SUJUDMU, MEMBUATKU MALU

Dalam sujudmu, aku melihat kesungguhan pinta. Dalam doamu, aku merasakan keyakinan harap.

Sudah sejak lama sebenarnya cerita ini ingin saya tulis. Tapi begitulah, belum bersua dengan waktu yang tepat (atau belum menyempatkan?). Dan kalau masalah ‘sempat menyempatkan’ ini diteruskan, maka saya akan kembali ‘tidak sempat’ untuk menuliskan inti cerita nya 😀

“Sujudmu, membuatku malu” adalah sebuah kesan yang saya dapat saat saya dipertemukan dengan seorang teman (atau kakak?). Saya sebenarnya sudah cukup lama mengenalnya, berinteraksi sehari-hari dengannya, bahkan ya sholat berjamaah. Tapi, entah kenapa dan bagaimana, saat disuatu hari berada di sampingnya, dan kala itu ia sedang bersujud, tiba-tiba saja saya terpukau lama, lama sekali. Jujur saya tidak tau apa yang sebenarnya ada di kepala saya, yang jelas tiba-tiba saya iri, iri dengan kebahagiaan dalam sujudnya, dan merasa begitu dekatnya ia dengan Rabbnya.

Ia terlihat tenang dan menawan dalam balutan mukenanya. Perlahan seakan benar-benar berhadapan dengan Raja sebenar-benarnya Raja. Teduh air mukanya, dan isak-perlahannya dalam doa membuat saya benar-benar malu. Ia berharap pada Tuhannya. Ia meminta pada Rabbnya.
Dan saya? Saya merasa tak sesempurna ia (meski ia pun tiadalah sempurna). Saya merasa jauh dari apa yang ia lakukan. Saya merasa kalah.

***
Dan ya, kadang kita (terutama saya, terutama saya), beramal seadanya.
Berdoa seadanya, tapi minta-nya banyak. Dan kalau belum dikabulkan, marah pada Allah.
Sholat seadanya, terburu buru saat dikejar waktu, bahkan lebih parah lagi kalau sempat.
Sedekah infak seadanya.
Puasa seadanya.
Baca al Quran seadanya.
Membantu orang seadanya.
Belajar Islam seadanya.
Dakwah seadanya.
Seadanya, seadanya.

***
Lalu, bagaimana bisa merasakan nikmatnya ibadah jika ibadahnya memang seadanya?
Bagaimana bisa merasakan nikmatnya sujud, jika sujudnya secepat kilat?

Lalu, jika kita masih bertanya, “memang apa pentingnya merasakan nikmatnya sujud? Nikmatnya ibadah? Nikmatnya sholat? Nikmatnya berbicara dengan Rabb?”, berarti mungkin kita memang belum pernah mengecap kenikmatan itu. Sama seperti anak kecil yang baru tahu satu jenis makanan, mungkin baginya makanan itu adalah yang terenak. Padahal, itu terjadi karena dia masih belum tahu apa-apa. Dia belum mengenal makanan lainnya, dia belum mengecapnya.

Sama seperti sebuah tulisan yang menginspirasi saya. Tidak semua yang sholat itu sholat. Tidak semua yang sujud, itu sujud. Semoga menjadi pembelajaran.

***
Ketidaktahuan semestinya membuat kita ‘rakus’ dan mengupayakan dengan sungguh.

Tidakkah ini 'menampar' kita? :'(

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s