rentetan

Ada rentetan peristiwa di tahun tahun lalu yang mengantarkan saya pada penghujung Selasa yang dingin ini. Dingin khususnya untuk Bogor yang sudah diguyur hujan sejak kemaren pagi. Meski menikmati suasana begini, terbersit juga rasa kasihan pada teman-teman di kosan yang bolak balik  angkat jemur cucian. Hehe, efek ujian sejak dua minggu lalu, tumpukan pakaian kotor agaknya tak bisa menunggu lagi. Sederhananya, sudah tidak ada persediaan pakaian di lemari, jadi… jadi tebak sendiri lah 😀

2015 sudah berjalan 13 hari. Di tahun tahun lalu, biasanya momen awal tahun begini akan saya upayakan untuk mencatatkan berbagai resolusi. Tapi awal tahun ini beberapa keadaan membuat banyak hal berbeda, baru. Sehingga, jujur saya tidak sempat menuliskan impian-impian secara rapi. Meski begitu, tentu bukan tak punya harapan harapan baru. Hanya saja, saya baru sempat menuliskannya dalam pikiran dan hati saya.

Ya, rentetan. Saya ingin menamai tulisan ini ‘rentetan’. Entah kenapa dan bagaimana, ada banyak hal yang membuat saya tersadar. Tersadar bahwa ada langkah yang salah. Tersadar akan ada sesuatu yang saya lalaikan.  Tersadar bahwa saya masih belum dewasa. Tersadar bahwa saya masih belum banyak belajar. Tersadar bahwa saya seharusnya bisa lebih baik lagi. Tersadar bahwa kematian tak pernah menunggu. Dan dengan semua rentetan tadi, sejujurnya, lagi lagi saya menggunakan kata jujur, saya merasa ‘sedikit’ lebih dewasa dari sebelumnya. Ya, meski sedikit tapi entah kenapa membuat saya benar benar bahagia.

Setiap orang berproses dan mereka tidak ingin dihakimi.

Itulah yang saya ingin sampaikan. Meski mengucapkan hal ini, bukan berarti saya merasa dihakimi loh ya, hehe. Saya hanya berusaha menangkap kaitan antara ‘proses’ dan dampaknya. Saya hanya berkaca pada apa yang saya lakukan, dan banyak orang yang menghargai proses saya (salah satunya dengan tidak menghakimi saya meski ternyata kadang saya salah) dan berpikir apakah saya telah melakukan hal yang sama pada orang lain yang juga tengah berproses? Kamu dapatkan, kamu berikan, bukan begitu? 🙂

Beberapa kesedihan, membuat saya berpikir lebih baik.

Tapi bukan berarti kesedihan lebih banyak menimpa diri saya loh ya, hehe. Karena, ada banyak kebahagiaan yang Allah limpahkan pada diri saya, banyak sekali, Alhamdulillah. Namun, memang ada satu momen dimana saat saya begitu membutuhkan pertolongan orang lain, saya merasa semua orang juga sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menolong saya. Heleh, emang apaan sih? 😛 *lebay*

Ya, jika dituruti mungkin kita akan merasa kesal dan menyesal dengan apa yang kita lakukan untuk orang lain (jika ada dulunya). Tapi bukankah kebaikan kita memang untuk dilupakan? Hanyak kebaikan orang yang semestinya kita patri untuk dibalas dengan yang lebih baik. Ikhlas. Itukan ilmunya. Ya, sesederhana itu sebenarnya pelajaran dari ‘1’ kesedihan tadi (yang entah layak disebut kesedihan atau tidak, hehe).

Jadi?

Jadi tulisan ini hanya pembuka. Pembuka dimana mungkin, ‘Arini’ barulah yang akan mengisi hari hari kedepan. Bukan ‘Arini’ yang masih berkubang dalam kealpaanya. Tapi ‘Arini’ yang lebih baik lagi, yang lebih hebat lagi (merasa hebat haha *nimpukin kepala sendiri*).

Ohiya, selain urusan pribadi, ada banyak persoalan umat manusia yang juga belum kelar. Lebih lagi persoalan umat Islam. Terakhir kasus Charlie Hebdo, bikin bibir saya terangkat dibagian ujung kiri dan dengusan sebel muncul. Media barat mulai lagi menyebarkan isu yang sesat tentang Islam. Lucunya, mereka mengaku menyebarkan perdamaian. Hhh…

Belum lagi tentang negeri ini yang kian liberal dengan kebijakan kebijakannya. Saya belum berkesempatan nanya langsung sama pendukung penguasa sekarang (=pendukung demokrasi), “Situ masih tetap dukung die sama demokrasinya?”

Dan belum lagi cobaan silih berganti. Dari bencana alam hingga kasus jatuhnya pesawat. Mungkin Allah benar benar ingin menegur kita agar kembali pada aturanNya saja. Aturan yang telah begitu lama ditinggalkan manusia. Tidakkah kita ingat, bahwa penciptaan kita hanya untuk penghambaan padaNya?

Dan yah, semoga setelah ini jalan kemenangan semakin dekat, aamiin…

Dan, alhamdulillah begitu saja tulisannya. Kalau ada makna yang bisa diambil, selamat ya. Kalau enggak, hehe, doakan biar besok besok nulisnya lebih punya makna dalam. *kabur*

Dan berikut adalah kondisi di belakang layar:

1. Ujian masih dua lagi, besok jam 09.00 dan besoknya jam 09.00 juga (lap keringat dingin), doakan saya ya teman-teman :’)

2. Cucian juga menumpuk (mulai berpikir tentang alasan ‘shahih’ melangkahkan kaki menuju laundry)

Hehe, udah. Itu ajah :D.

Dah.

Assalamualaikum…

altAg44kOv-Yv_EhON10qhMqNJ8L1fg9Xk_120140713140148

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s