Catatan 2012

Wah, setelah buka-buka file lama, aku menemukan file berjudul “Jejak Semester 6”. Tapi hanya ada dua dan itu cerita selama dua hari, haha. Ini membuktikan aku memang harus harus harus belajar kon-sis-ten! 😀

Tapi, silakan lah dihayati. Ini ga kuedit, murni sebagaimana yang waktu itu tertuang. Yaaa, walo agak-agak kerasa sisi ‘maksa’ dari analisisnya (kerasa banget :D)

 

***

Rabu, 14 Februari 2012

Pagi ini aku kuliah mulai pukul 08.00 WIB. Ternyata dosennya Bu Astri (dosen PA-nya si Nisa). Mata kulianya adalah Pengantar Bioteknologi dalam Proteksi Tanaman, menarik ya. Karena saking menariknya, jumlah mahasiswa SC dan Minor hampir menyamai jumlah kami mahasiswa mayor. Haha, tak apalah, toh menyerap ilmu kan hak setiap orang.

Bu Astri mengajar dengan baik menurutku, beliau terbuka dan menerapkan sistem diskusi dengan para mahasiswa. Beliau sering bertanya tentang pendapat dan pandangan dari kami, it’s good for me.

Sampai pada bagian peranan bioteknologi, aku jadi berpikir keras tentang satu hal. Ketika Bu Astri menyampaikan bahwa tujuan mulia pengembangan bioteknologi semata-mata demi kepentingan dan kebutuhan manusia, semua ditujukan karena adanya pemenuhan kebutuhan manusia yang terus berubah dan mutlak harus dipenuhi.

Pandanganku, seluruh akademisi, intelektual yang menyandang gelar sepanjang jalan, hanya akan menetaskan hasil pemikiran yang bernilai rendah selama sistem kapitalisme yang rusak ini masih diterapkan. Mengapa begitu?

Coba pikirkan, apakah saat ini masyarakat Indonesia kekurangan beras? Jawabannya tentu tidak. Tapi apakah setiap manusia di bumi pertiwi ini bisa makan nasi? Jawabannya juga tidak. Kenapa itu terjadi? Karena permasalahan mendasarnya adalah ketidakmampuan masyarakat untuk membeli beras ataupun barang pangan lainnya. Bukan pada ketidaktersediaan beras atau bahan pangan sendiri. Sehingga mau dibuat seberapa banyak pun beras bervitamin tinggi yang katanya dimakan sedikitpun sudah mampu memenuhi kebutuhan vitamin, jika masyarakat tak mampu beli,buat apa?

Inilah yang aku sebut dengan kegagalan. Akademisi dan intelektual tak lain pencetak barang seperti mesin bagi pemilik modal dan pemegang kepentingan yang sudah terbeli dengan iming-iming harta.

Inilah kapitalis. Tak akan memanusiakan siapapun, termasuk aku barangkali. Kecuali kau memilih berjuang dan mengubahnya.

 

Kamis, 15 Februari 2012

Hari ini adalah hari pertama aku mengikuti kuliah pengelolaan dan pemanfaatan pestisida. Dosen yang seharusnya mengajar itu Pak Joko, tapi karena beliau sedang sakit maka digantikan oleh Pak Dadang. Semoga Pak Joko segera diberikan kesembuhan dan kembali mengajar, amin.

Secara umum, aku senang dengan cara Pak Dadang mengajar. Beliau berusaha membuka cara pandang dan mendorong mahasiswa untuk berpikir, tidak sekedar mendengar dan menerima semua yang diberikan.

Satu hal yang paling aku sukai pada bagian kuliah ini adalah saat bapak menjelaskan tentang peranan pertanian terhadap manusia dan kehidupan. Lalu mengaitkan antara industri yang semakin menggeser pertanian, peran besar para kapitalis pemilik modal yang rakus (like this pastinya 🙂 ) yang memang semakin membuat pertanian semakin tak dilirik, lalu para petani (yang sebagian besar tergolong masyarakat miskin) hanya semakin susah dari hari ke hari, impor yang terbuka lebar tak pelak semakin menyakitkan. Lalu closing bahwa permasalahan pangan (baca:perut) adalah salah satu ranjau yang siap meledakkan berbagai krisis sosial.

Yeah, aku seakan hidup nih dengan perkuliahan semacam ini. Mahasiswa itu butuh hawa yang berbeda biar jadi mikir.

Hanya saja, aku harus berjuang keras untuk terus menyuarakan bahwa ada solusi untuk semua permasalahan yang tadi di jelaskan Bapak. Bahwa kemiskinan hanyalah secuil akibat dari diterapkannya sistem Kapitalisme yang kotor ini di bumi Indonesia dan di seluruh negeri2 kaum muslimin lainnya. Seperti kata bapak, hati nurani kita tak akan pernah setuju dengan perbudakan manusia (satu pihak menguasai yang lain). Terlebih lagi sebagai seorang muslim kita memiliki kewajiban untuk hanya menggunakan Islam sebagai satu-satunya aturan hidup, bukan yang lain. Setuju?    

 ***

 

Lah setelahnya aku kemana? (Istighfar rin sebanyak banyaknya).

Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s