Kalau Raditya Dika Jadi Anak Ngaji

Di samping saya saat ini tergeletak sebuah buku kumal: dilapisi debu dan ada bekas lipatan di bagian sampul. Saat pertama ketemu (saya menemukan buku ini di bawah ranjang saat sedang membereskan kamar), saya coba tiup debunya dengan pelan sambil merem (kayak adegan pilem dimana buku diary lama ditiup lalu dibuka dan keluarlah seberkas cahaya, tak lama, terbongkarlah segala rahasia bahwa ibunya ternyata adalah ibu temannya dan temannya ternyata adalah kakaknya dan…).

Continue reading “Kalau Raditya Dika Jadi Anak Ngaji”

Muhammad SAW

Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah baginya, bagi laki laki mulia kekasih Allah, Rasulullah Muhammad SAW.

Bukan pertama kali dan (mungkin) bukan menjadi terakhir kalinya penghinaan ini terjadi. Ya, penghinaan terhadap Rasulullah SAW oleh para pembenci Islam. Berganti-ganti memang pelakunya, namun dengan alasan yang sama: kebebasan berpendapat dan berkreasi.

Secara pribadi, saya sebagai seorang muslim mengutuk keras setiap orang yang menghina Rasulullah SAW. Karena membela kemuliaan Islam dan Rasul, adalah bagian dari wujud keimanan. Tapi apa makna satu kutukan, satu kebencian, satu cemoohan dari seorang muslim? Mungkin tidak ada, kecuali Allah menerimanya sebagai bagian dari keridhaan Allah. Continue reading “Muhammad SAW”

There is no title but love

Dan, dan beberapa bait kalimat berikut akhirnya memuara. Meski sebentar sebentar saya tersenyum sendiri membayangkan ekspresi wajah-wajah mereka saat membaca ini (Ya sok iye banget mereka mau baca rin, haha 😛 ).

Hehe, sudah lama memang, bahkan mungkin sejak bertemu pertama kali di September (ceriaaaa, sing), saya ingin menuliskan cerita cerita ini. Namun, rupanya belum kesampaian hingga sampai pada hari dimana isi WA menjadi bermuram durja dengan pesan pesan perpisahan…

Rupanya Dika mau ke Philipina. Katanya mau nyari perempuan berkulit putih. Begitu konfirmasi dari kak Mayanda Lia dan Kak Febrina Herawani :P
Rupanya Dika mau ke Philipina. Katanya mau nyari perempuan berkulit putih. Begitu konfirmasi dari kak Mayanda Lia dan Kak Febrina Herawani 😛

dan diikuti oleh yang berikut ini (-_-)

Habis tu Kak Mee Lye ikutan bikin perpisahan. Cukup tau abdi negara satu ini :)
Habis tu Kak Mee Lye ikutan bikin perpisahan. Cukup tau abdi negara satu ini 🙂

dan yang ini apa? -____________________-

Pesan Aryo Gak Jelas
Dan yang lain ngirim doa dan pesan yang baik, contohnya Kak Rizki (baca: Kak Kidung) > Minta beras. Kalau Aryo? Dasar…permintaannya -__- Fokus Dik, fokus.

 

Dulu, saya begitu tidak menyukai kata ‘berpisah’, ‘ditinggal’ atau semacam itu. Kenapa? Yeah, tinggal di kota (baca: kampung) terpencil dan jauh dari pusat pendidikan, menuntut orang orang untuk pergi jauh demi mengeruk ilmu. Dan begitu pula yang dilakukan oleh kakak dan Abang saya. Dan permulaan itu semua menyakitkan. Saya merasa kehilangan. Teramat sangat. Saya membenci momen menahan tangis saat mereka harus berkemas dan pergi melambaikan tangan. Saya tidak menyukai sepi di rumah (karena tidak ada lagi yang memprotes kebisingan saya, kebiasaan menaruh barang sembarangan, lupa mencuci piring, terlambat sholat, dan seabreg hal yang patut di’cemooh’).

Sampai saat saya yang harus pergi.

Ya, pergi di bulan Juni 2009 menuju Kota Hujan (yang awal dulu memang masih selalu hujan). Dan menjelma menjadi sosok yang serupa bagi adik saya (mungkin). Meninggalkan dan menjadi sosok yang berkemas. Berjalan dan menyisakan punggung untuk dilihat. So, who are you Arini?

 

Dan pada akhirnya saya memahami (meski masih berat jika menemui): perpisahan adalah sesuatu yang mutlak. Manusia hidup, pasti mati.

Pertanyaannya, kita akan berharap dikenang sebagai apa jika perpisahan itu tiba? Dan jikapun tidak dikenang, kebaikan apa yang bisa dipanen dengan ketiadaan kita?

Hidup kita teramat singkat untuk menjadi ‘biasa’ saja. Jadilah yang terbaik, jadilah yang terhebat (bukan sekedar tentang pencapaian, tapi tentang perjuangan) dimanapun kita berada.

Kini mungkin kita ‘hanya’ sebagai seorang siswa, mahasiswa, anak dari orang tua kita, adik dan kakak bagi saudara saudara kita, teman, sahabat, dan mungkin kelak sebagai istri atau suami, atau sebagai pemangku kebijakan, dosen, peneliti, pengusaha, apapun itu, jadilah yang terhebat. Terhebat di mata manusia mungkin, tapi terhebat di mata Allah, itu harus 🙂

Siang ini Pekanbaru panas, tapi entah kenapa sejak kemaren malam terasa sendu saja. Mungkin setelah mengutarakan ini, semua akan menjadi baik kembali.

🙂

Sampai pada suatu ketika, kita akan mengenang kembali masa ini.

*btw ada yang suka nge-blog ga sih? Hehe, kenalan dong :)*

*nanti sambung lagi, nyari bahan dulu*

 

sudut mata

Hei, rencana mengisi libur semester ini akhirnya berakhir dengan beberapa agenda yang diawali hari ini, yes hari ini. Hari yang menjadi hari pertama di Kota Pekanbaru di tahun 2015 ini.  Esok ada agenda padat sok sok merayap (-_-).

1. Ke UNRI mau ngurusin berkas Abah

2. Ke UNRI mau ngurusin berkas Mamak

3. Ke UNRI mau liat liat selagi nunggu berkas Abah dan Mamak beres

4. (siap siap ditimpuk)

5. Ketemu ‘someone special‘: inisial N. Huruf ke-2 U, huruf terakhir H < Jam 15.00>

6. Jalan sama ‘someone special‘: inisial N. Huruf ke-2 U, huruf terakhir H < Setelah jam 15.00, karena jam 15.00 kan baru nyampe, duduk dulu, kan lelah>

Sudah. Mau nulis ini saja. 

ilmu dunia lain

Dunia lain ini bukan ‘…dunia perijin-an…’, bukan ‘…dunia dalam berita (tvri zaman baheula)…’, bukan pula ‘…dunia-mu tanpaku apa jadinya kamu…’ < apa sih yang terakhir alay banget.

Hehe, udah biarin. Mohon dimaafkan dan dimaklumi, mungkin penulisnya sedang tidak sehat 😀 . Jadi apa dong? Jadi jadi jadi…ini cerita tentang dunia maya. Continue reading “ilmu dunia lain”

rentetan

Ada rentetan peristiwa di tahun tahun lalu yang mengantarkan saya pada penghujung Selasa yang dingin ini. Dingin khususnya untuk Bogor yang sudah diguyur hujan sejak kemaren pagi. Meski menikmati suasana begini, terbersit juga rasa kasihan pada teman-teman di kosan yang bolak balik  angkat jemur cucian. Hehe, efek ujian sejak dua minggu lalu, tumpukan pakaian kotor agaknya tak bisa menunggu lagi. Sederhananya, sudah tidak ada persediaan pakaian di lemari, jadi… jadi tebak sendiri lah 😀 Continue reading “rentetan”