Gelar Nan Tergelar

“Coba liat, kalian lupa menuliskan gelar kalian di-nama. Gimana bisa? Kalian tau gimana susahnya ngedapetin ini, nyampe lulus, ya ampun.”

Dengan sedikit penekanan wanita yang baru sekitar 10 menit lalu kukenal itu menepuk jidatnya. Kami bertemu saat jadwal verifikasi mahasiswa baru pascasarjana. Tak tau dari mana, tiba tiba saja tercetus lah pembicaraan tentang gelar. Saya dan beberapa teman, memang mengakui tidak menuliskan gelar saat menulis nama kami. Dan bagi kami, itu biasa saja. Jika bukan karena keperluan tertentu, kami hanya menuliskan nama saja.

Tapi tidak bagi perempuan yang kuketahui juga berasal dari pulau Sumatera itu. Baginya, adalah sebuah kebanggan dengan menulis kan gelar. Mungkin bukan bermaksud sombong, tapi menurut hematnya itu adalah hasil sebuah perjuangan. Begitu.

Setelahnya, saya sempat berpikir panjang, sampai akhirnya ingin menuliskan cerita ini.

Sebenarnya, alasan terbesar yang membuat saya tidak ingin menuliskan gelar dibelakang nama adalah: saya takut. Ya, saya merasa takut jika gelar itu ternyata tidak layak saya tunjukkan di masyarakat (apalagi dihadapan Allah). Saya belum memberikan manfaat yang besar bagi orang disekitar, terutama dengan ilmu ini.

Bukan tentang tidak menghargai usaha (yang saya merasakan sendiri betapa beratnya melalui waktu dan perjuangan selama 4 tahun), tetapi saya pikir biarlah rasa bangga dan kebahagiaan itu tumbuh di hati saya. Biarlah hela nafas akan lelah, binar senang akan nilai nilai, menjalar dan terus menerangi diri saya. Biarlah. Kelak, saya akan bercerita utuh pada mereka yang sepatutnya mendengar saja.

Karena ulama (orang berilmu) pada masa lalu, adalah mereka yang dikenal dengan karyanya. Karena banyaknya manfaat atas ilmu mereka. Karena tunduknya mereka pada aturan Allah. Karena tawadhu nya mereka.

Pun, jika hari ini ada banyak orang yang menyandang gelar profesor, doktor, magister, bahkan sarjana, tentu sangat hebat. Jika mereka ingin menuliskan-gelarnya pun, tentu tak masalah. Jika mereka memang benar benar memberikan sumbangsihnya, ilmunya mengaliri banyak orang, maka orang-orang yang akan mengenali mereka dengan karyanya. Tanpa menunjukkan diri pun, orang akan tahu, orang akan menghargai. Terlebih lagi, Allah akan mencatat amal mereka.

Lebih jauh lagi, kadang ada orang-orang tanpa ‘gelar’, justru telah memberi lebih banyak kebaikan. Mereka tak lahir dari sekolah yang tinggi, cuma lulusan sekolah rakyat di masa lalu, tetapi ilmunya membuat malu siapa saja. Bahkan mungkin surga merindukannya. Siapa yang sangka?

Ya, sehingga saya berharap jika kelak nama singkat ini harus terjalin dengan sebuah gelar, maka itu adalah gelar yang melayakkan saya menjadi anak sholihah. Melayakkan saya diampuni Allah. Melayakkan saya menjadi pelita bagi umat. Melayakkan saya menjadi ahli syurga. Melayakkan saya menjadi istri sholihah. Melayakkan saya menjadi ummu wa rabatul bait. Melayakkan saya menjadi mata air kehidupan.

Hingga, gelar sejati, ‘almarhumah’, adalah gelar terakhir yang membawa semua pada kenyataan. Pada pertemuan sejati dengan Ilahi, untuk menerima toga ‘kehambaan’, hamba Rabb Yang Maha Tinggi, Pemilik Ilmu Sejati, hingga diizinkan menuju rumah yang terindah. Aamiin.

:)
ini satu sejarah saja 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s