Muhammad SAW

Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah baginya, bagi laki laki mulia kekasih Allah, Rasulullah Muhammad SAW.

Bukan pertama kali dan (mungkin) bukan menjadi terakhir kalinya penghinaan ini terjadi. Ya, penghinaan terhadap Rasulullah SAW oleh para pembenci Islam. Berganti-ganti memang pelakunya, namun dengan alasan yang sama: kebebasan berpendapat dan berkreasi.

Secara pribadi, saya sebagai seorang muslim mengutuk keras setiap orang yang menghina Rasulullah SAW. Karena membela kemuliaan Islam dan Rasul, adalah bagian dari wujud keimanan. Tapi apa makna satu kutukan, satu kebencian, satu cemoohan dari seorang muslim? Mungkin tidak ada, kecuali Allah menerimanya sebagai bagian dari keridhaan Allah.

Tapi cerita ini tidak berlanjut sampai disini. Kenapa? Karena muslim itu tidak sendiri. Sampai hari ini sejak kasus Charlie Hebdo ini beredar, muslim di seluruh dunia telah bergerak pada satu suara: mengecam pelaku penghinaan Rasul. Mereka bersuara dan menyatukan kekuatan, berteriak bahwa menghina Rasulullah berarti mengusik seluruh umat Muslim di dunia.

Tapi, lagi lagi tapi, apakah kecaman ini juga telah membawa pada satu kesimpulan akhir? Masih belum, jika kesimpulan yang diharapkan adalah: pelaku penghina Rasul itu dihukum. Bahkan, jangankan itu, kecaman yang besar tadi, masih dianggap angin lalu oleh negara negara Barat. Bagi mereka, kebebasan dan hak berpendapat tetaplah di atas segalanya.

Jadi, sia-siakah perjuangan umat Islam tadi? Tidak. Sama sekali tidak. Kini, umat Islam menyadari betapa berbahaya dan merusaknya ide kebebasan yang diusung Demokrasi. Disatu sisi, katanya ‘bebas bersikap’, nyatanya di negeri negeri dimana Islam menjadi minoritas, umat Islam justru didiskriminasi. Pelarangan burqa bagi muslimah, pelarangan sholat, pelarangan membangun menara menara mesjid, dan beraneka pelarangan lainnya. Jadi, dimana kebebasannya? Nyatanya, kebebasan itu hanya untuk mendeskreditkan Islam, menyerang Islam.

Tambah lagi sikap para pemimpin negeri negeri kafir, begitu jelas bersatu untuk menyerang Islam. Saat pembunuhan dan pembantaian dilakukan pada umat Islam mereka diam seribu bahasa, menutup mata dan berkata itu persoalan lokal biasa. Tapi jika pembunuhan terjadi pada 1 atau beberapa orang non muslim (yang mungkin mereka sendiri yang ciptakan) dan (dikabarkan) dilakukan oleh muslim: mereka besarkan berita ini. Mereka menangis dan tampil di tv, berkoar untuk ciptakan perdamaian dunia.

Jadi, jadi kini umat Islam bisa lebih percaya untuk tidak percaya lagi dengan demokrasi dan HAM-nya. Semua dusta.

Dilain sisi, umat akan berpikir bahwa penghinaan ini tidak akan pernah berhenti sampai umat Islam benar benar bersatu dan dilindungi oleh satu kekuatan. Hingga tidak ada lagi yang berani menghina Rasulullah. Ya, dan kekuatan itu hanya dengan tegaknya Khilafah Islam saja.

Tapi, sampai Khilafah itu berdiri maka perjuangan ini masih akan tetap begini. Dakwah menyadarkan umat Islam, bersuara lantang, dan terus menyeru para pemimpin umat untuk kembali pada Islam. Ya, jika lagi dan lagi Rasul kami dihina, kami lagi dan lagi akan bersuara. Jika ‘tusukan’ hari ini belum membangunkan kami, maka ingatlah bahwa artinya tak lama lagi. Tak lama lagi. Tunggu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s