C.A.P[F.U]T.U.R.E

Hadapi hidupmu dengan pilihan pilihan hebat. Tulis, sampaikan, dan perjuangkan!

Pas ikutan training-training motivasi di kampus, katanya impian itu musti ditulis. Kudu juga disampein ke orang-orang biar didoain dan bisa saling menguatkan. Trus, yang terpenting ya kita harus punya: dorongan terbesar kenapa harus mencapai impian itu, paham juga cara mencapainya. Singkatnya begitu. Rupanya di buku-buku motivasi juga gak beda, pun kalo ngambil intisari dari orang-orang sukses. Yeah.

Nah, jadi ceritanya training sudah diikuti, buku sudah dibaca, realitasnya? Aih.

Ehm, ya sejauh ini, setelah saya lihat-lihat lagi, Allah ternyata mengabulkan apa yang pernah saya tuliskan dulu, dulu banget, pas saya lihat itu tanggal saya baru lulus SMU.

Saya tulis, 2013: Lulus Kuliah.

Ya, itu impian saya. Lulus kuliah tepat waktu, dan ternyata saya gak menuliskan “lulus dengan predikat cumlaude”. Hehe, akhirnya ternyata saya memang ga mendapat’cumlaude’ (Bug! Pukul kasur).

Eh, tapi alhamdulillah banget, meleset tipis lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan” πŸ™‚

Well, untuk masalah “Sangat Memuaskan” ini, saya punya cerita sendiri dimana ada 3 pelajaran yang, fiuhhh menguras energi 😦 dan jujur saja, itu lebih karena saya saat itu belum paham ‘cara belajar yang tepat untuk ke-3 matkul itu’, itu saja.

Tapi diluar itu, semua baik baik saja dan saya bersyukur pada Allah. Saya melewati perkuliahan dengan menyenangkan, masih diberi keluangan waktu untuk berorganisasi juga, dan menikmati semuanya.

Di saat yang sama, saya lihat, mahasiswa itu kok ya tersekat-sekat, kalo ga akademisi, ya aktivis. Akademisi yang nggak ngeh persoalan rakyat, taunya ya nilai aja. Aktivis, yang kadang aktif banget di organisasi tapi nilainya amburadul, ini nih yang suka jadi bully-an dosen atau temen-temen. Dan kesyukuran terbesar saya adalah karena saya mengenal Hizbut Tahrir. Saya mengkaji Islam di sana, dan belajar untuk tidak memisahkan ke-dua (atau banyak) pilihan tadi. Saya harus tetap hebat dalam akademik, tapi gak boleh apatis. Saya juga harus tetap belajar yang lainnya. It a must!

Bahkan, saya masih ingat saat mulai penelitian bareng teman saya, Nisa. Kami sama sama berucap, “Meski kita penelitian, kita gak boleh sama sekali menutup diri. Ya udah, penelitian tetap fokus penelitian, tapi kehidupan kita yang lain juga harus tetap kita jalani.” Ini berawal karena banyak banget yang akhirnya merasa, “maaf, saya ga bisa lagi begini, karena harus penelitian”, “maaf, ga bisa kajian dulu, ada ujian akhir”.

Dan balik lagi, hehe… Setelah kini semakin dewasa (ceileeeh, elus leptop), saya belajar untuk menuliskan impian dengan lebih baik lagi. Gak terlambat untuk memulai impian yang lebih hebat. Jika Allah izinkan, semua akan berjalan tho πŸ™‚ , insyaaAllah…

Yang diperlukan sekarang: komitmen dan berani!

Akhirnya, gara gara ini malah nulis di FB, nyolek-in temen-temen nanya impian mereka, hehe… Sendirinya malah belum cerita πŸ˜€

capture life

Capture life 2

Mereka adalah teman-teman saya yang hebat. Saya berdoa agar Allah mengabulkan doa mereka.

Dan…

So, kamu mau jadi apa Arini?

*bersambung*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s