagai satu-satunya aturan hidup, bukan yang lain. Setuju?    

 ***

 

Lah setelahnya aku kemana? (Istighfar rin sebanyak banyaknya).

Gambar