Ah, mataku tertusuk [lagi]

“Mba, rambutnya nusuk mata saya.”

Akhirnya kalimat singkat itu tercetus dari mulut saya. Sejurus kemudian, saya berusaha bersikap normal dengan kembali memainkan hape. Sekilas saya bisa memastikan perempuan di samping saya sedang membenar-benarkan rambutnya. Berkali kali ia gelung dan pegang saat angin menampar sisi jendela angkutan yang kami tumpangi.

***

Dan, dan itu bukan kali pertama mata saya ‘tersakiti’ oleh tamparan rambut. Rambut panjang nan tergerai yang melambai lambai di tiup angin. Aaaa…Sebelum ini, saya belum pernah menegur langsung si embak-embak yang kebetulan bersebelahan dengan saya_dan kebetulan embaknya gak pake kerudung.
Yang pernah saya lakukan sejauh ini cuma mendehem dan mengibas-ngibaskan tangan. Berusaha menunjukkan, “Hoe mbaaa, rambutmu kena menusuk mata sayaaaa, hoeeei.” Ya, tapi gak ngomong, ya cuma ehm-ehm doang. Al hasil, gak ada yang nyadar.

Sore ini, saya kembali terjebak lama di dalam angkot, makanya kondisi ‘tusukan dan tamparan’ rambut terasa menyebalkan. Dan bicara tentang macet, “Ini karena ada pembukaan G*ANT, jadinya macet parah”, begitu ujar banyak orang yang saya temui. Ya, saya sendiri tak habis pikir, bagaimana sebenarnya perizinan pembukaan sebuah kawasan perbelanjaan. Apakah akan memudahkan warga? Akan menambah daftar panjang keresahan karena: macet? penutupan warrung klontong yang kalah saing? Yang artinya akan nambah orang gulung tikar? Yang artinya…ya, hidup makin susah.

Dan, dan balik lagi ke si embak yang tadi saya sapa (baca:tegur). Ia tampaknya tak terlalu ambil pusing. Meski awalnya sempat membuat seluruh penumpang lain menatap ke arah saya, saya pikir kini dengan alunan kemacetan panjang dan musik dangdut “janur kuning”, terkantuk kantuk menjadi lebih nyaman.

Well, lebih jauh, kadang sedih juga berada dalam kondisi begini. Ya, mungkin mata saya sakit mba, tapi hati saya lebih sakit. Karena jika mba adalah muslimah, maka menutup aurat, mengenakan kerudung adalah sebuah kewajiban bagi mba. Dan saya…saya mungkin adalah seseorang yang akan Allah tanya dan minta pertanggung jawaban kelak.

Apakah saya telah optimal dalam menyampaikan hukum menutup aurat bagi muslimah? Apakah teman-teman saya telah mengerti? Apakah keluarga saya, teman-teman terdekat, orang orang yang saya kenal, telah mendengar akan seruan ini?

Ah.

Saya berharap saya tegas dan berani. Bukan sekedar untuk mengatakan, “Hei rambutmu mengenai mataku”, tapi juga mengatakan, “Mba, andai mba melindungi rambut indah mba, tubuh yang indah milik mba, insyaaAllah, orang lain tidak terganggu dan Allah pun akan menyayangi mba karena ketaatan mba.”

Ah.

Advertisements

Gelar Nan Tergelar

“Coba liat, kalian lupa menuliskan gelar kalian di-nama. Gimana bisa? Kalian tau gimana susahnya ngedapetin ini, nyampe lulus, ya ampun.”

Dengan sedikit penekanan wanita yang baru sekitar 10 menit lalu kukenal itu menepuk jidatnya. Kami bertemu saat jadwal verifikasi mahasiswa baru pascasarjana. Tak tau dari mana, tiba tiba saja tercetus lah pembicaraan tentang gelar. Saya dan beberapa teman, memang mengakui tidak menuliskan gelar saat menulis nama kami. Dan bagi kami, itu biasa saja. Jika bukan karena keperluan tertentu, kami hanya menuliskan nama saja.

Continue reading “Gelar Nan Tergelar”