Aku Positif!

Sudah beberapa kali sebenarnya jemariku menyentuh keyboard, me-nari-kannya, hingga menghiasi layar putih di hadapanku. Tapi beberapa kali pula semua hanya singgah dan mengisi antrian draft. Dan sejauh ini, jika tulisanku gak beres sekali, berarti itu gak jadi. Jadi, supaya ga mubazir (nyungsep di draft lagi), kuputuskan malam ini harus jadi satu. Satu pokoknya mah. Continue reading “Aku Positif!”

Protes!

Al A’raf: 86

“Dan janganlah kamu duduk di tiap tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok…”

Al A’raf: 87

“Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita, dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.”

Apa itu protes?Apa kah ada yang mendengar?Apakah ada yang peduli?Apakah ada yang ingin membenahi?

Jika protes itu bagian dari hidup, maka anggaplah ini hidup.

Jika mendengar adalah fungsi dari telinga, gunakanlah.

Jika peduli terikat dengan kelebihan manusia, maka tunjukkanlah.

Jika berbenah adalah wujud kesadaran, mengapa tak sekarang?

***

Negeri ini mengajarkan untuk menerima. Ridho pada penguasa.

Tapi kami tahu bahwa penguasa masih dikuasai oleh Pencipta.

Negeri ini tak terima jika perbedaan masih dibuat jalan bertengkar.

Tapi kala yang mayoritas berbuat, dianggap berat, sudah sudah, terlalu mengikat.

Bah!

Maka, jangan bicara keadilan dan penerimaan.

Jika kami tak bisa memilih apa yang kami maui.

***

Maka jauh dari itu.

Kami tak sandarkan keadilan dari apa yang kami pikirkan.

Kami tak buat aturan berdasar apa yang kami inginkan.

***

Maka dari itu, kami ajak untuk terapkan aturan.

Aturan Hakim yang Maha Adil.

Tuhan pencipta kami dan kalian.

Allah.

***

Protes!

Semua Tak Mudah

Amir menghentakan kakinya sambil berbalik badan. Sesaat aku bisa melihat bibir mungilnya mengerut. Meski tak kudengar bunyi pintu kamar di banting, tapi aku tahu pasti Amir ada di sana.

***

“Mungkin sebaiknya kau fokus dulu pada kuliahmu Mey”, siang itu Teh Ima membujukku kembali. Aku paham kenapa Teh Ima bersikukuh memintaku berhenti bekerja. Ia tahu gajiku tak seberapa, ia juga tahu betapa beratnya ‘pekerjaan’ku ini.

“Mey akan berhenti Teh, tapi bukan sekarang.”

“Kau masih mau mengurus anak itu?”

“Amir. Dia punya nama”, sedikit kesal ku keraskan suaraku.

“Ya, Amir, atau siapalah”, Teh Ima diam dan menarik nafasnya, “Tapi kau membuang waktumu Mey. Oke, Teteh paham, kau merasa punya tanggung jawab. Amir senang padamu, menurut padamu. Tapi apa yang bisa kau lakukan lagi? Bahkan orang tuanya tak pernah menjenguknya kan? Mereka meninggalkan Amir di sana”, kini Teh Ima menatapku lekat. Aku bisa merasakan ia mencoba menahan diri, pekikan kesalnya sekarang berubah jadi bisikan lirih.

“Mey, begini saja…”

“Mey tahu rasanya ditinggal sendiri, Teh. Dan itu lebih dari sekedar cukup bagi Mey untuk tidak meninggalkan Amir.”

***

"Aku tahu menangis tak membuat jendela ini lebih lebar. Aku tak akan menangis."
‘Aku tahu menangis tak membuat jendela ini terbuka lebih lebar. Maka aku tak akan menangis lagi‘ (Dari Kak Mey untuk Amir)

Palu!

Cerita berikut ini saya tulis di akhir tahun 2010. Sebuah curahan hati? Ehm, saya sendiri lupa apa ini kisah nyata atau bukan. Tapi yang paling saya ingat adalah komentar teman saya saat cerita ini saya boyong ke hadapannya.

“Cerita apaan sih ini? Nggak ngerti”. 

Gedebuk. Plak. Bret. Ada palu menghantam dinding rumah. Kala itu sontak kutatap dia dengan tatapan membunuh. Tapi yang ada dia cuma melengos dan meninggalkan aku yang membeku. Heleh.

Setelah kasus ini, aku tak pernah lagi memintanya membaca ceritaku.

Hahaha, apa ini? Dendam?

Nggak.

Terus?

Dia pindah kosan.

Jih.

———————————————————————

15 November 2010

Aku jatuh cinta. Wajahku memanas saat memikirkan kalimat itu. Kata-kata yang terlalu lugas untuk menggambarkan sesuatu yang bahkan aku tak mampu mendefinisikannya. Tapi kalimat itu bagiku tepat. Teramat tepat. Tak ada yang mencela, menyalahkan, ataupun sekedar mengomentari, tentu saja. Aku mengakuinya pada hati. Cukuplah.

16 November 2010

Malam menghadirkan kesunyian. Setelah kemarin jatuh cinta, kini masih terasa sama, Meski merasa ini konyol, tapi pembenaran boleh terjadi toh. Ya, proses pembenaran. Kunci bagi orang-orang seperti diriku, yang sok tahu tentang cinta. Tapi tak apalah, toh cuma hatiku yang tahu.

17 November 2010

Cinta ternyata menghabiskan banyak hal dalam hidupku, setidaknya dalam dua hari ini. Ia menguras energiku untuk berpikir. Jujur, aku memang terus berpikir, hanya tentang satu hal sebenarnya. Bolehkah? Tidak, tunggu, masih ada lagi. Wajarkah? Mungkinkah? Tidak, tidak, masih ada. Kenapa mesti jatuh cinta? Kenapa mesti dia? Aku harus bagaimana?

Ergh…, terlalu rumitkan? Aku hanya merasa jatuh cinta dua hari yang lalu. Jatuh cinta pada seorang manusia, ya manusia sepertiku. Tapi kenapa rumit? Apa cinta yang menyapaku berbeda dengan cinta yang ada pada teman-temanku. Jatuh cinta, ungkapkan, selesai. Aku sudah teramat pusing, padahal belum tentu yang kurasakan adalah cinta? Solusi, dimana engkau?

18 November 2010

Hari ini ada satu peningkatan. Aku berharap melihatnya. Lengkaplah kebodohanku. Sementara solusi belum kutemukan. Jangan menertawakan kebodohanku, teman. Cukuplah hatiku yang berkhianat. Tak memberi jawaban, padahal hanya ia yang kupercaya untuk semua kisah ini. Kau tak bangga mendapat kepercayaanku, wahai hati?

19 November 2010

Tadi kali kedua aku melihatnya. Hanya melihat, ya hanya melihat. Tak lama. Tak ada bicara. Ketika itu hatiku hanya diam. Hanya diam dan itu jawaban, teman. Dengan diam, hatiku menyuarakan ribuan jawaban, menyuarakan jutaan alasan, namun menyuarakan satu kesimpulan. Dan semua berakhir, kuputuskan begitu.

 

 

Terima kasih karena telah menginspirasi. Hatiku tak memberi kesimpulan untuk membencimu.

Segelas Kopi!

Pahit. Dengan sedikit kernyitan kesal Ara menjauhkan gelas kopiku. “Kau bilang ini enak?”

Aku terkikik, “Aku tahu dari membaca di buku, menonton di televisi, mendengar dari berbagai orang yang kutemui.”

“Apa? Bahwa kopi itu enak?”, Ara memainkan alis dan bibirnya.

“Bukan. Bahwa mereka penyuka kopi.”

“Tapi tadi kau bilang kopi itu enak. Jadi kau menyimpulkan sendiri?”

“Apa ada alasan selain enak yang membuat kita suka?”

“Ah, tentu saja. Aku bisa berpura-pura suka dengan permainan baru yang dibawa teman-temanku di sekolah, padahal aku tak suka sama sekali”, Iuh, permainan macam apa itu?, “tapi aku tersenyum dan mengatakan aku suka, bisa saja kan?”

Sekarang Ara tersengal-sengal. Ini kalimat terpanjangnya sepagian ini.

“Karena itu aku baru tahu tentang seseorang yang begitu membenciku. Padahal dulu ia tersenyum setiap bertemu. ”

Ara mengangkat kepalanya. Ia menatapku.

“Rupanya senyum tak selamanya semakna dengan pemahamanku.”

“Aku tak bermaksud_kau tau maksudku Na”, Ara tergagap.

Tersenyum ku tatap Ara, “Aku hanya tak bisa mengerti. Betapa mungkin dulu, di belakang, mereka menertawakan ku.”

Ara diam.

“Tapi aku tak menyesal meyakini hal ini Ra. Karena berpikir baik tentang mereka adalah pilihanku. Dan berbohong, adalah pilihan mereka.”

***

*senja di Kaligiri, Brebes*
“Manusia berhak menentukan makna atas segala sikap mereka, karena siapa yang tau isi hati seseorang? yang ingin ku lakukan adalah aku berbuat baik pada siapapun, terlepas pada apa yang akan mereka berikan padaku” *Nadia*