There is no title but love

Dan, dan beberapa bait kalimat berikut akhirnya memuara. Meski sebentar sebentar saya tersenyum sendiri membayangkan ekspresi wajah-wajah mereka saat membaca ini (Ya sok iye banget mereka mau baca rin, haha 😛 ).

Hehe, sudah lama memang, bahkan mungkin sejak bertemu pertama kali di September (ceriaaaa, sing), saya ingin menuliskan cerita cerita ini. Namun, rupanya belum kesampaian hingga sampai pada hari dimana isi WA menjadi bermuram durja dengan pesan pesan perpisahan…

Rupanya Dika mau ke Philipina. Katanya mau nyari perempuan berkulit putih. Begitu konfirmasi dari kak Mayanda Lia dan Kak Febrina Herawani :P
Rupanya Dika mau ke Philipina. Katanya mau nyari perempuan berkulit putih. Begitu konfirmasi dari kak Mayanda Lia dan Kak Febrina Herawani 😛

dan diikuti oleh yang berikut ini (-_-)

Habis tu Kak Mee Lye ikutan bikin perpisahan. Cukup tau abdi negara satu ini :)
Habis tu Kak Mee Lye ikutan bikin perpisahan. Cukup tau abdi negara satu ini 🙂

dan yang ini apa? -____________________-

Pesan Aryo Gak Jelas
Dan yang lain ngirim doa dan pesan yang baik, contohnya Kak Rizki (baca: Kak Kidung) > Minta beras. Kalau Aryo? Dasar…permintaannya -__- Fokus Dik, fokus.

 

Dulu, saya begitu tidak menyukai kata ‘berpisah’, ‘ditinggal’ atau semacam itu. Kenapa? Yeah, tinggal di kota (baca: kampung) terpencil dan jauh dari pusat pendidikan, menuntut orang orang untuk pergi jauh demi mengeruk ilmu. Dan begitu pula yang dilakukan oleh kakak dan Abang saya. Dan permulaan itu semua menyakitkan. Saya merasa kehilangan. Teramat sangat. Saya membenci momen menahan tangis saat mereka harus berkemas dan pergi melambaikan tangan. Saya tidak menyukai sepi di rumah (karena tidak ada lagi yang memprotes kebisingan saya, kebiasaan menaruh barang sembarangan, lupa mencuci piring, terlambat sholat, dan seabreg hal yang patut di’cemooh’).

Sampai saat saya yang harus pergi.

Ya, pergi di bulan Juni 2009 menuju Kota Hujan (yang awal dulu memang masih selalu hujan). Dan menjelma menjadi sosok yang serupa bagi adik saya (mungkin). Meninggalkan dan menjadi sosok yang berkemas. Berjalan dan menyisakan punggung untuk dilihat. So, who are you Arini?

 

Dan pada akhirnya saya memahami (meski masih berat jika menemui): perpisahan adalah sesuatu yang mutlak. Manusia hidup, pasti mati.

Pertanyaannya, kita akan berharap dikenang sebagai apa jika perpisahan itu tiba? Dan jikapun tidak dikenang, kebaikan apa yang bisa dipanen dengan ketiadaan kita?

Hidup kita teramat singkat untuk menjadi ‘biasa’ saja. Jadilah yang terbaik, jadilah yang terhebat (bukan sekedar tentang pencapaian, tapi tentang perjuangan) dimanapun kita berada.

Kini mungkin kita ‘hanya’ sebagai seorang siswa, mahasiswa, anak dari orang tua kita, adik dan kakak bagi saudara saudara kita, teman, sahabat, dan mungkin kelak sebagai istri atau suami, atau sebagai pemangku kebijakan, dosen, peneliti, pengusaha, apapun itu, jadilah yang terhebat. Terhebat di mata manusia mungkin, tapi terhebat di mata Allah, itu harus 🙂

Siang ini Pekanbaru panas, tapi entah kenapa sejak kemaren malam terasa sendu saja. Mungkin setelah mengutarakan ini, semua akan menjadi baik kembali.

🙂

Sampai pada suatu ketika, kita akan mengenang kembali masa ini.

*btw ada yang suka nge-blog ga sih? Hehe, kenalan dong :)*

*nanti sambung lagi, nyari bahan dulu*

 

Advertisements

3 thoughts on “There is no title but love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s