Aku mah apa atuh!

Sebuah ungkapan guyonan di atas memang lagi tren trennya ya. Terutama sih di kampus. Kalimat ‘merendah’ yang kalau dilontarkan biasanya akan membuat suasana menjadi lebih cair. Saking cairnya, apa apa jadi guyonan. Halah.

Ngomong-ngomong tentang cair, ini ada sebuah pengalaman yang mungkin dialami juga oleh teman-teman. Meski mungkin dengan versi yang berbeda.

***

Cerita ini bermula saat saya mendapatkan pengakuan dari beberapa teman saya yang mengungkapkan bahwa ‘Arini itu menyeramkan’.

“Kupikir kamu itu dulu serem banget Rin.”

(hening)

(masih hening)

(hening terus)

“Iya rin, pas awal kenal kamu, anggapanku kamu itu menyeramkan loh”.

“Oh iya? Terus sekarang?”

“Iya, bener.”

“Lah?”

“Hehe, nggak. Nggak se-menyeramkan yang dibayangkan. Kadang-kadang iya, untuk hal-hal tertentu. Tapi sejauh ini ya sama aja kayak orang lain. Maksudku, ya berteman la la la la nya”

***

Well, kadang apa yang kita ‘kenakan’ menjadi jalan bagi orang lain untuk menilai diri kita. Saya sendiri juga gitu. Kalau ada yang datang ke depan saya seseorang yang pake anting di telinga, tato dimana-mana, celananya robek, rambutnya merah hijau kuning, jarinya menjepit rokok, otomatis saya akan merasa ‘oh ini orang mungkin ga bener’. Walaupun pada akhirnya ternyata dia mau ngembaliin pulpen saya yang jatuh.

Kalau ada yang datang dengan pakaian rapi, rambut disisir, senyum diwajahnya (eleh), sepatu meng-kilap, dan mengucapkan salam, mungkin saya akan merasa, ‘oh, mungkin ini orang baik’. Walaupun ternyata dia ‘tukang’ M*M yang lagi nge-prospek orang, atau kalo gak ternyata mereka adalah penipu yang punya komplotan di belakangnya, saat kita lengah, mereka masuk ke rumah dan ambil barang-barang (korban cerita perampokan MODE:ON)

Itu yang pertama. Itu yang dinilai.

Persoalannya adalah, kenapa perempuan dengan tubuh yang tertutup dengan jilbab dan kerudung double-an, plus kaos kaki, dianggap menyeramkan pada awalnya?

Mengapa?

Mungkin karena begitulah opini kebanyakan. Media sendiri senang sekali menggambarkan dan mengaitkan kasus terorisme dengan seseorang yang mencirikan ‘Keislaman lebih’. Walhasil, terbentuklah di benak orang-orang_termasuk orang Islam_bahwa mereka yang terlalu fanatik dengan Islam itu ‘mengandung sesuatu yang membahayakan’.

Game of naming. Begitu katanya. Islam kanan, radikal, fundamentalis, ekstrimis, lekat dengan ‘mereka jahat’.

Dan siapa yang membuat istilah itu? 🙂 You know-lah.

***

Saya sih tidak serta merta marah pas dibilang diri saya menyeramkan. Tapi saat dikaitkan Islam itu ‘menyeramkan’, disini saya tentu gak terima. Sebagai pribadi, saya tentu banyak salahnya. Tapi Islam, tidak.

Saya mungkin memang pernah ketus, wajar dianggap menyeramkan.

Saya mungkin jarang senyum, wajar dijauhi.

Karenanya, sebagai pribadi, seorang muslim semestinya kian hari kian memperbaiki diri. Dikritik, bukan marah, tapi introspeksi. Dinasehati, bukan membela diri, tapi rendahkan hati.

Tapi sebagai muslim pula, saat Islam dihina, wajib marah. Tapi marahnya bukan main gebrak senggol bacok. Tapi sampaikan dengan baik kepada mereka yang belum memahami Islam itu, tentang Islam yang sesungguhnya.

Umar r.a saat belum masuk Islam adalah seseorang yang amat besar kebenciannya pada Rasulullah dan Islam. Tapi saat ia mengenal Islam, betapa ia menjadi orang yang amat keras pembelaannya pada Islam.

Ingatkan saja. Sampaikan saja.

***

Saat saya dianggap menyeramkan dengan pakaian ini, saya sampaikan bahwa pakaian seorang perempuan muslim yang sudah baligh saat keluar rumah adalah dengan pakaian rumah (mihnah)+jilbab (baju kurung terusan, gamis longgar)+kerudung sampe ke dada (gak transparan)+kaos kaki karena bajunya kan belum nutupin kaki.

Dan semua itu ada landasannya dalam Al Quran. Kalau masih dianggap menyeramkan, berarti mengganggap Al Quran dan Allah itu menyeramkan dong? Hayooo, berani gak? 🙂

Pada akhirnya, ada juga yang menerima dan mengganggap saya ‘tidaklah menyeramkan’ meski itu melalui proses dan waktu yang lama. Apalagi hari ini, saat geliat kebangkitan Islam makin nampak, makin banyak muslimah yang sadar bahwa dengan aturan Islam, mereka justru dimuliakan.

Pakaian terbuka nan seksi tak akan membawa arti apa-apa, kecuali kehinaan di hadapan Allah, dan mungkin dilecehkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Dan laki-laki yang baik tentu tak menyukainya.

Aturan Islam itu memuliakan. Begitu bukan?

***

“Arin, terus kamu pernah suka gak sama orang?”

(hening)

(masih hening)

(hening lagi)

“Pernah (musik mengalun sendu).  “Pas waktu aku suka sama dia, dia rupanya punya pacar.”

(hening)

(masih hening)

(hening lagi)

“Sabar ya Rin.”

***

“Kok kamu tiba-tiba nanya gitu?”

(hening)

“Jangan-jangan kamu mikir aku gak normal?”

(hening lagi)

“Kamu…”

“Sabar rin, Allah kan memerintahkan untuk sabar”

***

Justru hal yang paling ingin saya lakukan adalah membawa keceriaan bagi orang lain. Meski kadang gak tepat :D
Justru hal yang paling ingin saya lakukan adalah membawa keceriaan bagi orang lain. Meski kadang gak tepat 😀
Advertisements

7 thoughts on “Aku mah apa atuh!

    1. Hai, terima kasih sudah mampir. Tentang istilah2 itu, memang sengaja dibuat oleh pihak2 yang tak menyukai Islam. Istilah itu sudah ada, cuma pemaknaannya yang dibuat makna ‘baru’ yang justru melenceng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s