Segelas Kopi!

Pahit. Dengan sedikit kernyitan kesal Ara menjauhkan gelas kopiku. “Kau bilang ini enak?”

Aku terkikik, “Aku tahu dari membaca di buku, menonton di televisi, mendengar dari berbagai orang yang kutemui.”

“Apa? Bahwa kopi itu enak?”, Ara memainkan alis dan bibirnya.

“Bukan. Bahwa mereka penyuka kopi.”

“Tapi tadi kau bilang kopi itu enak. Jadi kau menyimpulkan sendiri?”

“Apa ada alasan selain enak yang membuat kita suka?”

“Ah, tentu saja. Aku bisa berpura-pura suka dengan permainan baru yang dibawa teman-temanku di sekolah, padahal aku tak suka sama sekali”, Iuh, permainan macam apa itu?, “tapi aku tersenyum dan mengatakan aku suka, bisa saja kan?”

Sekarang Ara tersengal-sengal. Ini kalimat terpanjangnya sepagian ini.

“Karena itu aku baru tahu tentang seseorang yang begitu membenciku. Padahal dulu ia tersenyum setiap bertemu. ”

Ara mengangkat kepalanya. Ia menatapku.

“Rupanya senyum tak selamanya semakna dengan pemahamanku.”

“Aku tak bermaksud_kau tau maksudku Na”, Ara tergagap.

Tersenyum ku tatap Ara, “Aku hanya tak bisa mengerti. Betapa mungkin dulu, di belakang, mereka menertawakan ku.”

Ara diam.

“Tapi aku tak menyesal meyakini hal ini Ra. Karena berpikir baik tentang mereka adalah pilihanku. Dan berbohong, adalah pilihan mereka.”

***

*senja di Kaligiri, Brebes*
“Manusia berhak menentukan makna atas segala sikap mereka, karena siapa yang tau isi hati seseorang? yang ingin ku lakukan adalah aku berbuat baik pada siapapun, terlepas pada apa yang akan mereka berikan padaku” *Nadia*

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s