Jujur Gak Ya?

Saya mau cerita sesuatu pagi ini. Tapi jangan berpikiran macam macam dulu ya. Ini mungkin ceritanya ‘biasa aja’, tapi ada sebuah kesan mendalam buat saya pribadi #tsaah

Well, jadi ini tentang kejujuran.

Pertama saya mau nanya dulu deh, jujur itu baik gak? *jawab dalam hati aja*. Udah di jawab? Oke, kalau udah lanjut, ternyata jawaban yang terbanyak biasanya sih, “tergatung”. Nah lo.

Jadi plis gak usah belibet deh ya Arini. Mau bilang apa sih?

Ya, jadi gini, memang ‘jujur’ itu sifat yang melekat pada perbuatan. Perbuatannya apa, barulah disifati jujur itu baik atau gak. Kamu jujur pas ujian, itu bener kan. Tapi, kalau kamu prajurit perang, trus jujur alias membocorkan strategi perang sama musuh, itu o*n namanya 😛

Oke, tapiiii tulisan ini sih bukan tentang jujur pas ujian atau perang. Ini tentang jujur saat kamu dihadapkan pada kondisi begini:

==================================================================

Teman: “Jadi gini, bla bla bla…”

Saya: *dalam hati* “aduh, ada cabe nyelip di giginya

==================================================================

Nah, kondisi ini biasanya itu bikin saya galauuuu. Bagi saya yang cenderung ga enakeun ke orang, saya merasa dalam tekanan banget. Khawatiran…

  1. Kalau saya bilang, ntar bikin suasana ga nyaman deh pasti. Dia mungkin malu. >> Gambaran kondisi: Angin bertiup perlahan, daun kering berterbangan #Swinggg << komik
  2. Kalau saya ga bilang, dan dia bertemu dengan banyak orang, dia akan lebih malu.

Oke, kalau masalah ‘cabe’ saya pernah mengambil pilihan 1 maupun 2. Pilihan 1 karena saya bener bener ga kuat mau bilang. Pilihan 2, karena saya bener bener ga enak kalo dia malu.

Itu kasus Cabe. Kalo kasus ini:

==================================================================

Teman: *sibuk di samping saya*

Saya: *dalam hati* “aduh, bau banget badannya

==================================================================

Pilihannya sama, 1 dan 2.  Bagaimana? Arghhh…

Oke, kita balik dulu ke masa beberapa tahun lalu. Saya punya teman se-kamar di kosan, namanya Rizka, orang orang memanggilnya “Nunu”, tapi saya pribadi lebih sering memanggilnya “Neng Rizka”.

Jadi, saat se-kamar, kami punya kebiasaan untuk terbuka dan saling koreksi. Saat itu, saya merasa nyaman karena ga ada yang ditutup tutupi. Saya bisa mudah jujur, dan saya bisa mudah menerima (saat dikoreksi balik). Kami membangun itu.

==================================================================

Saya: “Neng, cocok gak?” *pas lagi nyocokin baju sama kerudung*

Neng Rizka: “Kurang Neng. Coba ini deh…”

==================================================================

Atau di lain kesempatan, kami juga bisa membahas tentang hal hal spesifik, misal saat beraktivitas banyak. “Aku keringetan nih, bau ya?”, “Gak”, atau “Iya ih”. Btw, kegiatan bertanya macam ini juga sering saya lakukan sama Nisa, dia juga salah satu teman dekat saya < kenalan gih di sini: http://grey-giraffe.blogspot.com/

Intinya, itu menjadi hal yang biasa dibangun. Saya senang.

Lalu, ada satu orang lagi yang ceritanya bisa diambil pelajaran. Seseorang yang menemui saya dalam sepi, dan bertanya.

==================================================================

Seseorang: “Dek, mau gak mba kasih tau sesuatu?

Saya: *ehm, perasaan mulai ga enak*, “Iya mba bilang aja.”

Seseorang: “Arini itu…”

==================================================================

Setelahnya, saya berjuang untuk memperbaiki dan mengubah apa yang tadi disampaikan oleh seseorang tadi.

Jadi, sepanjang kisah barusan, ada beberapa hal yang mungkin harus dipahami.

Pertama, mungkin ada banyak orang yang seperti saya. Seseorang yang tergolong  ‘gampang’ merasa tidak nyaman, atau tipe orang yang ‘gak enakeun ke orang lain’. Sehingga susah untuk mengambil langkah cepat. Jujur, saya lebih sering merasa ‘tertekan’ di banding nyaman. Itulah kenapa mungkin saya punya banyak teman, tapi memposisikan beberapa orang diantara saya sebagai sahabaaaaaat banget. Sahabat yang bikin saya nyaman. Tapi, sejauh ini saya berusaha membangun diri saya agar lebih seimbang. Perasaan itu penting, tapi tak selamanya bisa mengukur dengan itu. Well, saya akan belajar lebih keras.

Kedua, jangan membiarkan orang lain berkubang dalam ‘keburukan’ atau ‘kekurangan’ nya. Cobalah sampaikan, cari cara yang terbaik. Temui saat ia sendiri. Atau gunakan cara yang memang ia terima.

Ketiga, jangan jadi ‘pemukul’. Apa itu? Pemukul adalah orang yang kalo ngomong itu ceplas ceplos kayak ga ngerti perasaan orang. Lagi rame dia langsung aja, “Eh, itu cabe nongol”. Yup, walaupun biasanya tipe ini ga bermaksud buat mempermalukan seseorang itu, tapi saya pikir gak selamanya itu tepat. Sama seperti tindakan saya yang ga selalu tepat. Cobalah posisikan, jika kita berada dalam posisi orang yang kita ingatkan. Apa kita mau?

Just it. Semoga hari ini menyenangkan.

Salam,

Arini

Photo-0407

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s