Kalau Raditya Dika Jadi Anak Ngaji

Di samping saya saat ini tergeletak sebuah buku kumal: dilapisi debu dan ada bekas lipatan di bagian sampul. Saat pertama ketemu (saya menemukan buku ini di bawah ranjang saat sedang membereskan kamar), saya coba tiup debunya dengan pelan sambil merem (kayak adegan pilem dimana buku diary lama ditiup lalu dibuka dan keluarlah seberkas cahaya, tak lama, terbongkarlah segala rahasia bahwa ibunya ternyata adalah ibu temannya dan temannya ternyata adalah kakaknya dan…).

Dan… begitulah kondisi buku Marmut Merah Jambu karangan penulis muda, Raditya Dika. Wew, siapa yang punya buku ini? Begitu pikir saya. Saya lepas pegangan saya pada gagang sapu lalu jongkok membaca bagian pengantar dan bab awal, hihihi, cukup menggelitik dan membuat saya punya rencana lebih hari ini: membaca buku ini (meski sudah keluar lama, saya belum membaca buku ini). Selepas selesai beres-beres, saya akhirnya benar benar membaca buku yang wajah penulisnya terpampang di sampul itu. Bagaimana bisa ada orang yang wajahnya saja sudah lucu?

Saya sendiri merasa tulisan tulisan dan ide Radit itu keren. Saya baca baca di blognya (bahkan saat pertama membaca itu, saya belum tau kalau Radit itu banyak penggemarnya). Oh iya, satu hal, meski menyukai tulisan-tulisannya, saya tak pernah membeli buku karangan Radit satu pun. Atau lebih tepatnya, saya juga tidak membeli buku buku penulis lain. Beberapa buku saya baca dari hasil meminjam, diberi sebagai hadiah, membaca di perpustakaan, atau e-book. Ah, tipikal mau gratisan ya? He, tidak juga (tidak terlalu benar, tidak juga salah). Saya pembeli buku yang cukup boros (bisa dibilang begitu), tapi untuk buku buku tertentu, terutama buku untuk kuliah dan buku berbau keIslaman.

Yeah, terlepas saya beli bukunya atau tidak, membeli buku itu bagus dan gak salah. Asal tau prioritas (mungkin waktu itu saya punya prioritas lain yang lebih mendesak), dan dapat menambah ilmu dan amalan kamu. Jadi, punya segudang buku tapi tak mengubah apapun pada diri kamu, itu jadi sia-sia to.

Dan yeah sekali lagi, saya balik ke cerita tentang tulisan Radit dan bukunya. Jujur, saya merasa ide dan tulisannya Radit itu keren. Jika Radit berpikir dan menggambarkan dirinya sebagai tokoh ‘layak ditindas sepanjang masa’, saya justru merasa sejak awal semua bagian dirinya unik.

Satu hal yang sejak awal terpikir: tulisannya bagus karena saya pikir dia mengungkap semua dengan jujur. Dia mengungkap apa yang tidak diungkap oleh orang lain, dan bukankah memang pembaca membutuhkan sesuatu yang ‘baru’ seperti itu? Dan apa yang dia ungkap adalah sesuatu yang jujur (dia tidak merasa itu hal memalukan (mungkin ya), tidak menjaga imej-nya, bahkan dia mampu menggambarkan dirinya sangat ‘hina’). Unik bukan?

Saya coba bandingkan dengan diri saya. Saya tidak pernah menceritakan apapun tentang diri atau kehidupan apapun secara nyata dan terbuka apa adanya. Tapi bukan berarti saya menceritakan hal bohong loh ya. Mungkin lebih tepatnya, saya merasa selalu ada yang saya ‘jaga’ saat bercerita. Entah itu maknanya, ataupun aib aib yang cukup diketahui sendiri. Dan sejauh ini, tulisan saya memang baru sebatas ini.

Tapi saya tak tertarik untuk mengikuti langkah Radit meng-ekspos ‘kedunguan masa lalu’ atau‘aib aib’ nya itu agar tercipta tulisan yang keren, sama sekali tidak. Bagi saya, ke’sukaan’ saya pada Radit (atau orang orang terkenal lainnya) itu cukuplah untuk membawa saya pada satu titik tertentu saja: teruslah berupaya dengan apa yang belum diupayakan oleh orang lain. Unik. Kreatif.

Dan inti dari tulisan ini (ehm bukan review buku Marmut Merah Jambu ya) sederhananya adalah meski tulisan Radit itu keren, tetap saja apa yang dia sampaikan perlu kita padankan dengan pedoman hidup kita. Islam.

Ya, dan secara pesan, ada banyak gaya hidup yang bukan berasal dari Islam yang disampaikan Radit dalam buku buku atau materi stand up comedy-nya. Ide pacaran (yang memang menjadi ide besarnya), putus cinta dan mengejar gebetan, nembak cewek, dan semua hal berbau cinta-cinta anak masa kini. Semua itu, bukan dari Islam dan bukan sesuatu yang layak untuk dijadikan pembelajaran. Bahkan mungkin banyak bermunculan pejuang-pejuang cinta nan galau gara-gara membaca kisah-kisah yang diceritakan oleh Radit dan mereka kebanyakan adalah anak-anak muda.

Dan itulah bahayanya. Ide besar yang unik mampu membuat sebuah arus besar di masyarakat (meski bagi Radit dia tidak merasa menciptakan sebuah opini besar). Sayang sekali jika idenya itu ‘sebatas’ cerita tentang ‘kegalauan anak muda tentang cinta’. Karena ada banyak sekali kisah kisah heroik dalam Islam tentang anak-anak muda yang jauh dari sekedar galau karena ‘cowok cewek’.

Jadi, jadi semestinya harus banyak anak-anak muda yang menciptakan ide kreatif agar mengubah opini di masyarakat. Mengubah masyarakat menjadi mengamalkan Islam secara kaffah. Mengubah perempuan perempuan Islam menjadi nyaman dan ikhlas menutup aurat, membuat pacaran tidak trend dan anak SD SMP SMA justru merasa kalau ‘nggak ngaji nggak gaul’, membuat dakwah Islam menjadi sesuatu yang membanggakan, membuat kebiasaan menghapal Al Quran lebih kece dibandingkan menyanyi lagu secara berterusan. Dan usaha ini jauh harus lebih kreatif dan unik.

Mengubah masyarakat menjadi mengamalkan Islam secara kaffah. Mengubah perempuan perempuan Islam menjadi nyaman dan ikhlas menutup aurat, membuat pacaran tidak trend dan anak SD SMP SMP justru merasa kalau ‘nggak ngaji nggak gaul’, membuat dakwah Islam menjadi sesuatu yang membanggakan, membuat kebiasaan menghapal Al Quran lebih kece dibandingkan menyanyi lagu secara berterusan. Dan usaha ini jauh harus lebih kreatif dan unik.

Banyak orang yang saya kenal merasa setelah mereka ngaji (belajar Islam) maka segala hobi dan kesukaannya ya cuma seputar sesuatu yang berbau ngaji. Bener memang dan harusnya begitu. Cuma, apa terus kita tidak bisa mengambil sesuatu terhadap orang yang tidak ngaji? Seperti tentang Raditya Dika tadi. Bagi saya, kita bisa mengambil makna jika kita mau, hanya saja, apa panduan kita dalam memahami makna tadi? Itu yang penting. Dan tentu saja, itu bukan panduan mutlak. Karena panduan hidup ya Al Quran dan Sunnah Rasulullah 🙂

Jadi, balik lagi, kalau Raditya Dika jadi anak ngaji gimana? Alhamdulillah, saya pasti bahagia banget. Lah? Lah, ya iya karena dia kan keren ide dan tulisannya, kalau digunakan untuk menyebarkan ide Islam kan bagus banget. Dan karena hidayah datang dari Allah, saya berdoa, biar Radit dan semua orang yang saya senangi jadi anak ngaji yang sholeh sholehah, pejuang agama Allah, aamiin…:)

Semangat berjuang :)
Semangat berjuang 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s