We Need Khilafah Not Democracy!

Saat hari ini kamu keluar rumah dengan seperangkat alat sholat, eh maksudnya seperangkat penutup aurat (kerudung+jilbab+mihnah+kaos kaki) mungkin udah biasa aja. Padahal, berdasarkan cerita dari para pendahulu, dulu itu, orang pakai kerudung (kerudung doang ini loh ya), sudah dianggap ‘eksklusif’ dan ‘aneh’.
Continue reading “We Need Khilafah Not Democracy!”

ngantuk!

Satu dari sekian hal yang semestinya tidak saya lakukan: ini. Ya, ini.
Besok saya harus ujian morfofisiologi serangga.
Tapi saya justru disini.
Curhat kalo saya besok ujian.

Besok ada review jurnal yang harus dikumpul.
Dan saya belum menyelesaikannya.

(menghela nafas)
(mata redup tinggal 5 watt)

#plissadararini
*daah, saya belajar dulu*

*btw, dulu saya merencanakan memiliki sebuah blog dimana cerita di dalamnya hanya saya yang tahu. Tapi dasar, la saya waktu itu belum ngerti kalo ga ada yang tersembunyi di dunia maya. Apapun bisa terkuak. Lah, mau jadi rahasia apaan 😀

Jadilah, ini rumah rahasia yang ga rahasia lagi. Cukup tau. Tau bahwa kadang, ada ‘sedikit’ makna dalam cerita saya. Meski seringnya, curhat belaka.

*just it*
*bye*

*doakan saya*

SUJUDMU, MEMBUATKU MALU

Dalam sujudmu, aku melihat kesungguhan pinta. Dalam doamu, aku merasakan keyakinan harap.

Sudah sejak lama sebenarnya cerita ini ingin saya tulis. Tapi begitulah, belum bersua dengan waktu yang tepat (atau belum menyempatkan?). Dan kalau masalah ‘sempat menyempatkan’ ini diteruskan, maka saya akan kembali ‘tidak sempat’ untuk menuliskan inti cerita nya 😀

“Sujudmu, membuatku malu” adalah sebuah kesan yang saya dapat saat saya dipertemukan dengan seorang teman (atau kakak?). Saya sebenarnya sudah cukup lama mengenalnya, berinteraksi sehari-hari dengannya, bahkan ya sholat berjamaah. Tapi, entah kenapa dan bagaimana, saat disuatu hari berada di sampingnya, dan kala itu ia sedang bersujud, tiba-tiba saja saya terpukau lama, lama sekali. Jujur saya tidak tau apa yang sebenarnya ada di kepala saya, yang jelas tiba-tiba saya iri, iri dengan kebahagiaan dalam sujudnya, dan merasa begitu dekatnya ia dengan Rabbnya.

Ia terlihat tenang dan menawan dalam balutan mukenanya. Perlahan seakan benar-benar berhadapan dengan Raja sebenar-benarnya Raja. Teduh air mukanya, dan isak-perlahannya dalam doa membuat saya benar-benar malu. Ia berharap pada Tuhannya. Ia meminta pada Rabbnya.
Dan saya? Saya merasa tak sesempurna ia (meski ia pun tiadalah sempurna). Saya merasa jauh dari apa yang ia lakukan. Saya merasa kalah.

***
Dan ya, kadang kita (terutama saya, terutama saya), beramal seadanya.
Berdoa seadanya, tapi minta-nya banyak. Dan kalau belum dikabulkan, marah pada Allah.
Sholat seadanya, terburu buru saat dikejar waktu, bahkan lebih parah lagi kalau sempat.
Sedekah infak seadanya.
Puasa seadanya.
Baca al Quran seadanya.
Membantu orang seadanya.
Belajar Islam seadanya.
Dakwah seadanya.
Seadanya, seadanya.

***
Lalu, bagaimana bisa merasakan nikmatnya ibadah jika ibadahnya memang seadanya?
Bagaimana bisa merasakan nikmatnya sujud, jika sujudnya secepat kilat?

Lalu, jika kita masih bertanya, “memang apa pentingnya merasakan nikmatnya sujud? Nikmatnya ibadah? Nikmatnya sholat? Nikmatnya berbicara dengan Rabb?”, berarti mungkin kita memang belum pernah mengecap kenikmatan itu. Sama seperti anak kecil yang baru tahu satu jenis makanan, mungkin baginya makanan itu adalah yang terenak. Padahal, itu terjadi karena dia masih belum tahu apa-apa. Dia belum mengenal makanan lainnya, dia belum mengecapnya.

Sama seperti sebuah tulisan yang menginspirasi saya. Tidak semua yang sholat itu sholat. Tidak semua yang sujud, itu sujud. Semoga menjadi pembelajaran.

***
Ketidaktahuan semestinya membuat kita ‘rakus’ dan mengupayakan dengan sungguh.

Tidakkah ini 'menampar' kita? :'(