Tiket!

“Jadi tiketmu pulang lusa malam?”

Suara ayah memecah lamunanku. Menggangguk, ku tatap ayah. “Iya, mendadak ada yang harus kuselesaikan segera Yah”.

Ayah kemudian menegaskan bahwa tak mengapa kalau aku harus buru-buru pulang jika memang ada hal penting, aku mendengus berkali kali menyesalkan sikap bosku.

“Aku masih mau disini, kangen…”

***

Lusa malam bukan waktu yang lama untuk dituju. Sejak pagi ibu sibuk menanyakan apakah kue buatannya sudah disimpan di koper, apakah aku sudah menyimpan tiket di saku tas, dimana aku menyimpan dompet, dan pertanyaan lainnya.

“Ibu ga bisa tidur lagi nanti malam, sms segera kalau sudah tiba ya Nak.”Aku terkikik perih. Kukeraskan suaraku, menyuruh ibu untuk tetap tidur.

Ayah sembari menonton siaran berita cuma mengingatkanku untuk men-charge hp. Ku bilang sudah, dan ayah diam.

***

Lampu taman yang menyinari halaman rumahku tampak kian redup, menjauh. Ku luruskan tubuhku ke depan, mengalihkan pandangan dari jalan. Baguslah bangku di kananku kosong, aku merasa lebih nyaman.

***

Pukul 01. 15 WIB aku terbangun. Masih lima jam lagi perjalanan. Kusikap tirai jendela bus, tampak kaca nya telah berhias tetesan air.

Dadaku mendadak sesak. Tumpah, pipiku basah sekarang.

“…aku belum mau pergi…”

***selesai***

Selamat memahami makna kehidupan Arini.

Di tanggal 27 Februari tahun 1991, kau hadir di dunia. Menyeruak menambah sesak, hehe…

Perjalananmu kian hari menuju pengambilan ‘jadwal tiket pulang’. Sudahkah kau selesaikan yang harus kau selesaikan? Sudahkah kau perbaiki apa yang harus kau perbaiki? Sudahkah kau tunaikan apa yang harus kau kerjakan?

Tiketmu sudah ada. Seberapa lama lagi? Atau seberapa dekatkah?

 

Salam sayang,

 

Arini

 

Hai hai :D
Hai hai 😀
Advertisements

Tikus!

Bunyi mencicit anak-anak tikus sudah cukup membuat saya terbangun dini hari tadi. Irna_teman satu kamar saya_tampak juga menggumam kecil karena ia ternyata sulit tertidur, juga karena suara suara makhluk tadi.

Memang, sejak liburan usai beberapa minggu lalu, saya dan Irna mendapati persoalan yang serius di kamar. SERANGAN KELUARGA TIKUS. Rasanya ketika menyebutkannya, saya ingin sekali berteriak. Bagaimana tidak? Bayangkan, saya sudah mencuci lemari (lemari plastik) hingga tiga kali. Oh, bukan hanya lemari nya tentu saja, tapi juga pakaian dan segala gala gala yang ada di dalamnya. Aaaaaa…

Kenapa dicuci? Ah, bagaimana caranya saya mengatakan bahwa selain keluarga tersebut menumpang tidur (atau mereka merasa itu rumahnya?), tentu saja mereka juga meninggalkan sejenis sisa metabolisme yang disebut urine dan feses. Dan rasanya tak perlu mengatakan bahwa itu BAU kan? 🙂

Well, akhirnya saya dan Irna memutar otak mencari berbagai cara. Mulai dari membongkar segala yang di kamar, membersihkannya, dan mengubah letak barang-barang. Hingga kami memastikan tidak ada lagi tikus itu. Dan benar saja, kami puas saat melihat seekor tikus meloncat kaget dan kabur lewat jendela.

Yes. Tentu puas rasanya memastikan sudah tidak ada lagi makhluk itu di tempat kami tinggal ini. Tapi siapa sangka itu semua belum berakhir.

Suatu malam, saya kembali terbangun dan menyaksikan adegan yang tak selayaknya terlihat. Seekor ibu tikus (atau ayah tikus) sedang menginjak pakaian yang ada digantungan baju. Aaah, disini kadang saya merasa sedih (korban meme mode:ON).

Si tikus tampaknya tak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan. Saya sengaja tak bergerak dan menatapnya dari kejauhan. Sampai saya akhirnya mendapati bahwa ada lubang kecil yang menjadi pintu masuk tikus itu. Ya ampun, jadi disitu kuncinya.

Akhirnya saya putuskan untuk bangun dan si tikus kaget lalu keluar melalui lubang kecil tersebut. Dan yup, saya bergegas mencari semacam benda yang bisa menutupi lubang tadi. Saya temukan sebuah selotipe (nulisnya gini?) besar, dan saya tutup lubang itu. Hufttt dengan berapi api saya mengerjakannya. Tapi karena lubang itu posisinya cukup tinggi, saya sampai menjinjit jinjit, agak sulit juga. Akhirnya Irna yang sedang tertidur, bangun dengan mata masih mengantuk. “Sini Mba, sama Irna aja”. Ehe he he…mungkin yang mengganggu Irna bukan hanya tikus, tapi sikap heboh saya 😀

Akhirnya, saya bisa berpuas setelah esok malamnya saya mendapati keluarga itu heboh mendorong tempelen selotipe. Yup, mereka tidak bisa masuk lagi (sejauh ini).

Kadang, ada banyak hal yang kita perbaiki di dalam diri kita. Membersihkannya, merapikannya. Tapi kita lupa ada celah yang kita tidak kenal. Dan disanalah kadang justru lahir berbagai hal yang tidak kita sangka. So, semakin kenalilah diri kita.

Salam,

Arini (dan tikus)

Ini saat praktikum Vertebrata Hama. Lagi nge-belek Tikus :D
Ini saat praktikum Vertebrata Hama.
Lagi nge-belek Tikus 😀